Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Jalur Gaza, Hussam Abu Safiya, ditahan Israel sejak Desember 2024. Dokter anak berusia 52 tahun ini dikenal luas setelah mengunggah kondisi mengerikan rumah sakitnya selama serangan Israel.
Penahanan yang Tidak Manusiawi
Pengacara Abu Safiya, Gheed Qassem, menggambarkan kondisi kliennya sebagai “tidak manusiawi”.
Qassem mengunjungi Abu Safiya di penjara Ofer, Tepi Barat, pada 19 Maret 2025 dan mendapati kondisi kesehatan Abu Safiya sangat mengkhawatirkan.
Penyiksaan Fisik dan Psikologis
Abu Safiya mengalami kelelahan akibat penyiksaan, tekanan, dan penghinaan. Ia dipaksa mengakui tindakan yang tidak dilakukannya.
Penahanan tersebut mengakibatkan penurunan berat badan signifikan, mencapai 20 kilogram dalam dua bulan, serta patah tulang rusuk tanpa perawatan medis memadai.
Kondisi Kesehatan yang Memburuk
Abu Safiya menderita tekanan darah tinggi, aritmia jantung, dan masalah penglihatan. Kondisi kesehatannya terus memburuk akibat penahanan yang tidak manusiawi.
Meskipun demikian, Abu Safiya tetap tenang dan mempertanyakan alasan di balik perlakuan tidak manusiawi yang diterimanya.
Tuduhan Agen Hamas dan Penolakan Abu Safiya
Militer Israel menuduh Abu Safiya sebagai “agen Hamas”.
Namun, Abu Safiya membantah tuduhan tersebut dan bersikeras hanya menjalankan tugas kemanusiaan sebagai dokter anak.
Interogasi dan Penolakan Pengakuan
Sipir penjara menuntut Abu Safiya mengakui telah mengoperasi anggota Hamas atau sandera Israel.
Ia menolak semua tuduhan dan menegaskan tindakannya semata-mata didasarkan pada kewajiban moral, profesional, dan kemanusiaan terhadap pasiennya.
Kronologi Penahanan dan Lokasi
Awalnya ditahan selama dua minggu di pangkalan militer Sde Teiman, kemudian dipindahkan ke penjara Ofer.
Di Sde Teiman, Abu Safiya mengalami interogasi yang melibatkan pemukulan, penganiayaan, dan penyiksaan.
Penjara Ofer menjadi tempat penahanan ratusan tahanan Palestina lainnya.
Pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait kondisi penahanan Abu Safiya.
Kasus penahanan Abu Safiya menyoroti kondisi memprihatinkan yang dialami para pekerja medis di tengah konflik di Jalur Gaza. Perlu adanya investigasi independen untuk memastikan perlindungan hak asasi manusia bagi semua pihak yang terlibat, termasuk tenaga medis yang menjalankan tugas kemanusiaan.





