Korea Selatan tengah menghadapi dinamika politik yang cukup menegangkan. Pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol akibat kontroversi upaya pemberlakuan darurat militer telah meninggalkan kekosongan kepemimpinan. Kini, mantan Perdana Menteri Han Duck-soo secara resmi mencalonkan diri dalam pemilihan presiden yang akan diselenggarakan pada 3 Juni 2025.
Langkah Han Duck-soo ini mengejutkan sekaligus menarik perhatian publik. Ia berjanji akan melakukan reformasi konstitusi dan hanya akan menjabat selama tiga tahun jika terpilih.
Han Duck-soo: Janji Reformasi dan Masa Jabatan Tiga Tahun
Han Duck-soo, tokoh berpengalaman dengan karier panjang di pemerintahan Korea Selatan, mengumumkan pencalonannya di tengah krisis politik yang sedang melanda negara tersebut. Ia berusia 75 tahun dan memiliki rekam jejak yang panjang sebagai Menteri Keuangan dan Duta Besar untuk Amerika Serikat.
Salah satu janji kampanyenya yang paling menonjol adalah reformasi konstitusi. Ia bertekad untuk menyeimbangkan kekuasaan eksekutif dan legislatif.
Komitmen lain yang disampaikan Han adalah batasan masa jabatannya. Jika terpilih, ia hanya akan menjabat selama tiga tahun. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan pemilihan umum serentak sesuai konstitusi yang telah diamandemen.
Tujuannya jelas: menciptakan transisi kekuasaan yang stabil dan demokratis di Korea Selatan. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk meredakan ketegangan politik.
Latar Belakang dan Rencana Reformasi Pemerintahan
Han Duck-soo memiliki pengalaman lebih dari empat dekade di pemerintahan Korea Selatan. Kariernya yang gemilang mencakup posisi-posisi penting seperti Menteri Keuangan dan Duta Besar untuk Amerika Serikat.
Ia berencana untuk melakukan reformasi yang signifikan pada sistem pemerintahan Korea Selatan. Fokus utamanya adalah mengurangi kekuasaan eksekutif.
Han juga menargetkan amandemen konstitusi untuk menyelaraskan pemilihan presiden dan parlemen. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta sistem pemerintahan yang lebih seimbang dan demokratis.
Reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas pemerintah. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk memperkuat demokrasi di Korea Selatan.
Tantangan Politik dan Posisi Han dalam Persaingan
Meskipun belum didukung secara resmi oleh partai politik mana pun, Han Duck-soo dianggap sebagai calon potensial dari Partai Kekuatan Rakyat (PPP). Partai ini sedang menghadapi krisis internal pasca pemakzulan Presiden Yoon.
Namun, langkah Han meninggalkan jabatannya sebagai presiden sementara di tengah ketidakstabilan politik mendapat kritik dari beberapa pihak. Keputusan tersebut dinilai kurang bijaksana.
Saingan terkuat Han, Lee Jae-myung dari Partai Demokrat, sedang menghadapi tantangan hukum. Mahkamah Agung memutuskan untuk mengulang persidangan atas tuduhan pelanggaran hukum pemilu.
Meskipun demikian, Lee Jae-myung masih memimpin dalam jajak pendapat dengan dukungan sekitar 42%, sedangkan Han Duck-soo mendapatkan sekitar 13%. Persaingan ini akan sangat ketat.
Pemilihan presiden mendatang sangat penting bagi masa depan politik Korea Selatan. Kepemimpinan yang stabil dan reformis sangat dibutuhkan untuk mengatasi ketidakstabilan yang telah terjadi.
Dengan latar belakangnya sebagai birokrat berpengalaman dan pendekatan yang moderat, Han berharap dapat menarik dukungan pemilih yang menginginkan perubahan dan stabilitas. Namun, jalan menuju kursi kepresidenan masih panjang dan penuh tantangan.
Ke depan, perlu dilihat bagaimana Han Duck-soo akan meyakinkan publik dan mengatasi tantangan politik yang ada. Persaingan ketat ini dipastikan akan menjadi sorotan dunia internasional.





