Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada tahun 2025 menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar global. Langkah ini memicu reaksi beragam dari negara-negara mitra AS dan berpotensi memicu perang dagang yang lebih besar.
Arsjad Rasjid, Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) dan mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menilai kebijakan Trump tersebut sebagai perubahan signifikan dalam sistem ekonomi global. Respons balasan dari China semakin memperumit situasi.
Dampak Tarif Trump terhadap Ekonomi Global
Arsjad menyatakan ketidakpastian dampak jangka panjang kebijakan ini. Tidak ada yang dapat memprediksi dengan pasti siapa yang akan diuntungkan, namun dampaknya terhadap perekonomian global sudah terasa.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini telah menciptakan tatanan global baru. Negara-negara Eropa bingung, Kanada merasa dirugikan, sementara China dinilai bersikap kurang kooperatif. Negara-negara berkembang di Asia pun ikut terdampak.
Penerapan tarif berdampak pada ketidakstabilan pasar, terlihat dari pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dan gejolak di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Harga emas juga melonjak.
Kepanikan Investor dan Perputaran Ekonomi
Kepanikan investor menyebabkan banyak dana mengalir ke aset aman seperti emas. Hal ini menyebabkan perputaran uang di pasar melambat, sehingga berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Arsjad menekankan pentingnya optimisme untuk menjaga perputaran ekonomi dan pertumbuhan. Meskipun terjadi gejolak, ada peluang yang dapat dimanfaatkan.
Peluang bagi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengisi kekosongan rantai pasok global. Keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia menjadi daya tarik.
Meskipun Vietnam memiliki infrastruktur manufaktur yang lebih maju, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan ketergantungan ekspor yang relatif kecil (hanya 25%).
Ketergantungan domestik inilah yang menurut Arsjad menjadi kunci penyelamat ekonomi Indonesia selama krisis moneter 1998 dan krisis ekonomi global 2008.
Ia menyarankan agar Indonesia tidak hanya fokus pada dampak negatif tarif Trump, tetapi juga melihat kekuatan domestik dan peluang yang ada. Jangan sampai panik berlebihan justru merugikan.
Trump sebelumnya menetapkan tarif resiprokal untuk Indonesia sebesar 32%, lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain seperti Vietnam yang mencapai 46%.
Secara keseluruhan, kebijakan tarif Trump menimbulkan ketidakpastian ekonomi global. Namun, Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkan situasi ini dengan fokus pada kekuatan domestik dan peluang untuk mengisi kekosongan rantai pasok global. Sikap optimisme dan strategi yang tepat akan menentukan keberhasilan Indonesia melewati masa transisi ini.





