Rasakan Lezatnya Mi Bakso Mas Lardi Tasikmalaya Hanya 5000!

Rasakan Lezatnya Mi Bakso Mas Lardi Tasikmalaya Hanya 5000!
Rasakan Lezatnya Mi Bakso Mas Lardi Tasikmalaya Hanya 5000!

Di tengah melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, menemukan kuliner murah meriah tentu menjadi kabar menyenangkan. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, masih ada seporsi mi bakso yang dibanderol hanya Rp 5.000. Harga yang fantastis ini ditawarkan oleh seorang pedagang bakso keliling bernama Sulardi.

Mi bakso, kuliner khas Tasikmalaya yang biasanya dihargai minimal Rp 10.000 per porsi, menjadi istimewa berkat Sulardi yang tetap mempertahankan harga “goceng” atau Rp 5.000 untuk setengah porsi.

Bacaan Lainnya

Mi Bakso Goceng: Sensasi Kuliner Murah Meriah di Tasikmalaya

Gerobak sederhana milik Sulardi mudah ditemukan. Pada jam sekolah, ia berjualan di depan SD Pengadilan, Jalan Tarumanagara, Kota Tasikmalaya. Sementara menjelang sore, ia berpindah ke halaman eks Kantor Damri Tasikmalaya.

DetikJabar sempat mengunjungi gerobaknya dan memesan mi bakso “goceng”. Sulardi dengan cekatan menyiapkan pesanan hanya dalam waktu kurang dari dua menit.

Seporsi mi bakso Rp 5.000 terdiri dari dua butir bakso ukuran sedang, lima butir bakso kecil, mi, sayuran, dan kuah panas yang gurih dan pedas berkat tambahan sambal. Tekstur baksonya kenyal, meski tidak terasa citarasa daging sapi.

Rahasianya? Sulardi menggunakan daging ayam sebagai bahan baku baksonya. “Kalau pakai daging sapi, ya nggak terkejar harganya,” ujarnya.

Strategi Bisnis di Balik Harga Murah

Menjual bakso dengan harga Rp 5.000 tentu minim keuntungan, terutama di tengah kenaikan harga bahan pangan. Namun, Sulardi memiliki strategi tersendiri.

Ia fokus pada kuantitas penjualan dan berharap keberkahan dari usahanya. “Memang minim untung, tapi kalau banyak yang beli, kerugian bisa ketutup,” jelasnya.

Tak semua pembeli memesan porsi Rp 5.000. Biasanya, hanya anak sekolah dan pembeli tertentu yang memilih opsi hemat ini. Sementara porsi lengkap dijual seharga Rp 10.000.

Sulardi mengaku bersedia melayani pembeli dengan harga “goceng” karena kepeduliannya terhadap anak-anak sekolah dan pengemudi ojek online (ojol) yang ingin menikmati mi bakso.

Tantangan Bisnis di Tahun 2025 dan Kisah di Baliknya

Tahun 2025 menghadirkan tantangan tersendiri bagi Sulardi. Ia mengaku mengalami penurunan omset dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi serupa, katanya, juga dialami pedagang mi bakso lainnya.

Meski demikian, Sulardi tetap optimis dan bersyukur masih bisa berjualan. Ia akan terus menekuni usaha yang telah menjadi penopang hidupnya.

Salah seorang pembeli, Kristian (28), mengakui harga mi bakso Sulardi sangat murah. Namun, ia biasanya memesan porsi Rp 10.000 karena merasa lebih kenyang.

Kristian sering menjadikan mi bakso Sulardi sebagai menu makan siang, bahkan seringkali menambahkan nasi untuk semakin mengenyangkan.

Kisah Sulardi dan mi bakso gocengnya menjadi bukti bahwa di tengah kesulitan ekonomi, masih ada celah untuk berkreasi dan tetap bertahan dengan mempertahankan harga terjangkau bagi masyarakat.

Keberhasilan Sulardi juga mengingatkan kita akan pentingnya nilai keberkahan dalam berbisnis, di luar keuntungan semata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *