Lumbung Berita
NEWS TICKER

Hasil Kebun Desa Tambaksari Purwodadi : Potensi Besar, Pemasaran Ambyar

Sabtu, 23 Januari 2021 | 2:54 pm
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Pernah berkunjung ke Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi? Kalau peminat hiking yang sering naik gunung Arjuno tentu tak asing dengan desa ini.

Ya, Desa Tambaksari memang menjadi pintu masuk para pendaki gunung Arjuno via Purwodadi. Desa di kaki gunung ini memiliki beragam potensi hasil perkebunan. Mulai dari kopi, alpukat, durian, dan tanaman buah-buahan lainnya.

Ambil contoh komoditas yang fenomenal belakangan ini : Alpukat Pisang. Viral sejak di munculkan di akun Facebook Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi, Alpukat Pisang ternyata sudah lama bercokol di Tambaksari.

Salah satu warga, Mugi Selamet kepada awak media, siang tadi (23/01/2021), menjelaskan bahwa Alpukat Pisang sudah lama dipanen di Tambaksari.

“Sudah lama Mas. Cuma kan viralnya gara-gara medsosnya Pak Andri,” terang pria yang akrab disapa Mugi tersebut.

Alpukat Pisang ternyata bukan satu-satunya alpukat andalan di desa itu. Dua lagi varietas lokal tanpa nama, sebut Mugi, juga layak dipasarkan.

“Yang banyak disini adalah Alpukat lokal. Sebetulnya enggak ada namanya. Tapi kualitas bisa diadu,” ujarnya.

Mugi tak main-main dengan ucapannya. Menurutnya, alpukat lokal Tambaksari memiliki tekstur kesat. Daya tahan pun bisa lebih lama dari alpukat di tempat lain.

“Kadar air alpukatnya rendah. Cenderung kesat. Kalau di tempat lain, tiga hari matang enggak dimakan bisa berair dan busuk. Kalau disini bisa tahan sampai seminggu lebih,” ungkapnya.

Baca Juga : klik disini  Ketua DPRD dan Jajaran DPRD Kabupaten Pasuruan Jalani Vaksinasi

Rasa pun ada perbedaan. Mugi menjelaskan alpukat lokal memiliki rasa khas. Ada asin, manis, dan gurihnya.

“Ada gurihnya, ada keasin-asinan, ada manis-manisnya. Ada bedanya lah Mas dengan Aligator atau Markus (varietas impor). Kalau alpukat itu rasa dan kadar air yang utama,” paparnya.

Satu varietas alpukat lainnya punya kekhasan lain lagi. Masih jenis lokal dan tanpa nama, tapi yang membedakan, alpukat ini berpotensi berbuah sepanjang musim.

“Ada juga varietas lain. Khasnya itu satu pohon ada bunga, bunga muda, buah kecil dan buah tua. Jadi alpukatnya non musim. Itu dari segi ukuran, rasa, dan kadar air semua masuk,” bebernya.

Namun Mugi tak menampik, kebutuhan pasar membuat beberapa warga membudidayakan alpukat impor. Hampir tak ada yang menanam alpukat lokal.

“Disini pembibitan impor semua. Karena yang diminati pasar saat ini adalah jenis-jenis yang sudah tenar. Padahal lokal saya yakin lebih bagus,” ucapnya.

Kendala yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat Tambaksari adalah pemasaran. Sudah umum hukumnya, hasil panen dibeli oleh pedagang. Bukan oleh konsumen langsung.

Kapasitas hasil panen sebetulnya cukup besar. Bila musim panen tiba, minimal bisa satu truk dalam seminggu. Masa panen raya biasanya terjadi di akhir-akhir tahun.

“Disini tiap minggu kita kirim ke Jakarta sebanyak minimal satu truk. Tapi kalau pas musim panen saja seperti bulan kemarin,” akunya.

