Beredar informasi hoaks di media sosial Facebook yang menyatakan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan mengerahkan 20.000 personel untuk menjemput pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Informasi ini menyebutkan bahwa penjemputan tersebut sebagai antisipasi serangan dari Malaysia. Namun, klaim ini telah diverifikasi dan dinyatakan tidak benar oleh Tim Cek Fakta Kompas.com.
Narasi hoaks ini tersebar melalui beberapa akun Facebook yang berbeda. Isi narasi tersebut menyebutkan kesiapan besar-besaran TNI untuk menghadapi potensi serangan dari Malaysia dan sekaligus memulangkan PMI yang berada di negara tersebut. Narasi tersebut juga disertai video yang memperkuat klaim yang menyesatkan ini.
Tim Cek Fakta Kompas.com telah melakukan penelusuran dan menemukan bahwa narasi tersebut merupakan informasi yang salah dan menyesatkan. Informasi serupa pernah beredar pada tahun 2020, namun konteksnya berbeda.
Penelusuran Fakta
Pada tahun 2020, memang benar TNI mempersiapkan sekitar 20.000 personel untuk membantu pemulangan PMI dari Malaysia. Namun, tujuannya bukanlah untuk mengantisipasi serangan, melainkan untuk membantu proses pemulangan PMI akibat kebijakan karantina wilayah di Malaysia dalam rangka penanganan pandemi Covid-19.
Pemberitaan di media kredibel seperti CNBC Indonesia pada April 2020 telah melaporkan hal ini. Berita tersebut mengutip pernyataan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Laksamana Madya TNI Yudo Margono, yang menjelaskan tentang kesiapan personel untuk membantu pemulangan PMI. Pernyataan tersebut kemudian diputarbalikkan dan digunakan dalam narasi hoaks yang beredar saat ini.
Lebih lanjut, pemberitaan dari Antara pada waktu yang sama juga mengkonfirmasi bahwa TNI mengerahkan kapal perang untuk memfasilitasi kepulangan puluhan ribu PMI dari Malaysia. Para PMI tersebut dipulangkan melalui berbagai pelabuhan di Kepulauan Riau dan kemudian didistribusikan ke Pulau Jawa dan Sulawesi.
Perlu ditekankan bahwa meskipun ada kesamaan angka personel yang disebutkan (20.000), konteks dan tujuan pengerahan personel tersebut sangat berbeda. Pada tahun 2020, pengerahan personel bertujuan kemanusiaan untuk membantu pemulangan PMI di tengah pandemi, bukan untuk antisipasi serangan militer.
Kesimpulan
Informasi yang menyatakan TNI akan menjemput PMI dari Malaysia untuk mengantisipasi serangan adalah hoaks. Penggunaan kembali informasi lama dengan konteks yang dipelintir bertujuan untuk menyebarkan ketakutan dan informasi yang tidak benar kepada masyarakat. Penting bagi masyarakat untuk selalu mengecek kebenaran informasi sebelum menyebarkannya dan berhati-hati terhadap informasi yang bersifat provokatif atau menimbulkan keresahan.
Sangat penting untuk selalu mengacu pada sumber informasi yang terpercaya dan kredibel seperti media massa mainstream yang memiliki reputasi baik. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, karena hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan stabilitas keamanan negara.
Sebagai tambahan informasi, Kompas.com dan media-media terpercaya lainnya secara konsisten melakukan verifikasi fakta untuk menangkal penyebaran informasi hoaks dan memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Masyarakat juga didorong untuk aktif melaporkan akun atau situs web yang menyebarkan informasi hoaks agar pihak berwenang dapat menindaklanjuti. Partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga integritas informasi dan mencegah penyebaran berita bohong.





