Lumbung Berita
NEWS TICKER

Kisah Tyas Pesilat Asal Pandaan: Punya Naluri Berkelahi Sejak Kecil

Rabu, 27 Oktober 2021 | 8:11 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Rambutnya pendek. Disemir kuning. Terlihat “catchy” bila dipadu dengan kacamata. Gaya ngomongnya pun ceplas-ceplos dengan pembawaan yang murah senyum. Namun, jangan salah. Gadis belia ini jago bela diri.

Ya, itu lah gambaran sekilas dari Suryaning Tyas. Peraih medali perak PON XX Papua cabor pencak silat kelas C (55-60 kg). Ditemui di tempat ia berlatih, di Pandaan, lajang lulusan SMAN 1 Pandaan itu menceritakan kisah suksesnya, Selasa (27/10/2021).

Alih-alih bermimpi mendapat medali, perempuan yang akrab disapa Tyas ini, bahkan awalnya tak ada niatan sama sekali terjun di dunia olahraga asli Indonesia tersebut.

Ia dikenal tomboi sejak kecil. Saat duduk di bangku SD, sudah tak terhitung berapa laki-laki yang diajaknya bertarung. Bukan seangkatan, tapi rata-rata kakak kelas.

“Dulu kalau ada yang melihat saya gitu, sudah saya anggap nantang. Saya samperin. ‘Apa kamu lihat-lihat’. Terus saya ajak kelahi,” tuturnya sambil tertawa kecil.

Melihat kelakuan yang tak biasa ini, kakak iparnya Trias Rudi Santoso mengajaknya latihan silat. Kebetulan kakaknya ini adalah mantan atlet pencak silat. Sayangnya ajakan itu gagal.

“Pertama diajak gabung, orang tua dan kakak menolak. Takutnya, saya malah tambah menjadi-jadi dan malah suka main pukul,” kenang perempuan yang tinggal di Kelurahan Kasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan itu.

Ajakan pertama tak direstui. Ketika Tyas menginjak kelas 1 SMP, ia diajak lagi. Kali ini dengan diiming-iming bisa dapat uang. Tyas pun tertarik dan mulailah ia berlatih.

Baca Juga : klik disini  Satreskoba Polresta Pasuruan amankan Pemuda asal Gejugjati

“Ditawari berantem tapi dapat duit. Tapi syaratnya harus nurut sama Mas. Ya sudah, saya akhirnya tertarik,” ujar alumnus SMPN 1 Pandaan ini.

Bakat luar biasa yang Tyas punya mulai terbukti. Belum lama berlatih, ia sudah terjun di turnamen di Surabaya. Disini ia keluar sebagai runner-up di Turnamen perdananya.

Pencapaian ini lah yang cukup meningkatkan motivasinya. Ibarat “mood booster” yang mujarab. Wajar, sebab layaknya remaja lainnya, ia juga merasakan jenuh saat berlatih.

“Ada rasa bosan juga. Tapi terus dipaksa-paksa. Saat pertandingan di Surabaya itulah, saya merasakan langsung dapat uang pembinaan, tidur di hotel, dan makannya enak-enak. Apalagi ada yang bilang, bisa naik pesawat gratis. Dari situ saya buat motivasi dan saya buktikan, ternyata benar adanya,” jabarnya.

Prestasinya setahap demi setahap naik. Tyas pernah mengikuti kejuaraan internasional remaja di Thailand. Sama halnya dengan di Surabaya, di turnamen ini ia meraih runner-up.

Sukses di kancah remaja, ia menjajaki kelas dewasa. Kejuaraan PON XX Papua menjadi ajang pertama turun di kelas dewasa. Lawannya jelas tak main-main. Salah satu kompetitornya bahkan ada yang tercatat sebagai atlet Sea Games.

Baca Juga : klik disini  H. Abdulloh Sataar berbagi dan Buka Puasa Bersama Konstituennya

Tyas sadar ia hanya debutan. Ia tampil lepas. Dibenaknya hanya satu: Bermain sebaik mungkin. Penampilannya justru tokcer. Semifinal ia lalui dengan mulus. Padahal lawannya di babak ini adalah pesilat yang mengalahkan atlet Sea Games.

Namun sebagai pesilat pemula di ajang PON, ia juga dinaungi rasa grogi. Tampil lepas saat babak penyisihan hingga semifinal, Tyas justru gugup saat babak final. Tyas mengakui, pencapaian yang di luar ekspektasi dan membludaknya penonton cukup membuatnya nervous.

“Saya sendiri terlalu tegang, grogi, dan enggak nyangka masuk final. Suasana nya berbeda. Penonton lebih banyak dari sebelumnya. Jadi perasaan campur aduk. Itu yang bikin kurang lepas saat pertandingan,” akunya.

Kini, usai berhasil menggapai medali perak, Tyas pun tak lupa dengan yang membesarkannya. Sebagian hadiah yang diterima, akan ia sumbangkan ke tempat latihannya.

“Sejujurnya belum tahu mau dibuat apa. Yang jelas, untuk pembelian alat-alat latihan disini,” ujar perempuan yang mengaku masih jomblo ini.

Capaian yang luar biasa itu rupanya tak membuat Tyas berhenti menggantungkan asa. Target di masa depan, ia ingin tampil di ajang Olimpiade 2032, bila Indonesia sah menjadi tuan rumah.

Tyas sudah memperkirakan, andai tampil di Olimpiade 2032, umurnya menginjak 31 tahun. Usia dimana kebanyakan atlet berada di puncak karir.

Baca Juga : klik disini  Deklarasi Ormas Jaman di Pasuruan Berjalan Lancar dan Khidmat

“Target kedepan, Indonesia kabarnya mau mengajukan diri sebagai tuan rumah olimpiade 2032. Kalau jadi, semoga pencak silat dimasukkan sebagai salah satu cabor. Kalau masuk cabor, saya ingin kejar itu untuk ikut,” harapnya.

Kehebatan Tyas rupanya juga diakui oleh pelatih sekaligus kakak iparnya. Trias, begitu ia dipanggil, merasa Tyas punya potensi yang berbeda, lain daripada yang lain.

“Anak ini kelihatan beda dengan cewek-cewek seumurannya. Bahkan kalau bulan ramadan, dia enggak pernah tidur rumah. Tidurnya di pos ronda, karena ikut patrol bangunkan orang sahur,” ujarnya.

Insting nya ternyata tak salah. Salah satu yang ia lihat dari Tyas adalah adalah kenakalan dan sikap tomboinya. Dua sikap yang justru membuat mental bertarung Tyas makin ganas.

“Modal awal yang bagus itu memang anaknya ‘ndablek’. Suka tawuran. Kalau sudah suka tawuran, terjun di kejuaraan, pasti percaya dirinya besar,” ungkapnya.

Meski begitu, ia tak serta merta merasakan kemudahan. Ia harus terus memotivasi Tyas ketika gadis berusia 20 tahun itu merasakan letih, jenuh, dan penurunan motivasi.

“Kadangkala Tyas nya jenuh enggak mau latihan. Kalau begitu biasanya saya motivasi. Saya bilang sekarang memang latihan keras, tapi nanti kalau berhasil, hasilnya kamu ambil sendiri. Alhamdulillah anaknya kembali semangat dan mau latihan terus,” pungkasnya.

Jurnalis: Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!