Rekonstruksi Penembakan Kopda Basar: Keluarga Ungkap Banyak Kebohongan

Keluarga tiga anggota Polres Way Kanan yang tewas ditembak Kopda Basar menolak hasil rekonstruksi yang dilakukan Denpom II/3 Lampung. Mereka menduga penyidik berupaya melindungi Kopda Basar.

Keraguan Keluarga Terhadap Rekonstruksi Penembakan

Sapril Eka Putra, keponakan AKP Anumerta Lusiyanto, menyatakan ketidakpercayaannya terhadap skenario penembakan yang disajikan. Menurutnya, luka tembus di samping tubuh pamannya tidak mungkin terjadi jika terjadi baku tembak berhadapan.

Bacaan Lainnya

Ia menilai rekonstruksi tersebut penuh rekayasa dan bertujuan untuk membohongi publik. Hal ini disampaikannya kepada awak media detikSumbagsel pada Kamis (17/4/2025).

Luka Tembus di Samping Tubuh Korban

Luka tembus di samping tubuh AKP Anumerta Lusiyanto menjadi poin utama keraguan keluarga. Mereka mempertanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi jika kedua belah pihak terlibat baku tembak secara langsung.

Kondisi luka tersebut, menurut keluarga, menguatkan dugaan bahwa penembakan telah direncanakan dan korban menjadi target. Rekonstruksi yang disajikan dianggap tidak mencerminkan kejadian sebenarnya.

Kesaksian Keluarga Lain yang Meragukan

Dwi Haryati, kakak Aipda Anumerta Petrus, juga menyatakan keraguannya terhadap rekonstruksi tersebut. Ia menganggap keterangan yang menyebut adiknya melakukan pengejaran adalah tidak benar.

Dwi Haryati menolak tuduhan suap dan meminta keadilan serta hukuman seberat-beratnya bagi Kopda Basar, bahkan hukuman mati. Ia menekankan fakta bahwa adiknya tidak melakukan pengejaran seperti yang diklaim dalam rekonstruksi.

Pernyataan Ibu Briptu Anumerta Ghalib

Suryalina, ibu Briptu Anumerta Ghalib, juga mengungkapkan adanya kebohongan dalam rekonstruksi. Ia membantah anaknya menembak terlebih dahulu.

Saksi yang hadir saat kejadian juga membenarkan pernyataan Suryalina. Ia menilai tuduhan anaknya menembak duluan dan melakukan pengejaran adalah tidak benar dan sangat kejam.

Tuntutan Keadilan dan Transparansi

Keluarga korban secara tegas menuntut keadilan dan meminta proses hukum berjalan transparan. Mereka merasa rekonstruksi yang dilakukan tidak objektif dan cenderung melindungi Kopda Basar.

Ketidakpercayaan keluarga terhadap proses hukum yang sedang berjalan menunjukkan pentingnya transparansi dan investigasi yang independen untuk mengungkap kebenaran di balik kasus penembakan ini. Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi penegakan hukum di masa mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *