Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan sejumlah kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah. Ia menekankan bahwa kejadian serupa pernah terjadi di berbagai negara maju, bahkan setelah program serupa berjalan puluhan tahun.
Program MBG di Indonesia masih tergolong baru, baru berjalan tiga bulan. Banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur yang baru beroperasi. Kondisi ini berbeda dengan pengalaman negara lain yang telah menjalankan program serupa dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Kasus Keracunan MBG di Negara Maju
Dadan mencontohkan beberapa kejadian di luar negeri. Di Mesir, keracunan terjadi pada tahun 2017, 26 tahun setelah program serupa dimulai. Sebanyak 3.353 siswa sakit dan 435 lainnya terdampak.
Di Tiongkok, beberapa kasus bahkan berujung kematian setelah program berjalan 10-13 tahun. Di Jepang, insiden serupa terjadi setelah 49 tahun program berjalan.
Amerika Serikat (AS) juga mengalami kejadian serupa setelah lebih dari 51 tahun program berjalan. Finlandia mencatat kasus keracunan setelah program berjalan selama 80 tahun.
Republik Dominika mengalami kasus keracunan yang menyebabkan 300 anak sakit akibat susu terkontaminasi pada tahun 2010. Program tersebut telah berjalan selama 7 tahun saat kejadian tersebut terjadi.
Afrika Selatan juga mencatat satu kematian anak akibat keracunan pada tahun 2014. Program MBG di negara tersebut telah berjalan selama 20 tahun.
Pengalaman negara-negara tersebut menjadi pelajaran berharga. Kesuksesan awal program bukan jaminan terhindar dari risiko keracunan di kemudian hari.
Kasus Keracunan MBG di Indonesia: Sukoharjo, Batang, dan Cianjur
Di Indonesia, beberapa kasus keracunan telah terjadi. Salah satunya di Sukoharjo, Jawa Tengah, awal Januari lalu, yang menyebabkan sekitar 40 siswa keracunan.
Kejadian di Sukoharjo disebabkan oleh faktor teknis. Gas untuk memasak habis saat proses penggorengan.
Kasus lain terjadi di Batang, Jawa Tengah. Makanan dalam kondisi baik dan dikirim tepat waktu, namun terlambat dikonsumsi karena adanya acara sekolah.
Di Cianjur, Jawa Barat, dua sekolah dari sembilan sekolah terdampak. Dari 72 siswa yang terdampak, hasil uji laboratorium menunjukkan negatif racun.
Upaya Pencegahan dan Perbaikan SOP
Meskipun hasil laboratorium menunjukkan negatif racun di Cianjur, penyebab muntah-muntah pada siswa masih diselidiki. Kejadian serupa di Bandung, Tasikmalaya, dan Pali, Sumatera Selatan, juga masih dalam penyelidikan.
Kasus di Bandung, Tasikmalaya, dan Pali diduga disebabkan oleh makanan yang dimasak terlalu awal dan pengiriman yang tidak cepat. BGN melakukan perbaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mencegah kejadian serupa terulang.
BGN menargetkan “nol kejadian” keracunan. Perbaikan SOP dan pengawasan ketat diperlukan untuk memastikan keamanan dan kebersihan makanan dalam program MBG. Hal ini penting agar program MBG dapat berjalan efektif dan mencapai tujuannya untuk meningkatkan gizi anak sekolah.
Dadan menekankan pentingnya pengawasan dan penyegaran program secara berkala, meskipun program telah berjalan dengan baik selama beberapa bulan. Hal ini untuk memastikan makanan yang disajikan selalu bersih, higienis, sehat, dan menyehatkan. Kejadian di berbagai negara menunjukkan bahwa kewaspadaan dan evaluasi berkelanjutan sangat penting, bahkan setelah program berjalan sukses dalam jangka waktu yang panjang.





