Pemerintah Indonesia memastikan jemaah haji Indonesia di Madinah menikmati cita rasa masakan Tanah Air selama ibadah haji 2025. Kerja sama dengan sejumlah dapur katering lokal di Arab Saudi, dengan koki dan bumbu-bumbu asli Indonesia, menjamin kelezatan menu-menu Nusantara tetap terjaga.
Salah satu dapur katering yang ditunjuk adalah Uhud Taibah for Catering, yang memiliki dua area dapur. Dapur kering digunakan untuk meracik bumbu siap pakai yang didatangkan langsung dari Indonesia. Sementara itu, *hot room* atau ruang memasak utama dilengkapi panci-panci besar untuk pengolahan makanan dalam jumlah banyak.
Cita Rasa Nusantara di Tanah Suci
Muhammad Suhendi, koki utama asal Cisarua, Bogor, menjelaskan bahwa hampir seluruh bumbu masakan yang digunakan berasal dari Indonesia. Pemerintah membantu pengiriman bumbu siap pakai langsung dari Tanah Air untuk memastikan cita rasa khas Indonesia tetap terjaga.
Suhendi menambahkan bahwa rasa bumbu impor cenderung lebih kuat dibandingkan bumbu Indonesia. Hal ini membuat masakan terasa lebih ringan dan sesuai dengan lidah jemaah haji Indonesia.
Menu Makan Jemaah Haji
Menu makanan jemaah haji telah disusun oleh petugas haji Indonesia. Kombinasi menu Nusantara dan hidangan khas Arab Saudi menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan selera jemaah.
Setiap Jumat, menu spesial nasi Arab dengan ayam panggang dan kurma disajikan. Namun, menu makanan Indonesia tetap mendominasi, seperti nasi uduk, orek tempe, dan berbagai jenis sambal.
Pengawasan Ketat Kualitas Makanan
Dadang Suratman, tenaga ahli pengawas konsumsi haji dari Poltekpar NHI Bandung, menjelaskan pengawasan ketat terhadap distribusi makanan hingga sampai ke tangan jemaah. Suhu makanan dijaga agar tetap hangat saat tiba di hotel.
Makanan harus disajikan dalam kondisi hangat, sekitar 80 derajat Celcius, untuk menjaga kualitas dan keamanan konsumsi. Tim KKHI dan kesehatan akan memeriksa kelayakan makanan sebelum dibagikan. Makanan yang tidak layak konsumsi akan ditahan. Dadang juga mengingatkan jemaah untuk segera mengkonsumsi makanan setelah dibagikan agar tetap segar. Makanan sisa yang tidak dikonsumsi dalam waktu tertentu harus dibuang untuk menjaga keamanan dan kesehatan.
Proses penyiapan makanan dimulai sejak malam hari agar siap dibagikan ke hotel pada pagi hari pukul 6. Hal ini memastikan makanan tetap hangat dan terjaga kesegarannya.
Jemaah haji diimbau untuk menghabiskan makanan pagi sebelum jam 9, makan siang sebelum jam 4 sore, dan makan malam paling lambat jam 9 malam. Hal ini untuk mencegah pembusukan dan menjaga kesehatan jemaah.
Dengan pengawasan yang ketat dan kerja sama yang baik, pemerintah Indonesia berupaya memastikan jemaah haji mendapatkan makanan yang sehat, lezat, dan sesuai dengan selera. Semoga ibadah haji 2025 berjalan lancar dan penuh keberkahan.





