Lumbung Berita
NEWS TICKER

Heru, Pengamat Burung Asal Prigen yang Mendunia

Rabu, 3 November 2021 | 11:01 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Foto : Saat Heru bersama tamu mancanegara di Tahura R. Soerjo

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Berawal dari rasa prihatin dengan salah satu burung yang ditembak, Heru Cahyono, mengubah persepsi bahwa menikmati kicaun burung tak hanya di dalam sangkar.

Di temui di kediamannya di Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, ayah satu putri itu menuturkan kisahnya yang sanggup menjadi pengamat burung level dunia tersebut.

Heru, begitu ia dipanggil, menuturkan ia menyukai burung sedari kecil. Beberapa kali ia memelihara burung dalam sangkar. Sampai suatu ketika, satu peristiwa mengubah hidupnya.

Kala itu, Heru kecil yang duduk di kelas 3 SD bergabung bersama kakaknya menembak burung. Bidikan kakaknya tepat mengenai burung Cinenen. Heru yang bertugas mengambil hasil tembakan, segera berlari mengambil burung tersebut.

Tak disangka, rasa iba dalam diri warga asli Prigen ini muncul. Cinenen itu ternyata mempunyai anak yang butuh suapan induknya. Sejak saat itu ia enggan diajak berburu lagi. Dari kejadian ini pula terbesit pertanyaan dalam benaknya: Bagaimana memanfaatkan burung dengan bijak.

“Yang enggak kalah miris, ketika melihat populasi Anis Merah yang menurun drastis. Padahal dulu gampang sekali ketemu Anis Merah,” tuturnya.

Heru selanjutnya memutuskan meneruskan hobinya lewat cara lain. Yakni dengan menjajal menjadi pengamat burung. 2012 menjadi tahun pertama ia resmi membuka jasa pemandu bagi yang tertarik mengamati burung.

Baca Juga : klik disini  *Vaksinasi Door To Door Untuk Lansia Dengan Gunakan Motor Vaksin Keliling*

“Tamu luar negeri pertama saya pada 2013, dari Inggris. Pengamatan cuma sehari, dapat komisi sekitar Rp800 ribu rupiah,” kenangnya.

Dari dunia pengamatan burung ini lah, Heru bisa meraih prestasi dunia. Ia tercatat sebagai Best Presenter dalam Asian Raptor Research and Conservation Network di Thailand pada 2015 silam.

Selama di negeri Gajah Putih ini, ia mempelajari ilmu managemen tour fotografi. Sebuah wisata khusus bagi pencinta fotografi alam liar. Sampai di Indonesia, ia mengkombinasikan pengalamannya menjadi pengamat burung dengan ilmu tersebut.

Foto : Saat Heru saat di temui di rumahnya. Insert: Puyuh Gonggong Jawa

“Intinya sama, melihat burung di alam liar. Hanya saja fotografi fokus utama mendapatkan gambar burung,” terang suami Robiatul Hadawiyah tersebut.

 

Mencari dan mengabadikan burung dalam bingkai foto bukan perkara mudah. Terutama ketika tamu menginginkan obyek burung yang anti mainstream. Terkadang, meski disanggong seharian, burung tak muncul juga.

“Yang susah pas di lokasi, burungnya enggak muncul. Di tunggu seharian enggak muncul. Padahal lokasi tersebut sudah menjadi kebiasaan burungnya lewat,” jelasnya.

Tantangan ini yang membuat Heru memutar otak. Ia kemudian memutuskan menstabilkan keberadaan burung. Caranya, dengan rutin memberi pakan di sekitar lintasan burung. Kemudian dilanjutkan dengan dengan memutar rekaman suara kicauan “calling” burung tersebut.

Baca Juga : klik disini  Ringankan Korban Bencana Alam, Polda Jatim Salurkan Bantuan Hingga 1,8 Milyar

Dua trik dasar yang telah dilakukan Heru ini lah yang membuatnya bisa menciptakan spot-spot foto alam liar se- Indonesia. Spot foto yang dijamin burung akan hadir dan nampak.

Meski begitu, pencarian tempat dan penstabilan burung, menurutnya, bukan perkara gampang. Butuh pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan biaya.

“Itu kan soft skill. Enggak hanya main kasi makan dan calling, tapi juga dibutuhkan soft skill. Harus punya feeling yang peka. Seperti kapan saatnya burung makan, berkembang biak, atau bahkan migrasi,” paparnya.

Bahkan ia pun pernah merasakan susahnya menstabilkan burung. Burung paling lama, sambungnya, adalah Puyuh Gonggong Jawa. Butuh waktu 6 tahun lebih untuk bisa membuat burung ini stabil.

“Butuh waktu 6 tahun lebih biar Puyuh Gonggong nya stabil. Karena enggak tahu teknik nya. Setelah tahu, ya sekarang saya punya spot banyak buat foto-foto Puyuh Gonggong,” ungkapnya.

Jerih payahnya membuahkan hasil. Kini bisnis guide tour fotografi sudah menjadi ladang utama mata pencaharian nya. Pertamu ia mematok tarif yang beragam. Mulai 200 hingga 300 dolar.

“Untuk tiap tamu biasanya 200-300 dolar. Itu perhari. Kalau tamunya minta beberapa hari tinggal dikalikan. Tarif segitu sudah mencangkup transportasi, konsumsi, dan akomodasi,” jabarnya.

Baca Juga : klik disini  3 Tersangka Kasus Korupsi PKIS Sekartanjung, Salah Satunya Mantan Wabup

Tarif ini, lanjutnya, juga bukan inisiatifnya sendiri. Melainkan berpatokan pada harga pasaran dan tren di Asia. Heru harus berpatokan demikian karena namanya sudah dikenal seantero belahan bumi. Mulai Asia hingga Afrika.

“Enggak bisa kita menentukan tarif seenaknya. Kita ikuti yang lagi tren di Asia. Kecuali kalau tempatnya luar pulau Jawa, saya bisa pasang tarif lebih mahal sedikit,” jelasnya.

Melayani tamu dari luar negeri, tak ayal membuat warga sekitar lokasi juga kecipratan rezeki. Sebagian warga, oleh Heru ditugaskan untuk menstabilkan burung. Sebagian lagi diminta untuk mempromosikan spot wisata fotografi tersebut.

“Sebagian tarif itu juga saya kasi kan mereka. Karena mereka juga yang telah merawat, menjaga spot foto, dan mempromosikan. Kalau tamu banyak, pendapatan mereka juga banyak. Alhamdulillah sampai saat ini spot-spot saya terkendali,” bebernya.

Heru tak memungkiri, dunia burung telah membawa namanya terbang tinggi. Ia telah memenangi 8 kali kompetisi pengamatan level nasional dan menjadi best presenter internasional.

Namun, yang menjadi kepuasan utamanya adalah terjawabnya pertanyaannya di masa kecil: Bagaimana memanfaatkan burung dengan bijak. Lewat tour fotografi, ia telah menemukan jawaban itu. Lewat bisnis ini pula warga sekitar lokasi juga happy.

“Puasnya karena bisa menjawab pertanyaan saya selama ini dan bisa meneruskan hobi saya. Karena keunggulan fotografi, kita dapat rezeki, burung pun tetap lestari,” pungkasnya.

Jurnalis: Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!