Lumbung Berita
NEWS TICKER

Jual Telur Tak Layak Konsumsi, Dua Warga Wonorejo Dibekuk Polisi

Minggu, 9 Mei 2021 | 9:22 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Telur rupanya juga tak luput dari aksi culas manusia tak bertanggung jawab. Seperti yang terjadi di Kabupaten Pasuruan, dua orang diamankan karena menjual telur tak layak konsumsi.

Kedua orang itu tadi siang dihadapkan ke sejumlah wartawan di Mapolres Pasuruan dalam acara pers rilis ungkap penjualan telur infertil, Minggu (09/05/2021).

Kedua orang tersebut adalah Syamsul Arifin (31) warga Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan dan H. Ikrom (42) warga Desa Kluwut, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.

“Kita mendapat data awal dari operasi pasar yang gencar dilakukan belakangan ini. Dari sana lah kita melihat adanya kejanggalan-kejanggalan,” ujar Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan.

Dua orang ini memang culas. Mereka mengambil telur dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penetasan telur.

“Sumbernya ada perusahaan yang memang bergerak di bidang penetasan telur. Legalitas dari produsen ke konsumen adalah untuk pakan ternak,” jelas Rofiq.

Namun telur-telur itu malah mereka satukan kembali dalam satu wadah drum. Yang belum pecah mereka pasarkan ke pasar tradisional. Yang sudah pecah diproses kembali dan dijual sebagai telur curah dan bahan baku snack.

Baca Juga : klik disini  Kepala UPT Pasar Rakyat Grati Lakukan Penataan dan Penertiban Pedagang Hewan

“Faktanya telur ini disatukan dalam drum, kemudian dipilah kembali, yang belum pecah di pasarkan di pasar tradisional. Yang sudah pecah disaring, dikemas dalam bentuk 5 kiloan dan dijual secara curah. Ini jelas tidak memenuhi standar layak pangan untuk dikonsumsi,” terangnya.

Telur infertil ini, lanjut Rofiq, berpotensi besar mengandung bakteri salmonella dan E. Coli. Dua bakteri ini bila dikonsumsi manusia bisa mengakibatkan infeksi radang usus, ginjal, dan lain-lain.

“Dari hasil perbincangan kita dengan beberapa ahli, menyebutkan efek konsumsi telur ini juga dapat mengakibatkan gampang lelah dan juga sakit typus,” bebernya.

Yang mencengangkan, bisnis haram ini sudah dilakukan pelaku selama 10 bulan dengan omzet yang dipastikan besar karena menjangkau beberapa wilayah di Jatim.

“Menurut pelaku bisnis ini sudah dijalani 10 bulanan. Tapi kita masih dalami lagi. Omzetnya juga masih kita dalami lagi. Yang jelas ini dalam jumlah besar, karena menjangkau beberapa tempat di Jatim,” ulasnya.

Kedua orang ini pun diganjar dengan hukuman tak main-main. Tercatat ada empat pasal yang akan dikenai dua orang Wonorejo tersebut.

Baca Juga : klik disini  BLT-DD Tahab 2 di Bagikan Pemerintah Desa Wonosari

Diantaranya Pasal 62 ayat (1) JO pasal 8 ayat (2) UU RI No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Pasal 110 dan atau pasal 106 UU RI No 7 tahun 2014 tentang perdagangan sebagaimana diubah dalam pasal 46 UU RI no 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Peraturan menteri pertanian nomor 32/permentan/PK.230/9/2017 tentang penyediaan, peredaran, dan pengendalian ayam ras dan telur konsumsi.

Pasal 140 UU RI No 18 tahun 2012 tentang pangan sebagaimana diubah dalam pasal 64 UU RI No 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo PP No 86 tahun 2019 tentang keamanan pangan.

“Saudara S dan I tercukupi dua alat bukti yang sah, bahkan tiga alat bukti yang kita dapatkan di lapangan sebagai pelaku perdagangan telur infertil. Ancaman hukumannya 4 dan 5 tahun penjara,” jabar Rofiq.

Barang bukti yang ikut diamankan diantaranya 150 butir telur diduga infertil, 25 bungkus cairan telur ayam yang diduga infertil dengan masing-masing bungkus berkapasitas 5kg.

Kemudian 5 drum telur infertil, 26 telur ayam infertil, 2 drum kosong, 1 buah freezer, sebuah timba, sebuah saringan kecil, sebuah mug, selembar saringan warna hitam, sepotong celana panjang motif loreng, satu unit mobil pikap Grand Max putih bernopol N 9796 TL, dan 2 HP.

Baca Juga : klik disini  Menjabat Satu Tahun, Kades Sekarmojo Belum Terima Tanah Bengkok

Untuk perusahaan telur sendiri, sampai saat ini masih dalam proses penyidikan. Tak menutup kemungkinan akan terjerat juga bila ditemukan tindakan melawan hukum.

“Perusahaan penghasilnya masih kita diskusikan dengan ahli pidana terkait perbuatan kesengajaannya dan perbuatan melawan hukumnya. Karena yang bersangkutan dalam penyidikan kami patut diduga memiliki pengetahuan cukup bahwa ini diperdagangkan bukan untuk pakan ternak tapi untuk konsumsi masyarakat. Ini yang masih kita kembangkan,” paparnya.

Sementara itu, Syamsul Arifin ketika dikonfirmasi wartawan menyebut omzet yang didapatinya berkisar Rp1,5-1,8 juta untuk sekali pengambilan.

“Sekali ambil bisa dapat Rp1,5-1,8 juta. Sekali ambil biasanya 1,5-2 kwintal perhari. Sebagian dijual untuk pabrik roti rumahan di Malang,” ucapnya.

Jurnalis : Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!