Lumbung Berita
NEWS TICKER

Pertama dalam Sejarah Kepulungan, Banjir Meluluhlantakkan Satu Permukiman

Kamis, 4 Februari 2021 | 11:31 pm
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Duka mendalam masih dirasakan oleh Sindu. Pria berusia 59 tahun ini harus kehilangan cucu dan besan sekaligus dalam satu peristiwa.

Ya, luapan air bah dari sungai Kambeng menjadi awal bencana bagi Sindu. Sungai yang terletak di sebelah barat dusun yang terkenal dengan nama Genuk Watu itu meluber.

Sebenarnya, diantara sungai Kambeng dengan Genuk Watu terdapat jalan nasional Surabaya-Malang. Namun, tersendatnya arus sungai di jembatan Kepulungan membuat debit air tinggi dan meluber melintasi jalan Surabaya-Malang.

Arus sungai tak bisa mengalir lancar disinyalir terhalang benda-benda yang ikut terbawa arus. Beberapa diantaranya batang pohon dan pohon bambu. Benda-benda itulah yang menjadi semacam dam “dadakan”.

Bagi pengguna jalan, efeknya mungkin tak seberapa besar. Namun tidak demikian dengan warga Genuk Watu. Posisi pemukiman tersebut berada di sebelah timur jalan raya. Kontur tanahnya lebih rendah sekitar lima meter dari jalan.

Bisa dibayangkan ketika air bah mengalir deras ke Genuk Watu. Seketika menjadi horor. Layaknya tsunami, air menyapu semua yang dilaluinya.

“Tsunami” ini lah yang membuat Sindu kehilangan cucu dan besannya. Cucunya Nanda Jenny Sekar Arum (19) dan Besannya Sri Susminanti (60) menjadi korban keganasan arus.

“Nanda sempat diajak lari keluar sama ayahnya, Tomas. Tapi air terlalu besar untuk dilewati. Hingga Nanda lepas dari genggaman Tomas,” jelas Sindu.

Sejatinya, Tomas keluar bersama kedua anaknya, Nanda dan Meri (8). Sedangkan Sus -panggilan akrab Sri Susminanti- masih berada di dalam rumah.

Sapuan arus membuat pegangan tangan bapak-anak ini terlepas. Tomas ditemukan sekira 100 meter dari rumahnya. Meri pun demikian, ditemukan tak jauh dari Tomas.

Sedangkan Nanda tak ditemukan. Begitu juga dengan Sus. Sesaat Tomas berhasil lari keluar, seketika itu rumahnya ambruk dengan posisi Sus masih di dalam rumah.

Baca Juga : klik disini  KJJT dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Jenguk Keluarga Jurnalis

“Saat saya meninggalkan Ibu (Sus), saya pesan sama Ibu untuk pegangan erat ke teralis besi. Saya lari sama kedua anak saya, tapi terlepas karena arus begitu kuat,” ucap Tomas.

Pencarian Sus dan Nanda kemudian dilakukan tim BPBD Kabupaten bersama anggota TNI-Polri dan relawan. Hingga Kamis dini hari (04/02/2021), kedua orang ini tak ditemukan. Pencarian pun dihentikan sementara.

Paginya, kedua korban ditemukan di tempat berbeda. Sus ditemukan sekitar 1 km dari rumahnya. Sedangkan Nanda lebih jauh lagi. Perempuan yang baru saja bekerja di perusahaan rokok cerutu ini ditemukan di Tempel, Gempol. 10 km dari Genuk Watu.

Tomas, Sindu dan beberapa kerabat lainnya tak kuasa menahan haru. Salah satu keluarga korban bahkan sampai histeris memanggil-manggil Nanda. Pemakaman keduanya akhirnya selesai sekira pukul 11.00 WIB.

Sebelum rumah tersebut ambruk, Suryo (27) tetangga sebelah rumah Tomas, sempat melihat Sus berpegangan di teralis besi dengan kondisi air mencapai leher Sus.

“Saya sempat melihat Mbah Sus pegangan teralis. Airnya sudah selehernya beliau. Mbah Sus juga teriak-teriak minta tolong, tapi waktu itu saya sendiri sibuk menyelematkan istri saya,” akunya.

Sama halnya dengan Tomas, Suryo juga ikut hanyut terbawa arus. Bila Tomas hanyut ke arah utara, Suryo dan istrinya hanyut ke Timur. Beruntung Suryo dan istrinya selamat meski pasutri ini sempat terbawa arus hingga radius 200 meter.

“Alhamdulillah masih diberi selamat. Benar-benar pengalaman yang mengerikan,” ujar Satpam perusahaan rokok tersebut.

