Lumbung Berita
NEWS TICKER

Protes Larangan Mandi di Candi Belahan, FPK Jatim Gelar Teatrikal

Selasa, 22 Desember 2020 | 11:21 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Foto : Dewi Laksmi berjalan mengelilingi pelaku ritual

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Forum Pamong Kebudayaan Jatim, pagi tadi, melakukan aksi teatrikal dan pemasangan poster di Candi Belahan, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol (22/12/2020).

Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan seniman Pasuruan dan warga Wonosunyo terhadap larangan mandi di Candi Belahan.

Menurut Ketua FPK Jatim, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, teatrikal kali ini menceritakan peran pelaku ritual dalam pelestarian Candi Belahan.

Teatrikal yang bertajuk Elegi Dewi Laksmi ini dimulai dari kesedihan Dewi Laksmi karena air di Candi Belahan mampet.

“Dulu memang pernah terjadi penutupan yang berakibat airnya ikut berhenti mengalir. Dikhawatirkan kejadian seperti itu terulang kembali dan efeknya yang susah masyarakat,” terang Ki Bagong.

Foto : Seniman dan perangkat Desa Wonosunyo kompak menolak larangan mandi

Selanjutnya dalam salah satu adegan, digambarkan Dewi Laksmi mengelilingi para pelaku ritual. Setelah berjalan berkeliling, dalam sekejap air di dalam kendi Dewi Laksmi kembali mengucur.

“Artinya berkat para pelaku ritual itu lah, Dewi Laksmi bisa tersenyum kembali. Karena air kembali mengucur,” jelas Ki Bagong.

Baca Juga : klik disini  Jual Telur Tak Layak Konsumsi, Dua Warga Wonorejo Dibekuk Polisi

Pria domisili Prigen ini menjelaskan, pesan yang ingin disampaikan adalah segera cabut larangan ritual mandi di Candi Belahan.

“Terbukalah mata hati Kepala BPCB untuk membuka kembali fungsi dari patirtan ini. Karena sejak (Raja) Airlangga tempat ini dijadikan pemandian, dijadikan ritual. Bukan untuk depo isi ulang air mineral,” tegasnya.

Aksi ini rupanya tidak hanya didukung oleh seniman saja. Pantauan awak media, perangkat Desa Wonosunyo juga tampak hadir.

Kepada Lumbung Berita, Sekretaris Desa Wonosunyo, Mokh. Ansori menuturkan dirinya mendukung “protes” dari para seniman.

“Bagus sekali kegiatan ini. Unek-unek yang ada di masyarakat sudah terwakili dengan adanya acara ini,” akunya.

Sejak adanya banner larangan tersebut, Ansori beberapa kali menerima keluhan masyarakat. Keluhan masyarakat sekitar, sebut Ansori, adalah sepinya pengunjung yang berimbas sepinya pemasukan.

“Masyarakat sendiri keberatan. Karena di sini setiap malam Jumat selalu banyak pengunjung. Karena ada larangan ini, jadi sepi. Otomatis giat ekonomi berkurang,” tutupnya.

Jurnalis : Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!