Tak berbeda dengan alpukat, komoditas lainnya, yakni kopi, juga “bernasib” sama. Salah satu warga, Wujud, menceritakan masyarakat Desa Tambaksari hanya menikmati penjualan hasil panen saja.

Baca Juga : klik disini  Muchamad Chamdi Terpilih di PAW Desa Gempol

Padahal bila dikembangkan, tak menutup kemungkinan kopi Tambaksari bisa sejajar dengan jenis kopi-kopi kondang tanah air, semisal Aceh Gayo atau Bali Kintamani.

“Masyarakat di sini sebagian besar menjual hasil panen buah kopi saja. Jarang yang sampai memroses hingga menjadi kopi bubuk. Kalau ada itu pun untuk konsumsi sendiri,” papar Wujud.

Sayangnya, ditunjuknya Desa Tambaksari menjadi desa wisata pada 2010 lalu tak serta merta mengangkat hasil komoditas asli desa tersebut.

Kelompok Usaha Bersama yang terdiri dari gabungan para petani Desa Tambaksari juga baru dibentuk bulan lalu. Meski begitu, Wujud menyatakan optimis dengan prospek ke depan Desa Tambaksari.

“Kelompok Usaha Bersama baru dibentuk bulan lalu. Jadi disini memang mengawali. Ya, mudah-mudahan nantinya ada jalan untuk mengangkat potensi di sini lewat kunjungan bapak-bapak (pengurus DPC PDIP Kabupaten Pasuruan) ini,” harapnya.

Ditemui di tempat yang sama, Ketua DPC PDIP Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi mengamini kekurangan pemrosesan komoditas di Desa Tambaksari.

“Seperti kopi, kita cuma menang tanam. Setelah tanam pemrosesan dilakukan di luar kota. Kendalanya memang seperti itu,” ungkapnya.

Efeknya, menurut Andri, kopi diklaim kota lain. Sebab mulai pemrosesan, produksi hingga pemberian label dilakukan di kota lain.

“Kalah dipemrosesan dan akhirnya kalah di nama produk. Yang terkenal malah daerah lain. Padahal kopinya dari sini. Ini yang coba kita seriusi solusinya,” tegasnya.

Baca Juga : klik disini  Kedele Mahal..! Kado Akhir Tahun dirasa "PAHIT" oleh Pedagang Tempe

Ia menerangkan, potensi hasil komoditas di Kabupaten Pasuruan sangat besar. Kendala yang utama selain pemrosesan adalah pemasaran.

“Potensinya luar biasa di Kabupaten Pasuruan ini. Hanya pendampingannya yang kurang serius. Sekarang, mulai pembibitan sampai pemasaran akan kita dampingi,” jelasnya.

Salah satu konsep pemasaran yang cukup sukses ia terapkan adalah mengunggah video alpukat pisang di akun Facebook-nya.

“Tempo hari setelah berunding dengan teman-teman petani, kita sepakati namanya Alpukat Pisang. Buah alpukat, tapi makannya ala pisang. Dikupas seperti pisang,” ulasnya.

Konsep pemasaran seperti ini yang oleh Andri coba digali lebih dalam. Dengan menampilkan pemasaran berkonsep branding, Alpukat Pisang bisa memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.

“Di era sekarang kalau enggak kreatif seperti itu ya cukup susah. Tapi alhamdulillah setelah kita masukkan medsos, penjualan naik lho. Dalam tiga hari laku 4 ton. Ini lah pentingnya branding,” bebernya.

Pria yang berdomisili di Pandaan ini kemudian menjamin, dirinya beserta kader PDIP akan serius mengawal potensi perkebunan Desa Tambaksari. Dari hulu hingga hilir.

“Keberadaan buahnya sendiri sebenarnya sudah lama. Konsep branding-nya lah yang kurang. Maka itu kita akan kawal mulai pembibitan sampai dengan konsep branding. Itu yang akan kita seriusi,” pungkasnya.

Jurnalis : Indra-Ulum

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!