Setelah banjir reda, pemukiman Genuk Watu seperti kapal pecah. Rusak disana-sini. 5 rumah rata dengan tanah, 12 rumah rusak parah dan dan 13 rumah rusak ringan.

Baca Juga : klik disini  Kadispendik Kabupaten Pasuruan "Resmi" di Polisikan

Akses jalan di pemukiman tersebut pun hancur. Beberapa diantaranya bahkan sampai berlubang dalam. Warga Genuk Watu benar-benar sibuk. Tumpukan sampah dan lumpur mendominasi rumah-rumah warga.

Tak sedikit yang mencari harta bendanya hingga berjalan sejauh 500 meter. Sudah tak terhitung jumlah perabot rumah yang terseret Tsunami. Ada kulkas, motor, dan barang-barang rumah tangga lainnya.

Untuk mengamankan warganya, Kades Kepulungan Didik Hartono memilih Balai Dusun Kabunan sebagai tempat pengungsian.

Total ada 52 warga yang mengungsi. Sebagian lagi, hari ini, memilih tinggal dengan kerabatnya di lain Desa.

Didik mengakui, banjir kali ini adalah yang terdahsyat sepanjang sejarah di Genuk Watu. Jauh lebih besar daripada tahun 1971.

“Dulu juga pernah, saat 1971. Waktu itu (tinggi air) sepaha orang dewasa,” terang Didik.

Sebagai Kades, ia langsung bergerak mendata rumah-rumah warga yang terdampak. Selain itu, ia juga memastikan pasokan logistik cukup untuk para pengungsi.

“Alhamdulillah banyak yang membantu. Selain dari warga sekitar, bantuan juga mengalir dari perusahaan-perusahaan yang peduli dengan kita,” tuturnya.

Pendataan itu selanjutnya direspon oleh BPBD Kabupaten Pasuruan. Beberapa petugas BPBD langsung terjun ke lokasi untuk meninjau dan mengukur luas tanah milik korban yang kehilangan rumah.

Pemkab Pasuruan pun tak tinggal diam. Lewat Sekda Kabupaten Pasuruan, Anang Saiful Wijaya, Pemkab berjanji menyalurkan bantuan. Bantuan, sebut Anang, akan disalurkan langsung ke rekening masing-masing korban.

“Nanti rencananya akan terus memperhatikan korban dalam rangka kehidupan yang layak. Termasuk beberapa fasum yang sementara ini tidak berfungsi nanti segera difungsikan,” janji Anang.

Baca Juga : klik disini  Komunitas IPOK87, Bagikan Sembako Dua Desa di Purwodadi

Sama halnya dengan Anang, Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan menjamin institusinya tak akan tinggal diam.

Kekhawatiran korban banjir yang kehilangan surat-surat berharganya coba dijawab oleh perwira dengan pangkat dua melati tersebut.

Ia menjelaskan, surat-surat berharga akan menjadi fokus Polres Pasuruan. Bhabinkamtibmas, sambungnya, telah ia perintahkan untuk mendata tiap kepala keluarga.

“Masalah kehilangan surat-surat berharga semacam sertifikat, ijazah, STNK, BPKB dan lainnya akan menjadi fokus kami. Itu nanti akan kita identifikasi. Bagian Bhabinkamtibmas sudah kami perintahkan untuk mengakses masing-masing kepala keluarga,” terangnya.

Di sisi lain, yang tak kalah menariknya adalah penjelasan dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi. Ia menilai kewenangan sungai yang berbeda-beda tingkatan menimbulkan kesulitan dalam hal koordinasi.

“DPRD harus segera menyinkronkan terkait kewenangan sungai itu sendiri. Karena sungai itu kewenangannya ada yang pusat, provinsi, dan ada yang Kabupaten. Masalahnya ketika terjadi bencana seperti ini, DPRD Kabupaten dan Pemda pasti akan kesulitan untuk berkoordinasi,” paparnya.

Ia berharap ada sinkronisasi fungsi koordinasi antar lembaga. Sehingga bila ada kasus serupa, penanganannya tidak akan terlambat.

“Contoh BBWS itu bukan kewenangan kita. Kita hanya bisa melaksanakan fungsi koordinasi menyampaikan. Tapi kalau terlambat seperti ini yang susah juga. Mangkanya nanti saya harap teman-teman di DPRD dengan dinas terkait segera menyinkronkan terkait fungsi koordinasi,” jabarnya.

Sambil sedikit menyindir, Andri menyayangkan sampai sejauh ini, Kabupaten Pasuruan tidak memiliki alat deteksi banjir atau semacamnya.

“Bila perlu dibikin online lah. Deteksi banjir harusnya ada lah itu. Hari ini kan zamannya IT, tapi alat deteksi saja enggak punya,” pungkasnya.

Jurnalis : Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!