Lumbung Berita
NEWS TICKER

Kisah Hidup Andi: Penderita Cacat Kaki yang Anti Dikasihani

Jumat, 4 Juni 2021 | 6:20 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Mengeluh, kecewa, dan sambat adalah sifat manusiawi yang kerap hinggap di masing-masing individu. Apalagi jika ditambah dengan kondisi pandemi yang seolah tak berujung, seolah membuat kita tercekik.

Namun jika sambat itu terus menerus dan semakin membuncah, mungkin ada baiknya pembaca berkaca pada pemuda asal Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini.

Namanya Andi Faisal. Pria kelahiran 1984 ini menyandang status tunadaksa sejak membuka mata pertama kali di dunia. Ya, pemuda yang akrab disapa Andik tersebut memang terlahir dengan kedua kaki yang tumbuh tak sempurna.

Untuk berjalan saja, Andik harus sedikit merayap layaknya orang normal sedang berjalan jongkok. Tak ayal, ia tak dapat bepergian jauh tanpa teman yang memboncengnya.

Namun kecacatan tubuhnya tidak menghalanginya untuk berkarya. Tak berprestasi layaknya orang normal memang, tapi cukup menampar masyarakat yang banyak sambat.

Saat dihubungi Lumbung Berita saja, ia awalnya tegas menolak. Ia menilai dirinya tak layak menjadi sorotan. Menurutnya masih ada penyandang disabilitas lain yang layak dijadikan panutan.

Lalu awak media berkesempatan menemui Andik di tempat kerjanya, di Desa Karangrejo. Putra tunggal pasangan Wijayadi dan Sarofah ini sedang serius dengan pekerjaannya.

Ia bekerja di “home industri” pembuatan kain pel. Sudah lima tahun pekerjaan itu ia geluti. Kesehariannya ia menyortir kain yang baru datang. Kadang juga mengepak kain yang siap kirim.

Baca Juga : klik disini  Pemuda Pancasila PAC. Grati Santuni Anak Yatim serta Buka Bareng

Kalau pesanan ramai, ia bisa meraup upah sebesar Rp400 ribu per minggu. Kalau sepi, ia dengan senang hati membawa pulang Rp150 ribu per minggu. Semua dilakukan tanpa keluhan.

“Pantang bagi saya untuk dikasihani. Selagi saya masih mampu (bekerja), saya akan kerjakan,” ucapnya tegas.

Malu sepertinya sudah tak ada dalam kamusnya. Asalkan ia pandang mampu, pasti akan ia kejar habis-habisan walau itu terintang ruang dan waktu.

Tak heran, ia pernah bekerja di rumah produksi sepatu dan sandal di Bali. Ia merantau ke Bali selama enam tahun. Catat: ia merantau sendirian!. Sebuah pengalaman yang mustahil dilakukan tanpa mempunyai mental yang prima.

Kekuatan mental Andik bukan dibentuk secara instan. Ada proses jatuh-bangun didalamnya. Sebagai manusia, Andik juga pernah merasakan kesedihan dan terhina. Ia menuturkan, saat bocah, kekurangannya kerap menjadi sasaran “bullying”.

“Kalau dulu (waktu kecil), saya di- ‘bully’, saya nangis. Haha,” terangnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tak hanya terhina, ia juga pernah merasakan minder dengan keadaan fisiknya. Kala teman sepermainan sudah menginjak sekolah, ia memilih tinggal di rumah.

Andik mengaku minder untuk bersekolah. Kondisi itu bertahan bertahun-tahun. Motivasi dari teman dan kedua orang tuanya lah yang membuat ia berubah pikiran. Ia akhirnya pergi bersekolah tepat saat berusia 11 tahun.

Baca Juga : klik disini  Diskominfo Pemkot Batu Gelar Koordinasi bersama Awak Media

“Awalnya minder. Tapi berkat dukungan teman dan orang tua, akhirnya saya beranikan sekolah. Sampai-sampai kelas 6 SD, saya sudah brengosan,” tambahnya sambil terkekeh.

Mental Andik terus digembleng kerasnya dunia. Beberapa tahun silam, ia harus menerima kenyataan pahit. Kedua orang tuanya bercerai. Ia pun sempat merasakan terpuruk.

Beruntung ia memiliki kawan akrab yang terus mendukungnya. Kedua orang tuanya juga memahami perasaan Andik. Sampai sekarang, meski ia hidup bersama ibunya, Andik tak abstain dijenguk oleh sang ayah.

“Saat orang tua cerai, saya di- ‘support’ penuh oleh teman-teman. Tapi tetap, kedua orang tua masih perhatian dengan saya,” ujarnya.

Tak sampai disitu, hingga kini, lajang berkulit sawo matang ini merasakan beberapa perempuan berpaling ketika tahu tubuhnya mempunyai kekurangan. Bahkan seingat Andik, sudah sering kali ia di- PHP perempuan.

“Dulu pernah dekat sama cewek. Sudah bertahun-tahun dekat, tapi ketika tahu kondisi saya, dia perlahan menghindar,” ungkapnya.

Meski demikian, “menyerah” benar-benar dibuang jauh dari pikiran fans berat klub bola Manchester United ini. Ia percaya Tuhan mempunyai rencana terbaik baginya.

“Prinsip saya, jangan minder kalau punya kekurangan. Diterima atau tidak, harus tetap akrab dengan siapapun,” tegasnya.

Pria berambut ikal ini sepenuhnya menyadari ada kelebihan yang diberikan Tuhan. Salah satunya ia jadi lebih sensitif memahami perasaan lawan bicara. Karena kelebihan itu, Andik acap kali jadi langganan curhat teman-temannya.

Baca Juga : klik disini  KOMISI A DPRD JATIM HADIRI DEKLARASI FKPRM DI JEMBER

“Kadang teman sedang ada masalah atau sedang senang, tanpa mereka cerita, saya bisa tahu. Banyak (teman) yang kalau ada masalah, larinya ke saya,” bebernya.

Hal itu dibenarkan oleh saudara sekaligus teman sepermainannya, Oki (25). Pemuda asli Dusun Krajan ini mengaku bila menemui masalah yang rumit, solusinya adalah meminta nasihat Andik.

“Sarannya Mas Andik itu kayak pamungkas. Ceplos ceplos tanpa tedeng aling-aling, tapi sangat masuk akal dan banyak benarnya,” katanya.

Sebagai teman kala kongko, Oki juga menyaksikan sendiri Andik tanpa canggung membalas ejekan teman lainnya. Khususnya saat menonton sepak bola.

“Orangnya suka ‘psywar’ saat mendukung tim pujaannya. Lucu kalau melihat Mas Andik balas-membalas ejekan,” tukas Oki.

Tak berbeda dengan Oki, Kepala Desa Karangrejo Ahmad Fauzi mengakui Andik mempunyai kelebihan tersendiri. Fauzi menilai Andik memiliki sikap percaya diri yang tinggi.

“Orangnya itu ‘pede’-nya tinggi. Kalau becanda sama temannya, kayak enggak ada jarak. Teman-temannya juga memperlakukan Andik layaknya orang normal lainnya,” jelas Fauzi.

Ya, siapapun seharusnya malu dengan Andik. Seolah terinspirasi slogan klub pujaannya, “glory glory Manchester United” (jaya jaya Manchester United), ia sekali lagi membuktikan: seorang tunadaksa pun juga bisa berjaya diatas kakinya sendiri.

Jurnalis : Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!