Lumbung Berita
NEWS TICKER

“Gerakan Membeli Gula Lokal” oleh Gabungan Asosiasi Pengusaha di Malang

Kamis, 11 Februari 2021 | 4:17 pm
Reporter:
Posted by: Redaksi

Malang_Lumbung-berita.com
Tiga asosiasi pengusaha Malang Raya mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat (PKPTR) dan General Manager PG Krebet Baru I.

Pertemuan berlangsung di kediaman Ketum PKPTR, di Ponpes Roudlatul Ulum 2 Putri, Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (11/02/2021).

Tiga asosiasi tersebut adalah Asosiasi Pengusaha Kafe dan Resto Indonesia (Apkrindo), Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), dan Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Malang.

Tiga asosiasi tersebut sepakat mencetuskan sebuah gerakan sosial berupa “Gerakan Membeli Gula Lokal”.

Presiden IMA Chapter Malang, Kurniawan Muhammad, mendesak para Kepala Daerah untuk membuat regulasi gula lokal dapat dijual di retail-retail di Malang. Sehingga masyarakat tidak membeli gula impor.

“Kami rencananya akan audiensi dengan tiga Kepala Daerah Malang Raya. Gerakan ini nantinya akan dipelopori di Malang. Gula yang beredar harus gula lokal Malang,” terang pria yang juga menjabat sebagai Direktur Jawa Pos Radar Malang itu.

Sementara itu, Ketua APPBI DPC Kota Malang sekaligus Direktur Mall Malang Town Square (Matos), Fifi Trisjanti berencana memasarkan gula lokal di supermarket dengan harga khusus.

“Saya akan ambil beberapa ton (gula lokal), dan nantinya akan jual di mall di bawah HET (harga eceren tertinggi). Dalam waktu dekat kami akan menggelar promo “Tebus Gula Murah” sekaligus menyambut perayaan Imlek,” tuturnya.

Sedangkan, Ketua Apkrindo Malang, Indra Setiyadi mengaku asosiasinya akan membeli gula petani sekitar 1,5 ton untuk para anggota.

“Mungkin jumlah ini tidak seberapa. Namun yang terpenting adalah esensi dari gerakan ini, untuk membangkitkan semangat membantu petani tebu lokal,” ungkapnya.

Gagasan tiga asosiasi pengusaha Malang Raya tersebut diapresiasi oleh Ketua PKPTR, KH Hamim Kholili. Ia berharap, gerakan yang dicetuskan di Malang ini mendapat respons hingga ke Pemerintah Pusat.

“Ini artinya, teman-teman importir harus peduli. Jika pengusaha Malang Raya bisa peduli (nasib petani tebu lokal), kenapa importir tidak? Pesannya harus sampai (ke Pemerintah Pusat), dan akhirnya terjadilah regulasi. Regulasi biasanya timbul karena ada desakan,” jelas pria yang akrab disapa Gus Hamim itu.

Saat ini masih ada sisa 44 ribu ton gula petani di gudang PG Krebet Baru dan PG Kebon Agung. Jumlah ini berkurang 11 ribu ton dari temuan akhir bulan lalu, yaitu sebanyak 65 ribu ton.

“Harus laku sebelum musim giling berikutnya, Juni 2021. Yang jadi masalah, itu gula milik petani yang belum dibayar. Sepanjang sejarah, ini yang terparah,” tukasnya.

Ditempat yang sama GM PG Krebet I Malang Adang Sukendar Djuanda menegaskan sejatinya gula lokal tidak kalah dengan gula impor atau gula rafinasi.

Baca Juga : klik disini  Warga Sengonagung di Kejutkan adanya Mayat di Sawah
Baca Juga : klik disini  Pemuda Kalipang Tewas, diduga Kena Bondet di Grati

“Gula impor warnanya putih sekali, kadang cenderung lembut. Rasanya kurang manis dibanding gula lokal. Sebenarnya gula lokal pun bisa diproses putih, tapi hasilnya tidak putih sekali,” pungkasnya.

Jurnalis : Herlin

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!