Lumbung Berita
NEWS TICKER

Polemik Mandi di Sumber Tetek Berujung “Happy Ending”

Jumat, 25 Desember 2020 | 5:45 pm
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Akhir tahun ini tampaknya menjadi akhir yang bahagia bagi Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur (Jatim) maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim.

Kedua pihak yang berseberangan akhirnya bisa sama-sama tersenyum. Pasalnya, Sumber Tetek Candi Belahan di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol kembali dibuka untuk umum. Masyarakat kembali bisa merasakan ritual di dalam kolam.

Sebelumnya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim) mengeluarkan surat edaran tertanggal 23 November 2020 yang berisi larangan mandi di Candi Belahan.

Penentangan pun muncul. Salah satu yang paling kencang menentang adalah FPK Jatim dan FPK Kabupaten Pasuruan. Belakangan, warga Wonosunyo juga ikut tak setuju.

FPK Jatim beralasan BPCB telah melarang prosesi ritual. Sebab mandi di dalam kolam adalah mandi ritual. Bukan mandi pada umumnya.

Sedangkan warga Wonosunyo, Kecamatan Gempol merasa BPCB menghilangkan tradisi budaya dan mengurangi pendapatan masyarakat sekitar.

foto : Kepala BPCB Jatim, Zakaria Kasimin (tiga dari kanan)

Di sisi lain, BPCB juga sama kerasnya dengan gelombang suara penolakan. BPCB tetap ogah memperbolehkan Candi Belahan untuk mandi. Baik untuk mandi umum maupun mandi untuk keperluan ritual.

BPCB Jatim beralasan, secara desain, Sumber Tetek Candi Belahan bukan untuk mandi. Karena tidak ada tempat khusus laki-laki dan wanita.

Selain itu, BPCB mengkhawatirkan kondisi bangunan Sumber Tetek Candi Belahan yang tak kokoh lagi.

Perseteruan itu semakin hari kian meruncing. Suara-suara sumbang di berbagai media sosial juga makin nyaring. Saat suasana deadlock itu lah, DPRD Kabupaten Pasuruan seolah menjadi oase di tengah gurun pasir.

Baca Juga : klik disini  Belajar Tatap Muka Siap Dibuka, Ketua DPD Imbau Ada Satgas Covid Sekolah

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi mengambil keputusan yang tepat. Menjadi mediator diantara dua kubu.

Mulai dari memfasilitasi audiensi pelaku seni dan budaya di gedung dewan, sampai mendatangi kantor BPCB Jatim.

“Senin lalu Pak Andri sudah datang ke kantor BPCB Jatim. Beliau menyampaikan aspirasi dari masyarakat yang keberatan dengan larangan mandi di dalam kolam,” kata Kepala BPCB Jatim, Zakaria Kasimin.

Hasilnya cespleng. Meski dengan berbagai syarat, BPCB akhirnya menganulir larangannya. Ya, BPCB Jatim mempersilahkan pelaku ritual untuk mandi. Dengan catatan, khusus untuk ritual. Bukan untuk yang lain.

“Kami perbolehkan mandi di kolam. Tapi mandi untuk keperluan ritual ya. Bukan untuk mandi seperti biasanya. Kalau mandi umum, tetap harus di (kamar mandi) bawah,” jelasnya saat dihubungi via Whatsapp (24/12/2020).

Syarat lain yang BPCB utarakan adalah batasan pengunjung di dalam kolam. Zakaria Kasimin membatasi pengunjung tak boleh lebih dari 10 orang.

Zakaria melanjutkan, data yang BPCB terima dari Arkeolog menyebutkan daya tahan tanah di dasar kolam sudah tidak stabil.

“Yang masuk kolam harus kurang dari 10 orang. Karena data yang kami terima dari Arkeolog, tanah di dasar kolam, daya tahannya sudah tidak stabil dan lagi ini masih masa pandemi,” terangnya.

Zakaria menerangkan, pihaknya berencana bertemu dengan para stakeholder untuk membahas Sumber Tetek Candi Belahan. Salah satu poin yang dibahas adalah pembangunan kolam baru di sekitar area Candi yang didanai dari APBD.

