Lumbung Berita
NEWS TICKER

Grup Karawitan Karno Laras Jerukpurut: Satu-Satunya di Pasuruan yang Beranggotakan Anak-Anak

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 9:00 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Musrenbangdes di Desa Jerukpurut, pada Rabu lalu (24/8/2022) terasa berbeda. Semua yang terlibat di dalam nya memakai pakaian kerajaan. Terkecuali tamu undangan.

Tak hanya pakaian, suasana kerajaan makin kental dengan iringan musik karawitan. Perpaduan suara gamelan dengan sinden membuat Musrenbangdes terasa etnik.

Yang membuat istimewa, para pemain gamelan semuanya masih anak-anak. Rata-rata berusia 7-12 tahun. Mereka tergabung dalam Grup Karawitan Karno Laras.

Pemdes Jerukpurut memang sengaja menghadirkan Karno Laras untuk mengisi kegiatan Musrenbangdes. Salah satu tujuannya, untuk memberikan jam terbang pada anak-anak tersebut.

Maklum, grup karawitan ini masih hijau. Baru Februari lalu diresmikan oleh Kades Jerukpurut, Slamet. Itu pun selama ramadan, vakum latihan.

“Diresmikan Pak Kades Februari lalu. Sempat vakum selama puasa sampai hari raya, enggak latihan sama sekali,” tutur Pembina Grup Karawitan Karno Laras, Bedjo Santoso.

Meski begitu, permainan mereka tak kalah dengan pemain gamelan kawakan. Di usia yang masih bocah, mereka sudah lancar membaca dan memainkan notasi gamelan.

Kemampuan anak-anak itu jelas bukan hasil instan. Sama halnya dengan kerja keras Bedjo saat pertama kali memutuskan melatih anak Jerukpurut.

Respon masyarakat, awalnya tak mulus. Muridnya cuma segelintir. Malah kadang yang datang latihan hanya satu anak saja.

“Masyarakat umumnya gemar yang berbau religi. Pernah juga yang datang latihan cuma satu anak saja. Tetap kami latih,” terangnya.

Baca Juga : klik disini  Jelang idhul Adha Wabub Subandi meninjau lapak penjual kambing Qurban

Setali tiga uang dengan minat masyarakat, muridnya pun mengalami kesulitan. Bedjo harus telaten mengajari anak didiknya untuk pertama kali mengenal dan memainkan gamelan.

“Ya memang harus telaten, Karena anak-anak ini belum mengenal sama sekali dengan gamelan. Soalnya gamelan ini kan cara nabuh alat satu dengan yang lain berbeda,” ungkapnya.

Dengan ketelatenan yang dipraktikan Bedjo, secara perlahan kemampuan anak-anak pun muncul. Bahkan, sebagian dari muridnya sudah mampu menangkap nada meski tanpa melihat notasi gamelan.

“Alhamdulillah dengan semangat, anak-anak lama kelamaan menguasai gamelan. Mainnya sudah rancak. Beberapa diantaranya sudah mampu memainkan tanpa melihat notasi. Tapi tetap saya perintahkan pakai notasi kalau pas tampil,” bebernya.

Jumlah murid pun mulai berubah. Dari murid yang segelintir, lama-lama anak asuh Bedjo dan istrinya bertambah. Pria berusia 54 tahun ini memang menggandeng istrinya untuk ikut melatih.

“Saya melatih anak-anak ini didampingi istri saya. Kalau anak-anak nabuhnya kurang pas, nanti istri saya yang langsung mengoreksi dan membenarkan,” jelasnya.

Sampai saat ini muridnya sukses bertambah hingga total 13 anak. Semuanya berumur 7-12 tahun. Bedjo sendiri memang sengaja fokus membentuk anak-anak usia SD.

“Sengaja saya menargetkan anak usia 7 sampai 12 tahun. Karena anak umur segitu belum banyak terpengaruh dunia luar. Jadi ilmunya lebih gampang masuk,” jabarnya.

