Lumbung Berita
NEWS TICKER

Trias, Pencetak Pesilat Handal Asal Pandaan: Tamparan Botol Jadi Metode Ampuh

Jumat, 29 Oktober 2021 | 5:57 pm
Reporter:
Posted by: Redaksi

Pasuruan_Lumbung-berita.com
Sekitar 30 anak, kemarin malam, tampak berlatih silat dengan giat. Diatas matras berwarna hijau mereka dengan tekun menendang samsak secara bergantian. “Bak-buk, bak-buk” suara samsak yang tertendang itu seakan memecah keheningan warga Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Diantara mereka tampak satu sosok yang cukup dominan. Memberikan instruksi, mengawasi, sekaligus membenarkan bila ada gerakan pesilat yang kurang tepat.

Begitulah suasana di tempat latihan Perisai Diri (PD) Ranting Pandaan. Di tempat ini lah, Tyas, sang peraih medali perak PON XX Papua cabor pencak silat dibesarkan. Di tempat ini pula, Tyas ditempa dan menjadi pesilat handal.

Sedangkan orang yang tampak dominan itu, bernama Trias Rudi Santoso. Seorang pelatih, pembentuk sekaligus penempa Tyas hingga menjadi atlet kaliber nasional.

Jumlah murid yang berlatih sekarang jauh lebih banyak dari pertama kali ia memutuskan terjun di dunia pelatihan. Salah satu penyebabnya, pencak silat kurang populer di mata masyarakat Pandaan.

“Mengenalkan dan mempromosikan silat di sini itu sulit. Beda dengan Nganjuk, Madiun, atau Magetan yang memang tradisi silatnya kental. Di sini silat masih dipandang olahraga yang tak bisa menghasilkan materi,” ujar Trias.

Namun, efek Tyas benar-benar terasa. Setelah Tyas meraih runner-up di kejuaraan dunia remaja di Thailand, perlahan-lahan jumlah muridnya naik. Sampai sekarang, jumlah muridnya sekitar 50 an. Terbagi dalam tiga kelas: Usia Dini (9-11), Pra Remaja (12-14), dan Remaja (15-17).

“Efek Tyas juara begitu terasa. Mulai ada yang datang berlatih. Apalagi usai diberitakan media, banyak orang-orang yang ingin mendaftarkan anaknya. Terus terang beberapa saya tolak. Karena keterbatasan pelatih. Saya takut enggak maksimal,” akunya.

Trias memang super serius saat menyiapkan program buat anak didiknya. Latihan berlangsung dua kali tiap harinya. Siang pukul 13.00-16.00 WIB. Lalu dilanjut malam pukul 19.00-22.00 WIB. Hari libur hanya pada Minggu saja.

Baca Juga : klik disini  167 Sertifikat Tanah di Baujeng Resmi Diserahkan

Tak heran, begitu pesilat nya turun gelanggang, gelimang prestasi acap kali diraih. Sudah tak terhitung berapa kali label juara umum didapat PD Ranting Pandaan. Baik gelaran kejurda maupun kejurnas.

“Pernah sebelum pandemi kami berangkat ke Banyuwangi. Kami berangkatkan 15 pesilat. Dari 15 itu, 1 orang meraih juara dua, sedangkan sisanya juara satu,” kenangnya bangga.

Mendidik pesilat yang mempunyai mental juara tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses fokus, kerja keras, dan dedikasi yang tinggi di dalamnya.

“Yang susah itu membentuk karakter tarung. Kalau latihan, porsinya sama. Mental ini yang susah. Kalau mentalnya kendor, di gelanggang bisa bahaya. Bisa jadi samsak hidup,” terangnya.

Pembentukan karakter bertarung ini lah yang tergolong unik. Trias menceritakan, pertama kalinya ia akan memberikan arahan. Pesilat diminta serius. Kalau setengah-setengah, mending keluar.

“Saya tekankan sejak awal, kalau serius, ayo. Kalau enggak, mending berhenti sampai disini. Alhamdulillah seluruh anak didik saya enggak ada yang berhenti dengan penerapan sistem saya,” jelasnya.

Itu saja belum cukup. Kadang tak dipungkiri pesilat punya rasa kecil hati. Keder dengan lawannya. Kalau masalah ini muncul, Trias punya resep mujarab.

Saat jeda pertandingan, ia tak segan-segan menampar pesilat nya berulang kali menggunakan botol air mineral. Tamparan yang jelas tak memberi efek rasa sakit, tapi cukup membuat malu karena disaksikan seluruh penonton yang hadir.

“Tamparan itu jelas bikin malu karena dilihat seluruh penonton. Pasti setelah itu emosi. Dari emosi itu mentalnya naik dan hilang rasa takutnya,” ujarnya.

