Lumbung Berita
NEWS TICKER

Lika-Liku Sampah di Randupitu (1): Dari Pempes Terwujudlah Penghargaan

Sabtu, 24 Februari 2024 | 7:23 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-Berita.com
“Sampah itu diurus ruwet, enggak diurus ngeruweti.” Penggalan ucapan Kades Randupitu Mochammad Fuad itu begitu jelas dalam acara Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Kabupaten Pasuruan 2024.

Kades berwajah cubby ini memang diundang sebagai salah satu narasumber HPSN 2024 di Royal Senyiur, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan pada 21 Februari 2024.

Undangan ini berkat pencapaian prestasi tak main-main. Randupitu tercatat sebagai Desa Berseri yang sukses nol sampah ke TPA. Artinya, tak ada satupun sampah yang dikirim ke TPA.

Namun, bila dicermati, kalimat Fuad tersebut juga melambangkan kerja keras dan susahnya mengelola sampah.

Ditemui di kantornya pada Jumat siang (23/2/2024), Fuad menceritakan pada awalnya ia harus jatuh bangun mengelola sampah.

Semua dimulai sekitar 2016. Jauh sebelum ia menjabat sebagai Kades. Fuad beserta kelima orang rekannya mulai memungut sampah dari warga.

“Saya risih melihat sampah berserakan di sungai ataupun di jalan-jalan. Saya putuskan bersama kelima teman saya memungut sampah warga,” jelasnya.

Memungut sampah ia mulai dari skala kecil. Dari satu RW. Mobil pikap miliknya ia relakan sebagai kendaraan operasional. Tiap pagi, kendaraan niaganya itu ia gunakan mengangkut sampah.

“Kebutuhan operasional pakai dana pribadi. Tak ada tarikan ke warga. Murni sukarela dari saya dan kelima teman saya,” ungkapnya.

Baca Juga : klik disini 👇  FPK Gelar Halal Bihalal, Ki Bagong Berharap Regenerasi Ketua

Pada masa itu, jangan dibayangkan langsung masuk tempat pengolahan, sampah-sampah tersebut harus dioper ke TPA Wonokerto, Kecamatan Sukorejo.

Ongkos transportasi yang dikeluarkan cukup besar untuk sekali pengiriman. Lagi-lagi semuanya ditanggung menggunakan kocek pribadi.

“Saya merasa membuang ke Wonokerto bukanlah solusi nyata. Kalau mau mengatasi sampah, ya harus dari hulunya,” paparnya.

Mindset mengatasi sampah dari hulu ia terapkan. Bersama kelima temannya ia membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pempes pada 2018. Satu langkah nyata mulai terlihat.

“Pempes ini kepanjangan dari Pemuda Peduli Sampah. Kami bertekad mencari solusi terbaik mengatasi sampah tanpa harus ke TPA,” urainya.

Setahun perjalanan Pempes, Pemkab Pasuruan mengapresiasi dengan menggelontorkan bantuan sebesar 200 juta untuk pembangunan gedung Bank Sampah.

Gedung Bank Sampah rupanya dijadikan modal bagus untuk terus berinovasi mengolah sampah. Karena Fuad masih menyimpan mimpi membuat sampah habis tak tersisa.

Gayung bersambut, impian ini ditangkap dengan baik oleh perusahaan PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS), salah satu perusahaan di Randupitu.

Merasa punya visi dan misi yang sejalan, Fuad kerap berdiskusi dengan PT KCS. Dari diskusi tersebut, Fuad dipersilakan mencoba mesin penggiling sampah bersistem Refused Derived Fuel (RDF) hasil rancangan PT KCS.

Baca Juga : klik disini 👇  Logo Ormas Dibakar, DPD GRIB JAYA Jatim Datangi Polres Pasuruan

“Pemilik perusahaan sudah kenal lama dengan saya. Dari situ kami berdua sering diskusi. Kebetulan kepedulian tentang sampah perusahaan sejalan dengan kami,” jelasnya.

Sebagai informasi, pengolahan sampah dengan sistem RDF dapat menghasilkan plastik sebesar jempol orang dewasa.

Teknisnya, sampah akan dipilah menjadi plastik dan organik. Organik akan diteruskan menjadi kompos. Sedangkan plastik dilanjut masuk ke mesin crusher.

Hasil akhirnya, akan keluar plastik sebesar jempol. Plastik ini digunakan untuk bahan bakar di pabrik. Lebih menguntungkan lagi, hasil RDF ini langsung dibeli PT KCS sendiri.

“Jadi kami sangat beruntung dibantu PT KCS. Mesin dipersilakan memakai. Lalu hasil olahannya, dibeli lagi oleh PT KCS,” ujar Fuad.

Setelah dirinya menjabat Kades Randupitu pada 2022, pengolahan sampah makin gencar. Titik baliknya, pada Juli 2023, PT KCS memberikan satu set mesin RDF ke Pemdes secara cuma-cuma.

Masyarakat yang dulunya enggan membuang sampah lewat KSM Pempes, mulai berubah pikiran. Tahun kemarin tercatat, Pempes melayani 4000 lebih jiwa warga Randupitu.

Selain itu, warga dari luar Randupitu sebagian juga ikut bergabung. Bila ditotal, KSM Pempes sepanjang 2023 telah melayani 4745 jiwa dengan kapasitas sampah mencapai 2,38 ton perhari.

Baca Juga : klik disini 👇  FPK Gelar Halal Bihalal, Ki Bagong Berharap Regenerasi Ketua

Dengan kemampuan mesin pengolah hingga 7 ton perhari, KSM Pempes bisa meraih omzet Rp300 jutaan dengan pendapatan bersih sekitar Rp15 juta.

“Disinilah akhirnya mimpi kami terwujud. Kami berhasil nol sampah ke TPA. Semua dihabiskan di hulu. Tak perlu ke TPA,” ucapnya bangga.

Berkat nol sampah inilah, Pemdes Randupitu diganjar penghargaan oleh Pemkab Pasuruan saat peringatan HPSN 2024.

Tak hanya Randupitu yang mendapat penghargaan, PT KCS juga diganjar hal yang sama: Sebagai Perusahaan dengan teknologi tepat guna dalam mewujudkan zerowaste bagi lingkungan masyarakat.

“Kita mau keberadaan perusahaan kami di tengah-tengah masyarakat memberikan dampak positif dan juga bisa membantu perekonomian masyarakat,” ujar perwakilan PT KCS, Daniel Martua Hutabarat.

Penggunaan RDF tak hanya menguntungkan Pemdes Randupitu, tetapi PT KCS juga merasakan dampaknya langsung.

Sejak memakai bahan bakar RDF, perusahaan pemroduksi styrofoam itu tak lagi menerima protes dari warga. Sebelumnya, PT KCS beberapa kali dikomplain karena residu bahan bakarnya.

“Saat memakai batu bara, kami sering dikomplain. Katanya yang rumahnya kotor, yang jemur pakaian, pakaian jadi kotor. Tapi semenjak kami mix dengan hasil RDF ini, kami tak pernah dikomplain masyarakat lagi,” pungkasnya bangga. (bersambung)

Jurnalis: Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!