India akan menjadi pusat produksi iPhone untuk pasar Amerika Serikat. CEO Apple, Tim Cook, mengumumkan hal ini pada Kamis (1 April) lalu, mengungkapkan pergeseran signifikan dalam strategi rantai pasokan perusahaan.
Pengumuman tersebut disampaikan bersamaan dengan rilis laporan keuangan kuartalan Apple. Perubahan ini merupakan respon terhadap kebijakan tarif impor yang diberlakukan sebelumnya oleh pemerintahan Donald Trump.
Tarif Trump dan Strategi Apple
Selama bertahun-tahun, Apple mengandalkan pabrik-pabrik di Cina untuk memproduksi iPhone. Namun, bea masuk tinggi yang dijatuhkan oleh pemerintahan Trump memaksa Apple untuk mencari alternatif.
Meskipun ada penangguhan sementara untuk beberapa produk teknologi, ancaman tarif tetap ada. Hal ini mendorong Apple untuk diversifikasi produksi.
Cook menjelaskan bahwa tarif tersebut, jika tetap berlaku, akan menambah beban biaya ratusan juta dolar bagi Apple.
Ia memproyeksikan tambahan biaya sekitar $900 juta (sekitar Rp 14,58 triliun) pada kuartal April-Juni 2025, dengan asumsi kebijakan tarif tidak berubah.
Pergeseran Produksi ke India dan Vietnam
Sebagai solusi, Apple akan menggeser sebagian besar produksi iPhone ke India. Cook menyatakan bahwa mayoritas iPhone yang dijual di AS akan berasal dari India.
Sementara itu, Vietnam akan menjadi basis produksi utama untuk produk Apple lainnya yang dijual di AS, termasuk iPad, Mac, Apple Watch, dan AirPods.
Meskipun demikian, Cina tetap menjadi pemain kunci dalam produksi Apple. Sebagian besar produk Apple untuk pasar luar AS masih akan diproduksi di Cina.
Dampak pada Pasar Cina dan Kinerja Keuangan Apple
Penjualan Apple di Cina mengalami penurunan sebesar 2,3% pada kuartal Maret 2025, mencapai $16 miliar (sekitar Rp 265,94 triliun).
Persaingan ketat dari produsen lokal seperti Huawei, Xiaomi, dan Oppo, serta keterlambatan dalam menghadirkan fitur kecerdasan buatan, menjadi beberapa faktor penyebabnya.
Namun, penurunan penjualan di Cina tidak menghentikan pertumbuhan Apple secara keseluruhan. Laba perusahaan pada kuartal pertama 2025 mencapai $24,78 miliar, naik 4,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan juga meningkat 5,1% menjadi $95,36 miliar, didorong oleh permintaan iPhone yang tetap tinggi di pasar lain, termasuk Amerika, Eropa, dan beberapa negara Asia.
Meskipun menghadapi tantangan di Cina, strategi diversifikasi produksi Apple, khususnya pergeseran produksi iPhone ke India, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis global.
Ke depannya, menarik untuk melihat bagaimana strategi ini akan berdampak pada persaingan global dan posisi Apple di pasar internasional.





