Swedia dinobatkan sebagai negara terbaik untuk perempuan bekerja di tahun 2025. Prestasi ini menggeser posisi Islandia yang selama dua tahun berturut-turut berada di puncak peringkat Indeks Glass Ceiling, sebuah penilaian komprehensif yang dikeluarkan oleh The Economist dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Indeks ini menganalisis kondisi kerja perempuan di 29 negara OECD, menggunakan 10 faktor kunci seperti tingkat pendidikan, kesenjangan upah, kebijakan cuti melahirkan, dan representasi perempuan dalam posisi kepemimpinan.
Kebijakan Pro-Perempuan Swedia: Kunci Kesuksesan
Keberhasilan Swedia meraih peringkat teratas tak lepas dari komitmen kuat pemerintah dalam menciptakan kesetaraan gender di tempat kerja. Laporan The Economist mencatat bahwa 43,7 persen posisi manajerial di Swedia dipegang oleh perempuan, angka tertinggi di antara negara-negara lain yang diteliti.
Tingkat representasi perempuan juga signifikan di parlemen. Sebanyak 46,7 persen kursi parlemen Swedia diisi oleh perempuan, jauh melampaui rata-rata OECD yang hanya 28,7 persen. Hal ini menunjukkan partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan.
Persentase perempuan di dewan direksi perusahaan juga tinggi, mencapai 37,7 persen. Ini menandakan peran perempuan yang semakin penting dalam pengambilan keputusan di sektor swasta.
Kesenjangan upah gender di Swedia juga relatif kecil. Pada tahun 2024, upah perempuan mencapai 90 persen dari upah laki-laki, melebihi rata-rata OECD sebesar 88,6 persen.
Swedia juga menjadi pelopor dengan mengganti sistem cuti melahirkan berbasis gender menjadi cuti orang tua yang netral gender. Kebijakan ini memungkinkan kedua orang tua untuk berbagi tanggung jawab pengasuhan anak secara adil dan merata.
Amerika Serikat: Tertinggal di Peringkat 19
Berbeda dengan Swedia, Amerika Serikat justru berada di peringkat 19, jauh dari 10 besar. Salah satu faktor utama yang menyebabkan posisi AS yang kurang menguntungkan adalah absennya kebijakan cuti orang tua berbayar di tingkat federal.
AS menjadi satu-satunya negara OECD yang belum menerapkan kebijakan ini. Lizzie Bitt, peneliti data dari The Economist, menjelaskan bahwa kurangnya cuti orang tua berbayar memaksa banyak perempuan untuk berhenti bekerja.
Kondisi ini kemudian memperbesar kesenjangan upah dan menghambat karier perempuan dalam posisi manajerial. Kurangnya dukungan pemerintah dalam hal ini jelas menjadi penghalang besar bagi kesetaraan gender di tempat kerja.
Dominasi Negara Skandinavia dan Komitmen Jangka Panjang
Sepuluh negara teratas dalam Indeks Glass Ceiling 2025 didominasi oleh negara-negara Skandinavia, menunjukkan konsistensi kebijakan pro-kesetaraan gender di kawasan tersebut. Islandia, yang sebelumnya menduduki peringkat pertama, kini berada di posisi kedua.
Swedia sendiri telah konsisten masuk dalam 10 besar negara dengan kesetaraan gender terbaik sejak laporan World Economic Forum pertama kali dirilis pada tahun 2006. Dukungan kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan, mulai dari pendidikan hingga ekonomi, menjadi kunci keberhasilan Swedia dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif dan adil bagi perempuan.
Berikut 10 negara terbaik untuk perempuan bekerja di tahun 2025:
- Swedia
- Islandia
- Finlandia
- Norwegia
- Portugal
- Selandia Baru
- Prancis
- Spanyol
- Denmark
- Australia
Keberhasilan Swedia menjadi model bagi negara-negara lain dalam menciptakan lingkungan kerja yang ramah perempuan. Komitmen jangka panjang dan kebijakan inovatif yang berfokus pada kesetaraan gender terbukti mampu mendorong partisipasi perempuan dalam semua aspek kehidupan, termasuk dunia kerja. Ke depannya, negara-negara lain diharapkan dapat belajar dari keberhasilan Swedia dan menerapkan kebijakan serupa untuk mencapai kesetaraan gender yang lebih merata.





