Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimistis Indonesia dapat menjadi negara pertanian yang mandiri dan berpengaruh di dunia, bahkan menjadi negara superpower. Kunci utamanya, menurut beliau, terletak pada hilirisasi produk pertanian.
Dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Mentan Amran memaparkan visi transformatif ini. Ia menekankan pentingnya menciptakan nilai tambah dari produk pertanian, melampaui sekadar produksi mentah.
Hilirisasi: Kunci Menuju Kemandirian Pangan
Amran Sulaiman menjelaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci transformasi sektor pertanian Indonesia. Proses pengolahan, inovasi, dan pengembangan industri hilir akan meningkatkan nilai jual produk pertanian secara signifikan.
Sebagai contoh, kelapa yang dijual dengan harga Rp1.350 per kilogram dapat diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) dengan nilai jual mencapai Rp145.000 per liter. Ini menunjukkan potensi besar yang dapat diraih melalui hilirisasi.
Begitu pula dengan kakao dan biji mente yang nilainya dapat meningkat hingga 38 kali lipat setelah diolah. Bahkan kelapa sawit kini telah diolah menjadi biofuel (B50), sebagai pengganti bahan bakar solar.
Peran Generasi Muda dan Strategi Investasi
Mentan Amran menekankan peran penting generasi muda, khususnya mahasiswa pascasarjana, dalam mendukung hilirisasi melalui riset dan inovasi. Pemerintah pun telah menyiapkan strategi investasi yang terarah.
Investasi senilai Rp371 triliun di sektor pertanian ditargetkan menghasilkan keuntungan hingga Rp9.000 triliun dan menciptakan delapan juta lapangan kerja baru. Kebijakan ini difokuskan langsung pada petani dan masyarakat.
Dengan dukungan investasi yang masif dan terarah, sektor pertanian diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Ini meliputi peningkatan pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja.
Menjawab Tantangan Krisis Pangan Global
Indonesia, menurut Mentan, harus memperkuat sektor pertaniannya dari hulu hingga hilir untuk menghadapi krisis pangan global yang kini melanda 58 negara. Krisis ini tidak hanya berdampak ekonomi dan kesehatan, tetapi juga berpotensi memicu konflik.
Kementerian Pertanian telah melakukan sejumlah langkah strategis, antara lain refocusing anggaran, penyederhanaan regulasi, serta peningkatan sarana dan infrastruktur pertanian. Hasilnya mulai terlihat dari peningkatan produksi beras.
Data BPS menunjukkan produksi beras nasional pada Januari-Juli 2025 mencapai 21 juta ton, naik 14,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Proyeksi USDA bahkan memperkirakan produksi beras Indonesia tahun ini mencapai 34,6 juta ton, melampaui target 32 juta ton.
Keunggulan Indonesia dalam hal iklim dan sumber daya alam yang memadai menjadi modal utama. Potensi pasar global juga terbuka lebar. Indonesia memiliki populasi besar yang menjadi pasar potensial sekaligus kekuatan produksi.
Namun, integritas dan tata kelola yang baik juga sangat penting. Mentan Amran menegaskan komitmennya dalam memberantas korupsi di Kementerian Pertanian. Kejujuran dan integritas menjadi kunci keberhasilan pembangunan sektor pertanian.
Dengan strategi hilirisasi yang tepat, investasi yang terarah, dan komitmen untuk memberantas korupsi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara pertanian yang kuat dan mandiri, sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan global.





