Lumbung Berita
NEWS TICKER

Puluhan Ton Gula Lokal di Kabupaten Malang Belum Laku

Sabtu, 30 Januari 2021 | 5:53 am
Reporter:
Posted by: Redaksi

Malang_Lumbung-berita.com
Sedikitnya 65 ribu ton gula lokal masih mengendap dan belum terjual di gudang Pabrik Gula (PG) Krebet dan PG Kebon Agung, Selasa (26/01/2021).

Hal tersebut disinyalir karena tidak ada pengepul yang mau membeli. Pengepul lebih menunggu wacana Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang harganya lebih murah.

Menurut Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kebon Agung, Dwi Irianto, para pengepul tidak tertarik membeli gula lokal dengan alasan sebentar lagi akan beredar gula GKR dan gula impor.

“Gula lokal harganya lebih mahal daripada gula GKR dan gula mentah impor. Kalau gula lokal Rp10.800 per kilogram. Sedangkan gula impor sekitar Rp7.000 per kilogram. Itupun sudah diolah,” jelas Dwi.

Kekhawatiran ini sejatinya sudah dirasakan para petani tebu lokal, sejak Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan pada awal Oktober tahun lalu mengatakan bahwa pemerintah berencana membuka keran impor garam dan gula secara langsung untuk kebutuhan industri.

“Jika sama-sama sudah dijual dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) pada kisaran Rp12.000, maka masyarakat akan lebih memilih gula impor,” imbuhnya.

Baca Juga : klik disini  "Ngaku" Terlilit Utang, Pemuda Lekok Nekat Curi Motor

Situasi ini mengundang respons tiga asosiasi pengusaha di Malang, dengan mencetuskan sebuah gerakan untuk membeli gula produksi petani lokal.

Tiga asosiasi tersebut adalah Apkrindo (Asosiasi Pengusaha Kafe dan Resto Indonesia), APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), dan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia).

Ketua Apkrindo Malang, Indra Setiyadi menjelaskan, pada dasarnya tiga asosiasi ini merasa perihatin terhadap persoalan yang dihadapi para petani tebu.

“Sebagai bagian masyarakat, kami sangat prihatin melihat persoalan yang dialami para petani tebu. Untuk itu, bersama asosiasi-asosiasi kami mengajak masyarakat untuk mengutamakan membeli gula lokal. Meskipun harganya sedikit mahal, namun masih terjangkau,” ujar Indra saat ditemui di Rumah Makan Kertanegara, Jumat (29/1/2021).

Gerakan ajakan untuk menggunakan produk gula lokal, menurut Indra bertujuan untuk membantu kesejahteraan petani tebu lokal. Ia juga optimistis, gagasan ini juga akan didukung oleh komunitas-komunitas di Malang Raya.

“Dengan menggunakan gula lokal, otomatis hukum pasar tidak berlaku. Gula yang tertimbun di PG dapat didistribusikan ke pedagang maupun pengecer, yang selama ini kesulitan untuk didistribusikan,” ujarnya.

Baca Juga : klik disini  Rumah Janda Dusun Tanjung di Terjang Angin Ribut

Jurnalis : Herlin

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!