Baca Juga : klik disini  1998 di bumi Kota Pahlawan Surabaya dan memiliki anggota yang profesional

Bisa dibilang, grup binaan Bedjo ini satu-satunya grup karawitan di Kabupaten Pasuruan yang anggotanya full anak-anak.

“Saya sudah melintang lama di Pasuruan. Saya lihat tak ada grup karawitan yang anggotanya semuanya anak-anak. Baru di Jerukpurut ini,” akunya.

Suskes penambahan murid juga merambet pada pementasan. Pentas perdana, sambung pria kelahiran Trenggalek ini, dilalui Karno Laras dengan mulus.

Perayaan Hari Kemerdekaan ke- 77 di desa setempat menjadi penampilan yang diluar ekspektasi. Respon masyarakat luar biasa besar.

“Pentas saat kemerdekaan tempo hari benar-benar luar biasa. Antusias masyarakat begitu besar. Ini jadi semangat kami melatih anak-anak,” ucapnya bangga.

Antusias masyarakat memang terpantau tinggi. Selesai acara tersebut, Karno Laras sudah direncakan tampil lagi. Kali ini pihak Kecamatan Gempol yang mengundang.

“Alhamdulillah sudah ada yang menginginkan kami tampil lagi. Dalam waktu dekat, kami direncanakan tampil di Kecamatan,” ujarnya.

Semua hasil jerih payah itu tak membuat Bedjo puas. Misi utamanya adalah melestarikan budaya Jawa ditengah gempuran dunia gadget.

Karyawan perusahaan tekstil ini mengaku miris melihat perkembangan seni budaya jawa yang makin tergerus. Padahal di luar negeri sana, lanjutnya, budaya jawa cukup digandrungi.

“Saya prihatin kalau budaya dan kesenian kita tergeser. Makanya kesenian kita harus ada yang meneruskan. Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi. Sedangkan di luar negeri, budaya kita malah digemari,” urainya.

Baca Juga : klik disini  Cak Sodiq : Artis Ibu Kota Sambangi Serabi dan Coffee di Pujasera Jarwo

Maka, tak salah bila ia menanam asa pada pemerintah. Ia paham, melestarikan seni budaya tak bisa dilakukan sendiri. Harus saling bantu dan mengisi antar elemen.

“Alhamdulillah Pak Kades merespon bagus. Jadi kedepannya kami mohon tetap mendukung kami biar anak-anak makin bersemangat,” harapnya.

Keinginan Bedjo rupanya tak bertepuk sebelah tangan. Kades Slamet menerangkan pihaknya juga sepakat untuk melestarikan kebudayaan.

“Dengan adanya karawitan ini saya mengajak masyarakat Jerukpurut untuk tidak menghilangkan sejarah,” terangnya.

Pihaknya sadar, masyarakat Jerukpurut membutuhkan kegiatan bersifat hiburan. Terutama usai “mati suri” dihantam pandemi.

“Di desa kami, masyarakat nya ingin sekali digelar banyak kegiatan, terutama hiburan. Sehingga pemdes mencoba memfasilitasi keinginan warga,” paparnya.

Namun, tuturnya, ia tak mau kegiatan hanya berkutat hura-hura. Pihaknya menginginkan ada nilai positif dalam hiburan warga.

“Harus membawa efek positif. Nah, salah satunya adalah seni karawitan ini. Karena kami wajib memberi panggung dan mendukung anak-anak yang sudah melestarikan budaya,” jelasnya.

Karena itu lah, momen Hari Kemerdekaan dan Musrenbangdes, benar-benar dimanfaatkan Slamet untuk mengingat kembali seni-budaya Jawa sekaligus membawa nama Karno Laras terbang lebih tinggi.

“Kami berharap Karno Laras terus meningkat. Kalau memang perlu pengembangan, tidak menutup kemungkinan akan kami berikan modal,” tutupnya.

Jurnalis: Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA