Lumbung Berita
NEWS TICKER

Sari Buah “Asri” Tak Kenal Pandemi

Rabu, 12 Mei 2021 | 4:36 pm
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Pernah minum sari buah dalam kemasan? Atau pernah melihat juga sari buah merek “Asri”? Jika pernah, pernahkan terbesit di pikiran bahwa produsen tersebut berdomisili di Pasuruan?

Ya, sari buah “Asri” asli Pasuruan. Tepatnya berada di Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Beberapa hari yang lalu, Lumbung Berita sempat mengintip dapur pembuatan sari buah tersebut.

Tempatnya sederhana. Sebuah rumah yang disulap jadi tempat produksi. Bagian depan -ruang tamu- menjadi tempat penyimpanan. Di ruang tengah digunakan untuk pengepakan dan pengemasan. Sedangkan ruang belakang sebagai tempat pemasakan.

Jumlah karyawan pun tak banyak. Hanya ada 4 orang pegawai tetap dibantu dengan seorang sopir dan 2 siswa kejuruan yang tengah magang.

Kekuatan produksinya berkisar 150-200 dus perhari. Sementara variannya terdiri dari berbagai rasa. Ada apel, jeruk, mangga, sirsak, kurma, jambu, dan matoa.

Usaha yang dirintis oleh Wiji Astutik bisa dibilang cukup sukses. Pandemi yang menghantam tak lantas membuat gulung tikar. Bahkan dua minggu menjelang lebaran, pihaknya sudah menutup pesanan. Saking membludaknya.

Baca Juga : klik disini  Pemerintah Desa Sumbersuko Lantik Perangkat Desa

“Empat bulan sebelum lebaran, saya sudah menyiapkan stok. Beberapa hari sebelum hari raya stok sudah habis. Total yang saya stok 10 ribu kardus,” ujar Wiji Astutik.

Salah satu kekuatan usaha sari buah “Asri” menurut perempuan dengan panggilan Wiji ini adalah kekeluargaan. Terbukti, sejak didirikan pada 2013, sampai sekarang karyawannya tak pernah keluar-masuk.

“Pegawai saya ini sudah ikut sejak 2013. Jadi suasana kekeluargaannya sangat kental,” ujar perempuan berkacamata tersebut.

Karena alasan kekeluargaan itu lah, ia memilih konsep manual dalam produksinya. Padahal kalau ia mau, ia bisa saja membeli alat yang lebih modern, yang bisa memproduksi dengan kuantitas yang jauh berlipat-lipat.

“Saya bisa saja pakai mesin dalam produksinya, tapi saya kasihan dengan karyawan saya. Kekeluargaan bagi saya adalah nomor satu,” lanjutnya.

Pangsa pasar yang disasar “Asri” sejatinya hanya di wilayah Pasuruan. Tidak merambah luar kota. Itu pun beberapa kali ia kewalahan memenuhi pesanan konsumen.

“Saya tak pernah memasarkan ke luar kota. Hanya di Pasuruan saja. Itu saja saya kuwalahan,” tuturnya.

Baca Juga : klik disini  Usai Bobol Kotak Amal Masjid Wonokoyo, Si Pencuri Lanjut Tidur

Untuk menyiasati kebutuhan order yang membludak, perempuan asli Malang Selatan ini tak segan-segan menggandeng industri rumahan lainnya. Ia membuktikan bahwa kompetitor tak membuat bisnisnya merugi.

“Saya tak pernah merasa tersaingi dengan pengusaha minuman lainnya. Bagi saya, pengusaha lain itu adalah mitra yang saling menguntungkan,” ungkapnya.

Tak jarang ia juga mengajarkan atau menjadi pembicara bagi pengusaha pemula yang tertarik dengan bisnis ini. Semua ia lakukan gratis.

“Basic saya adalah orang pemberdayaan. Makanya saya senang sekali bila harus mengajarkan tentang bisnis ini. Semuanya gratis. Tidak saya pungut biaya,” ucapnya.

Sayangnya, dari sekian banyak ia menjadi pembicara dan mentor, murid yang paling suksesnya justru dari luar Jatim. Di Solo tepatnya.

“Ada satu binaan saya di Solo yang sukses, dulunya TKW. Saya jadi ikut senang melihatnya. Puas batin saya. Kepuasan batin itu lah yang tidak bisa diukur dengan uang,” tegasnya.

Meski cukup sukses menghadapi pandemi, ia tak memungkiri banyaknya kendala yang ia hadapi. Utamanya terkait buah segar sebagai bahan utama. Tak jarang, ia sampai mencari bahan hingga luar kota, bahkan sampai luar provinsi.

Baca Juga : klik disini  Jelang Pensiun, Dua Personel Polres Pasuruan Naik Pangkat

Hal itu ia rasakan ketika memproduksi sari buah Matoa. Buah Matoa sendiri tak banyak beredar di Pasuruan. Rata-rata penghasil ataupun penjual Matoa berada di luar daerah.

“Saya sampai mencari di Pati Jawa Tengah. Sayang sekali, padahal sari buah ini sangat banyak penggemarnya,” bebernya.

Kendala lainnya adalah tingginya biaya bahan baku pendamping. Menurutnya, bahan baku pendamping seperti dus dan gelas plastik harus dibeli dengan jumlah banyak. Tak bisa dibeli per satuan.

“Bahan bakunya semuanya harus minimal order. Kayak karton, harus ada minim order berapa, enggak bisa beli satuan. Dan lagi di Pasuruan tidak ada yang jualan. Jadi mungkin faktor ini yang membuat orang-orang keberatan memulai usaha ini,” tukasnya.

Jurnalis : Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!