Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berencana menggunakan dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) untuk menata sejumlah taman di Jakarta dan membukanya selama 24 jam.
Dukungan DPRD DKI terhadap Rencana Penataan Taman 24 Jam
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menyambut baik rencana tersebut. Ia menilai penggunaan dana KLB sebagai alternatif pembiayaan merupakan langkah yang bagus.
Yuke menekankan pentingnya perencanaan, pengawasan yang ketat oleh dinas terkait, dan penataan taman yang menyeluruh agar tercipta taman-taman yang berkualitas tinggi, menarik, dan ikonik bagi Jakarta.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Rany Maulani, turut memberikan dukungan. Ia mengingatkan pentingnya persiapan matang agar rencana baik ini tidak menimbulkan masalah baru.
Pertimbangan Penggunaan Dana KLB
Penggunaan dana KLB untuk proyek ini telah dipertimbangkan matang oleh pemerintah daerah. Transparansi dan percepatan proses administrasi menjadi prioritas.
Dana KLB yang semula sering terhambat birokrasi, kini akan dipercepat prosesnya dan sepenuhnya digunakan untuk kepentingan masyarakat Jakarta.
Detail Rencana Penataan Taman dan Lokasi
Beberapa taman yang akan ditata dan dibuka 24 jam adalah Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Penataan meliputi perapian area parkir, renovasi toilet, dan penambahan jogging track. Pembukaan 24 jam sejalan dengan rencana menjadikan Blok M sebagai ibu kota ASEAN.
Sejarah Penggunaan Dana KLB di Jakarta
Penggunaan denda atau kompensasi KLB untuk proyek pembangunan publik telah dilakukan sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 175 Tahun 2015 tentang Pengenaan Kompensasi terhadap Pelampauan Nilai Koefisien Lantai Bangunan mengatur penggunaan dana KLB. Kebijakan ini berlanjut hingga masa kepemimpinan Anies Baswedan.
Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta saat ini, menekankan komitmen transparansi dalam penggunaan dana KLB untuk penataan taman ini.
Harapannya, penataan taman ini tidak hanya terbatas pada tiga taman tersebut, namun meluas ke seluruh wilayah Jakarta. Dengan demikian, program ini akan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi warga Jakarta dan mendukung citra kota global.