Baca Juga : klik disini  Launching "Program Pendampingan Lansia" Pertama di Kota Malang

“Pak Andri juga sanggup memfasilitasi pembangunan kolam untuk mandi di sekitar area Candi Belahan yang airnya masih dari Sumber Tetek tersebut. Mungkin bulan-bulan Januari akan kami agendakan pertemuan untuk membahas detailnya,” jelasnya.

Pencabutan larangan ini direspon baik oleh Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur (Jatim) dan budayawan lainnya.

Ketua FPK Jatim, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, mengapresiasi kinerja Andri Wahyudi yang telah berhasil mengawal keluhan budayawan.

“Kami ucapkan terima kasih secara khusus kepada Andri Wahyudi yang sudah mendedikasikan diri dengan bersusah payah menjadi mediator sehingga Sumber Tetek Candi Belahan bisa dibuka kembali,” ungkap Ki Bagong.

Kejadian ini, menurutnya, membawa nilai pembelajaran. Segala kebijakan, sambungnya, sebaiknya dikomunikasikan sebelum diputuskan.

“Apapun keputusan setidaknya bisa dibicarakan bersama dengan berbagai elemen. Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,” katanya.

Pelaku budaya lainnya, Cucuk Grenk, juga turut gembira dengan keputusan tersebut. Pria penghobi lomba burung itu mengaku siap mematuhi permintaan BPCB Jatim.

“Kami siap mengikuti (masuk kolam kurang dari 10 orang). Karena biasanya kami kalau ritual juga enggak pernah 10 orang. Kalau banyak pun, biasanya gantian. Sudah tradisinya seperti itu,” paparnya.

Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Andri Wahyudi memilih bersikap low profile.

Baca Juga : klik disini  Anggota Pemuda Pancasila PAC Purwosari "Tak Lupa Sholat" Saat Bertugas

Ketua DPC PDIP Kabupaten Pasuruan itu menuturkan dirinya hanya berusaha memfasilitasi aspirasi dari budayawan.

Di sisi lain, ia juga tak menutup mata dengan kondisi bangunan Sumber Tetek Candi Belahan yang mulai terkikis dan tidak stabil.

“Realistis saja. Kondisinya memang seperti itu. Yang penting kita bawa aspirasi dari teman-teman dan kita ambil jalan tengahnya,” terang Andri.

Keputusan mengizinkan kembali mandi untuk ritual menurut Andri adalah yang terbaik. Keputusan yang meredahkan polemik diantara keduanya.

“Boleh mandi. Tapi khusus untuk ritual. Dan dibatasi. Maksimal tak boleh lebih dari 10 orang. Itu hasil diskusi kita dengan BPCB Jatim,” ulasnya.

foto : Para Budayawan saat hadir di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan

Kedepan, ia bersama budayawan akan menggelar pertemuan untuk membahas aturan mandi. Nantinya, aturan yang disepakati tersebut akan ditempel disekitar area candi.

“Secepatnya kita gelar pertemuan. Untuk membahas protapnya. Contohnya enggak boleh pakai sabun, harus tertutup dan sebagainya,” jabarnya.

Andri tak memungkiri begitu tingginya antusias warga yang ingin mandi. Untuk itu, ia berencana mengusulkan pembangunan kolam lain disekitaran Sumber Tetek.

“Kami akan usulkan pembangunan kolam lain yang airnya masih dari Sumber Tetek. Lokasinya disekitaran candi tersebut. Jadi nanti warga tetap bisa mandi, tapi kelestarian candi tetap terjaga,” pungkasnya.

Dibukanya kembali kolam Sumber Tetek untuk mandi ritual jelas menyunggingkan senyum bagi budayawan dan warga sekitar.

Sebaliknya bagi BPCB, sejumlah aturan mandi ritual akan menjadi “sosok penjaga” kelestarian Candi Belahan.

Klop. Dua pihak kini tercapai keinginannya. Dua-duanya semringah dan sama-sama “Happy Ending”.

Jurnalis : Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!