Proses konklaf pemilihan Paus baru pasca wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April lalu, telah memicu kehebohan di media sosial. Netizen dunia, terutama di Amerika Serikat, ramai membahas tradisi rahasia Gereja Katolik yang telah berlangsung berabad-abad ini. Fenomena ini bahkan menarik perhatian Presiden Donald Trump yang mengunggah gambar AI dirinya mengenakan jubah kepausan.
Perbincangan di media sosial, khususnya Twitter (kini X) dan TikTok, mencapai skala yang luar biasa. Miliaran tayangan dan jutaan tweet menunjukkan minat global yang tinggi terhadap konklaf ini.
Demam Konklaf di Media Sosial: Sebuah Fenomena Global
Lebih dari 1,3 juta tweet membahas konklaf di platform X, menurut data Visibrain. Sementara itu, di TikTok, video-video terkait konklaf telah ditonton lebih dari 363 juta kali.
Popularitas ini tidak hanya terbatas pada pengguna Katolik. Bahkan, mereka yang bukan penganut Katolik turut penasaran dengan proses pemilihan pemimpin spiritual bagi miliaran umat di dunia.
Misteri dan Kemegahan Konklaf: Daya Tarik bagi Generasi Muda
Para pengamat dan netizen antusias mengikuti proses konklaf, bahkan memainkan permainan online “Mantapa” untuk memprediksi Paus berikutnya. Hal ini menunjukkan tingginya engagement publik.
Refka Payssan, peneliti ilmu informasi dan komunikasi, menjelaskan bahwa unsur misteri, kemegahan, dan ritual konklaf—dari Kapel Sistina hingga asap hitam atau putih—sangat menarik dalam format naratif media sosial.
Stephanie Laporte, pendiri konsultan strategi digital OTTA, menambahkan bahwa unsur kerahasiaan dan kemegahan konklaf memicu spekulasi dan rasa ingin tahu, khususnya di kalangan generasi muda.
Strategi Komunikasi Vatikan di Era Digital
Keberhasilan Vatikan dalam memanfaatkan media sosial untuk menjangkau generasi muda turut berkontribusi terhadap fenomena ini. Akun Twitter resmi kepausan, @pontifex, memiliki 50 juta follower dan aktif memposting pesan dalam sembilan bahasa.
Penggunaan media sosial oleh Vatikan secara efektif telah membangun keterlibatan dengan generasi muda, terbukti dari antusiasme yang luar biasa dalam mengikuti proses konklaf kali ini.
Konklaf, bagi banyak orang, bukan sekadar proses pemilihan pemimpin agama, tetapi juga peristiwa sejarah langka yang menarik perhatian dunia. Interaksi media sosial di sekitar konklaf ini menunjukan bagaimana peristiwa global dapat menciptakan engagement masif di era digital. Keberhasilan Vatikan dalam memanfaatkan platform digital juga patut diacungi jempol.





