Amerika Serikat dan Ukraina resmi menandatangani kesepakatan pembentukan dana investasi rekonstruksi pada Rabu (30/4) di Washington. Kedua pemerintah mengonfirmasi kesepakatan ini, meskipun detail lengkapnya belum dipublikasikan. Kesepakatan tersebut dipercaya memberikan akses istimewa bagi AS terhadap sumber daya strategis Ukraina yang vital bagi industri teknologi tinggi.
Namun, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Ekonomi Ukraina, Yulia Svyrydenko, memastikan bahwa Ukraina tetap memiliki kendali penuh atas seluruh sumber daya mineralnya. Kerja sama ini tidak mengorbankan kedaulatan Ukraina atas kekayaannya.
Ukraina Tegaskan Kedaulatan Atas Sumber Daya
Yulia Svyrydenko menegaskan kembali komitmen Ukraina untuk mempertahankan kendali penuh atas seluruh sumber daya alam di negaranya. Hal ini disampaikan melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter).
“Negara Ukraina yang menentukan apa dan di mana akan mengekstraksi,” tulis Svyrydenko. Ia menekankan bahwa pengelolaan dana investasi rekonstruksi akan dilakukan bersama oleh kedua negara. Tidak ada pihak yang dominan, mencerminkan kemitraan yang setara.
Kesepakatan Rekonstruksi: Upaya Akhiri Konflik dan Dorong Pemulihan Ekonomi
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menjelaskan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari upaya mengakhiri konflik yang dipicu invasi Rusia pada 2023. Kesepakatan ini, menurut Bessent, memberikan sinyal kuat kepada Rusia tentang komitmen AS terhadap perdamaian.
Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa kemitraan ekonomi ini memungkinkan kerja sama dan investasi bersama antara AS dan Ukraina. Tujuannya adalah untuk mempercepat pemulihan ekonomi Ukraina dengan memanfaatkan aset, bakat, dan kapabilitas kedua negara.
Trump Desak Imbal Balik yang Lebih Besar
Mantan Presiden Donald Trump, dalam wawancara dengan NewsNation, menyatakan bahwa kesepakatan ini “secara teori” memungkinkan AS mendapatkan lebih banyak dari Ukraina daripada yang telah dikontribusikan. Ia menginginkan perlindungan dan tidak ingin terlihat “bodoh” karena tidak mendapatkan imbalan yang sepadan atas bantuan AS kepada Ukraina.
Kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan pada Januari 2025 mendorong upaya mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Namun, ia juga menyatakan ketidakpuasan atas kompensasi yang diterima Kyiv atas dukungan militer dan keuangan yang telah diberikan. Trump menginginkan Washington mendapatkan imbal balik yang lebih besar.
Bessent menanggapi pernyataan Trump dengan menjelaskan visi presiden tersebut tentang kemitraan antara rakyat Amerika dan Ukraina. Kemitraan ini, kata Bessent, didasarkan pada komitmen bersama terhadap perdamaian dan kemakmuran jangka panjang di Ukraina.
Tidak ada negara atau individu yang membiayai atau memasok mesin perang Rusia yang akan diizinkan untuk mengambil keuntungan dari proses rekonstruksi Ukraina, tegas Bessent.
Parlemen Ukraina masih harus meratifikasi perjanjian ini. Negosiasi sempat mengalami titik kritis setelah perselisihan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Trump di Gedung Putih pada Februari lalu. Proses ratifikasi ini akan menentukan implementasi resmi dari kesepakatan tersebut.
Perjanjian ini menjadi langkah signifikan dalam upaya rekonstruksi Ukraina pasca-konflik. Namun, perbedaan pandangan antara AS dan Ukraina, khususnya terkait pembagian sumber daya dan imbalan atas bantuan, masih perlu diatasi untuk memastikan keberhasilan kerja sama jangka panjang. Peran parlemen Ukraina dalam meratifikasi perjanjian ini sangat krusial untuk menentukan masa depan kerja sama tersebut.