Baca Juga : klik disini  Reses Tahap III, H.Ahmad Hilmy.S,Ag Sukses Realisasikan Alat Pertanian

Dedikasi yang begitu tinggi itu tak lepas dari jiwa silat yang tertancap dalam hatinya. Jauh sebelum ia melatih, ia sempat mundur total dari dunia persilatan. Tepatnya saat 2009.

Ia yang masih begitu belia dan memiliki karir sedang menanjak, memutuskan pensiun usai berselisih hebat dengan pelatihnya. Total tujuh tahun ia keluar dari hingar bingar persilatan.

“Saya vakum tujuh tahun. Merintis usaha lain. Untung istri sangat mendukung apapun yang saya putuskan. Kala itu, saya yakin saya bisa cari sandang pangan di luar silat,” ucapnya.

Namun, hati tak bisa dibohongi. Sekuat apapun ia melupakan, keinginan terjun di persilatan makin besar. Apalagi, ia miris melihat PD Pandaan yang seolah mati suri usai ditinggal Rudi Cimok pensiun.

“Pertapaan”-nya selama tujuh tahun ia sudahi. Ia kembali ke dunia persilatan. Ia temui pelatih yang sempat bersitegang dengannya untuk meminta maaf. Ia bertekad akan membalas budi pelatihnya tersebut.

“Setelah merenung, saya ambil keputusan, datang ke pelatih saya dulu. Saya minta maaf. Saya bertekad membalas budi. Karena mulai kecil, beliaulah yang berjasa di kehidupan saya. Beliau sudah saya anggap orang tua sendiri,” tuturnya.

Murid pertama yang ia latih adalah Tyas. Setelah Tyas, dua tahun berikutnya adalah keponakannya sendiri. Ia lebih memilih dari kalangan saudaranya karena lebih leluasa mengatur anak didiknya tersebut.

“Kalau saudara sendiri itu enak. Saya minta anaknya tidur di rumah saya. Secara pengawasan dan disiplin lebih terkontrol. Kalau anak orang lain, belum tentu orang tua nya setuju,” bebernya.

Dengan metode yang ia terapkan, seluruh keponakannya tersebut sukses menjadi pesilat handal. Anak yang dari awal hanya berkutat di rumah: makan-tidur-main game, ia ubah menjadi pribadi yang disiplin, berdedikasi, dan bermental tarung ganas.

Baca Juga : klik disini  Heru, Pengamat Burung Asal Prigen yang Mendunia

“Saya cuma mengarahkan dan memberi saran. Sebetulnya yang membentuk karakter itu ya mereka sendiri. Kemauan mereka kuat dan itu modal penting meraih sukses,” katanya.

Hasil dedikasi tersebut perlahan terlihat. PD Pandaan mulai disegani kembali. Bupati Cup layaknya menjadi ajang “menjala” juara. Dua tahun berturut-turut keluar sebagai juara umum. Banyak juga perguruan lain yang mengajak PD Pandaan berlatih tanding.

“Sejak Bupati Cup juara umum terus, banyak perguruan lain yang datang ke saya. Minta resepnya, kok bisa anak yang masih kecil-kecil bisa bagus. Jadi sekarang banyak yang ingin ngajak sparring, karena pesilat kami dinilai bagus-bagus,” paparnya.

Melihat hal itu, Trias mengaku bangga. Keinginan menjadikan PD Pandaan disegani lagi mulai jadi nyata. Namun, ia memastikan tak akan berhenti sampai disini.

Kedepannya, ia bertekad mengantarkan pesilatnya tampil di PON mendatang di Aceh. Bersatu dengan Tyas yang sudah otomatis masuk Tim PON Jatim. Target lainnya, ia yakin dapat mencetak Tyas-Tyas lainnya.

“Saya yakin saya bisa mencetak Tyas-Tyas lainnya. Tyas sendiri sudah masuk tim inti. Saya ingin adik-adiknya lolos dan bergabung dalam Tim PON Jatim. Sehingga bisa berkumpul bersama Tyas,” harapnya.

Dalam pantauan penulis, harapan Trias tak mustahil tergapai. Anak didiknya begitu energik dan tak kenal lelah. Tak ada raut sambat di muka mereka. Semua program latihan dilahap habis.

Ingin juga rasanya penulis bergabung bersama mereka menendang samsak atau sekadar ikut gerakan silat. Tapi, mending tidak. Daripada wajah penulis merah-merah dipukul botol air mineral.

Jurnalis: Indra

Berita Lainnya

PT.REDAKSI LUMBUNG BERITA 
error: Content is protected !!