Lumbung Berita
NEWS TICKER

Obituari sang kyai : Kyai Thoyyiban sang Maestro Ilmu Falak telah berpulang

Selasa, 11 Juni 2024 | 7:01 am
Reporter:
Posted by: Redaksi
Foto : Kyai Toyiyban
 
 
 
Tepat 2 Minggu yang lalu kami (penulis) tidak sengaja berjumpa sosok Kyai kharismatik yang berasal dari desa kami Karangrejo, beliau adalah Kyai Thoyyiban. Perjumpaan itu terjadi di salah satu klinik daerah malang tempat biasa beliau memeriksakan dan mengontrol kesehatannya, memang beberapa tahun ini kondisi kesehatan beliau agak terganggu sehingga harus rutin untuk melakukan check up kesehatan. Dalam pertemuan itu beliau sempat bercanda bahwa cara berjalan beliau sekarang seperti Robot. Penulis tidak sadar kalau  perjumpaan itu adalah perjumpaan terakhir antara penulis dengan beliau. Semoga beliau selalu mendapatkan Rahmat dan maghfirah dari Gusti Allah SWT.
 
Pak ustadz Thoyyiban, begitu masyarakat sekitar biasa memanggilnya. Beliau dilahirkan 72 tahun yang lalu dari pasangan Pak Kahar dan Ibu Kartini di sebuah desa bernama Karangrejo. Desa yang terletak di kabupaten Pasuruan sebelah selatan berada di kaki gunung Arjuno.
 
Sebuah Desa yang kata orang daerah sekitar mempunyai culture intelektual begitu kuat dan mengakar, meski di desa tersebut tidak mempunyai lembaga pendidikan sekolah Tingkat Menengah Atas (SLTA) apalagi universitas, culture intelektual yang mengakar ini bisa dilihat dan dibuktikan dengan begitu mobile nan dinamisnya organisasi-organisasi kemasyarakatan yang ada di desa tersebut,  bukti lain yang bisa menunjukkan bahwa culture intelektual desa ini begitu mengakar adalah banyaknya Sarjana yang ada di desa ini, mulai dari S1, S2 sampai S3, bahkan menurut perhitungan ada sekitar 100-150 an sarjana.
 
Culture intelektual yang begitu mengakar ini tidak lepas dari hasil perjuangan sang kyai. diawali dengan beliau (kyai Thoyyiban) bersama teman-teman seperjuangan beliau seperti Alm. KH. Abd.Ghofar, Alm KH. M. Tauhid. Alm. Pak Usman Arif, Alm. Pak Rohani, Alm. Pak Karsono, Alm. Pak M. Thosim. Pak Imam suja’i, Mendirikan lembaga pendidikan berupa Yayasan bernama Miftahul Khoir, yang kemudian dari lembaga inilah lahir banyak para Intelektual di desa Karangrejo ini.
 
Tidak hanya berhenti disitu, dikediaman beliau juga berdiri lembaga pendidikan pesantren, Madin, dan juga TPQ bernama Alfalah yang berada dalam naungan yayasan Al-Ibrohimi, kebetulan ketua Yayasannya adalah Ayah penulis (saudara sekaligus sahabat beliau) Alm. H.Faishol Abidin.
 
Begitu besar dan kerasnya perjuangan beliau untuk pendidikan, sampai-sampai beliau mewakafkan diri beliau demi menghidupkan pendidikan, seluruh waktu kehidupan beliau hanya di curahkan untuk pendidikan. tidak hanya itu, harta beliau sebagian besar juga di wakafkan untuk pendidikan, hingga dalam suatu kesempatan beliau pernah dawuh kepada pengurus yayasan Al-Ibrohimi: kalau saja di perlukan, semua tanah ini rela aku wakafkan untuk pendidikan. Memang benar bahwa untuk mencetak ulama maka fondasi terbesarnya dengan mendirikan madrasah-madrasah (tempat pendidikan), seperti kata seorang Alim :
اِنّ العلماء لا يقيمون الّا مدرسة
Bahwa ulama itu tempatnya di Madrasah.
 
Kyai Thoyyiban merupakan Kiai kampung biasa, tetapi kedalaman ilmunya luar biasa sehingga diakui oleh para tokoh-tokoh Agama dan masyarakat baik didalam desa maupun dari luar desa, terutama ilmu falak sebagai spesialisasinya.
Yang penulis ketahui, untuk ilmu falak beliau mengkolaborasikan dua kitab utama yang di karang oleh ulama lokal Indonesia, pertama karangan Kyai Abdul Jalil  bin Abdul Hamid (1905M) ulama asal Margoyoso Tayu Pati Jawa Tengah,  kitabnya bernama فتح الرءوف المنان.
Metodologi kitab ini menggunakan metodologi hakiki taqribi (prakiraan yang mendekati kebenaran).
Yang kedua karangan KH. Maksum bin Ali (1877M) sang menantu hadlratussyeikh KH.Hasyim Asy’ari Jombang Jawa Timur. Kitabnya bernama :
بديعة المثال في حساب السنين والهلال. 
Kitab ini menggunakan metode hisab hakiki tahqiqi (akurasi tinggi).
Dengan menggunakan kedua kitab inilah kyai Thoyyiban biasa menentukan awal Ramadhan maupun hari Raya.
Tradisi falakiyah ini selanjutnya diteruskan oleh putra beliau mas M. Nufail dengan khazanah referensi kitab  yang lebih variatif dan metode yang lebih komprehensif, bahkan konon putra beliau ini menguasai beberapa macam metode hisab sekaligus seperti urfi, tahkiki, taribi maupun modern/ kontemporer.
 
Selain Alim, beliau Kyai Thoyyiban merupakan sosok humanis yang tidak pernah membedakan siapapun yang datang kepada beliau, semuanya di terima dengan tangan terbuka. Mulai dari para kyai yang ingin mengunduh ilmu-ilmu beliau terutama ilmu falaknya, kolega organisasi, anak muda hingga anak jalanan. Beliau berpedoman seorang ulama itu harus bisa ngayomi dan ngayemi kepada umatnya, tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Pesan beliau yang penulis ingat sampai sekarang, jika kamu melihat orang yang lebih tua darimu maka pandanglah kebaikannya lebih banyak darimu karena hidupnya lebih lama, jika kau melihat orang yang lebih muda darimu pandanglah dosanya lebih sedikit darimu karena  masa hidupnya setelah kamu.
 
Manhaj kyai Thoyyiban dalam memperlakukan umatnya ini senada dengan definisi ulama yang pernah disampaikan oleh Kiai Musthofa Bisri, bahwa Ulama adalah ;
 الذين ينظرون الامّة بعين الرحمة.
Orang-orang yang memandang umatnya dengan pandangan kasih sayang.
 
Tepat hari Jumat malam tanggal 07-06-2024 beliau berpulang menghadap Gusti Allah SWT, beliau berpulang dengan tenang dan sudah di tunggu oleh sang kekasih-NYa, beliau bilang bahwa jam 00.00 nanti sudah di tunggu di alam keabadian. 
Selamat jalan guruku, cahayamu selalu bersinar melalui murid-muridmu sebagai bentuk Amal baikmu yang akan menjadi persaksian kelak di hadapan sang Khalik yang maha pengasih lagi penyayang.
 
Penulis   : Nurhamidin
Penerbit : red
 

Baca Juga : klik disini 👇  Pencuri Kabel di PT. Cimory di Tangkap Polsek Purwosari

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!