Lumbung Berita
NEWS TICKER

Efek Harga Kedelai Impor Naik : Pengrajin Tempe dan Tahu se-Pulau Jawa Kompak Mogok

Sabtu, 2 Januari 2021 | 5:01 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Sidoarjo_Lumbung-berita.com
Pengrajin tempe dan tahu se Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jakarta kompak melakukan mogok produksi. Mogoknya pengrajin ini dikarenakan harga kedelai impor yang terus meroket.

Informasi yang diterima Lumbung Berita, aksi mogok massal ini dilakukan selama tiga hari. Mulai Jumat (01/01) sampai Minggu (03/01/2021).

Harga kedelai impor di pasaran diketahui merangkak naik dari Rp7 ribu per kilogram kini menjadi Rp9 ribu per kilogram.

Kenaikan ini dirasa memberatkan bagi pengrajin tempe dan tahu. Sebab, pengrajin sulit untuk menaikkan harga di pasaran.

Ketua Paguyuban Pengrajin Tempe dan Tahu Jawa Timur, Ridho menjelaskan pihaknya sudah mengupayakan untuk menaikan harga jual tempe dan tahu di pasaran.

Namun, Ridho mengakui, kenaikan harga jual tersebut cukup sulit diterapkan di pasaran. Apalagi penjual tempe dan tahu mayoritas adalah pedagang pasar tradisional.

“Kami sudah mengupayakan menaikan harga tempe dan tahu mencapai 10 sampai 20 persen, tapi kenyataannya sulit. Karena umumnya kami menjual pada pedagang di pasar-pasar tradisional,” tuturnya

Baca Juga : klik disini  Saluuut..! IMR dan PMI Giat Penyemprotan Desinfektan di Perum Karanglo Indah

Ridho mengatakan, kelompok pengrajin tempe dan tahu kini hanya bisa berharap kepada kebijakan pemerintah pusat untuk tidak menaikkan harga kedelai.

“Kami minta kebijakan Pemerintah Pusat agar tidak menaikkan harga kedelai sampai 25 persen karena semakin memberatkan usaha,” ucap Ridho Koordinator Ketua Kopti Jawa Timur.

Menurut Ridho, aksi mogok massal itu adalah bagian dari gerakan pengrajin tempe tahu anggota KOPTI atau GAKOPTINDO (Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) di seluruh Indonesia.

Kegiatan mogok produksi ini juga telah dibahas dalam rapat pengurus dan pengawas Gakoptindo pada Senin 28 Desember 2020. Saat itu rapat dihadiri lebih dari 70 persen Puskopti di seluruh Nusantara.

“Kita di Jawa Timur juga mendukung aksi mogok produksi karena bertujuan kompak dengan kenaikan harga tempe dan tahu,” ungkapnya.

Paryono (50), seorang pengrajin tempe asal Kecamatan Pilang, Kabupaten Sidoarjo mengaku kenaikan harga kedelai impor cukup membuat dirinya susah.

Ia kini berharap, harga kedelai impor yang merupakan bahan baku utama produksi tempenya akan turun dan mengurangi beban berat usahanya.

Baca Juga : klik disini  Petani Pasuruan Menjerit Soal Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

“Kita menjual tempe asli kedelai dan tanpa campuran jagung serta singkong, sehingga kalau harga kedelai naik, otomatis biaya produksi juga naik. Harapannya harga kedelai impor turun,” tukasnya.

Jurnalis – Noto-Lum.

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!