Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyatakan kesediaannya untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga Wakil Presiden Sara Duterte. Pernyataan ini muncul setelah pendukung Duterte meraih kemenangan telak dalam pemilihan Senat baru-baru ini, melebihi ekspektasi banyak pihak. Langkah rekonsiliasi ini dinilai sebagai upaya strategis di tengah tantangan politik yang dihadapi pemerintah.
Presiden Marcos menegaskan komitmennya untuk membangun kerja sama, bukan permusuhan. Ia menekankan pentingnya stabilitas dan perdamaian untuk menjalankan pemerintahan secara efektif. Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 19 Mei 2025, dan dikutip oleh berbagai media internasional, termasuk The Straits Times.
1. Kemenangan Telak Pendukung Duterte di Pemilihan Senat
Kemenangan kubu Duterte dalam pemilihan Senat menjadi katalis penting di balik pernyataan rekonsiliasi Presiden Marcos. Para pendukung Duterte berhasil mengamankan setidaknya empat dari 12 kursi Senat yang diperebutkan. Angka ini jauh melampaui prediksi survei sebelum pemilu.
Keberhasilan ini memberikan pengaruh politik signifikan bagi keluarga Duterte, menunjukkan popularitas dan kekuatan mereka di kancah politik Filipina. Kemenangan tersebut juga menandakan pergeseran dinamika politik yang perlu diperhatikan oleh Presiden Marcos.
2. Retaknya Koalisi Marcos-Duterte dan Konflik Politik yang Memuncak
Hubungan antara Presiden Marcos dan Wakil Presiden Duterte awalnya terjalin erat dalam upaya memenangkan pemilihan presiden tahun 2022. Namun, perbedaan politik yang tajam menyebabkan keretakan hubungan dan puncaknya dengan pengunduran diri Sara Duterte dari Kabinet pada tahun 2024.
Situasi semakin memanas dengan upaya pemakzulan terhadap Wakil Presiden Duterte oleh koalisi Marcos di DPR pada bulan Februari. Tuduhan yang diajukan meliputi ancaman pembunuhan terhadap Presiden dan penyalahgunaan dana publik. Lebih lanjut, penangkapan ayah Sara Duterte, mantan Presiden Rodrigo Duterte, atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan di Mahkamah Pidana Internasional semakin memperkeruh suasana.
Penangkapan Rodrigo Duterte dan Dampaknya
Penangkapan Rodrigo Duterte di Belanda, tempat ia menunggu persidangan atas tuduhan kejahatan kemanusiaan terkait perang narkoba, memberikan tekanan politik yang signifikan. Kejadian ini dianggap sebagai faktor yang semakin memperburuk hubungan antara Marcos dan keluarga Duterte.
Meskipun Wakil Presiden Duterte telah menyatakan bahwa hubungan dengan Marcos telah mencapai titik yang tak dapat diperbaiki bahkan sebelum penangkapan ayahnya, pernyataan terbaru Presiden Marcos menunjukkan upaya untuk meredakan ketegangan.
3. Upaya Rekonsiliasi di Tengah Menurunnya Popularitas dan Tantangan Politik
Pernyataan rekonsiliasi Presiden Marcos juga terlihat sebagai strategi untuk menghadapi penurunan popularitasnya. Hasil pemilihan Senat yang kurang memuaskan bagi koalisinya juga mungkin menjadi faktor yang mendorong langkah ini.
Presiden Marcos berusaha untuk membangun konsensus dan kerjasama, meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam kebijakan. Namun, ia tetap menjaga jarak dari proses pemakzulan Wakil Presiden, menyerahkannya kepada proses hukum di Senat.
Langkah Presiden Marcos untuk berdamai dengan keluarga Duterte merupakan manuver politik yang kompleks. Ini menunjukkan bahwa di tengah dinamika politik yang berubah, upaya untuk membangun konsolidasi kekuatan dan menjaga stabilitas pemerintahan menjadi prioritas. Meskipun pernyataan rekonsiliasi ini disambut positif oleh sebagian pihak, perjalanan menuju hubungan yang harmonis masih panjang dan penuh tantangan. Masih harus dilihat apakah rekonsiliasi ini akan berlangsung atau hanya sebagai strategi politik jangka pendek.





