Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 30 Mei 2025, dengan pelemahan terbatas 0,53%, dari 7231 menjadi 7175. Meski demikian, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp149,3 miliar di pasar reguler. Lima sektor mengalami penguatan, sementara sisanya mengalami penurunan.
Sektor healthcare menjadi penopang utama, mengalami penguatan 1,95% karena antisipasi peningkatan kasus Covid-19. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi pemberat utama dengan penurunan 1,97%, tertekan oleh penurunan saham GOTO lebih dari 11%.
Analisis IHSG: Kehati-hatian di Tengah Libur Iduladha
Indri Liftiany Travelin Yunus, Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menekankan perlunya kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi. Hal ini mengingat hanya ada empat hari perdagangan (2-5 Juni) pekan depan karena libur Iduladha.
Pasar juga menantikan keputusan final terkait rencana kebijakan Donald Trump, khususnya setelah Pengadilan Perdagangan Internasional AS menyatakan sebagian besar tarif Trump ilegal dan diblokir.
Data ekonomi, terutama Non-Farm Payrolls Amerika Serikat, juga menjadi perhatian. Data ini akan menjadi indikator penting bagi kebijakan The Fed selanjutnya. IPOT memprediksi IHSG akan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat di rentang support 7140 dan resistance 7320.
Sentimen Pasar Pekan Lalu: Penundaan Tarif Trump dan Sikap Wait-and-See The Fed
Perdagangan pekan lalu (26-28 Mei 2025) hanya berlangsung tiga hari karena libur cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus. Beberapa sentimen memengaruhi pergerakan pasar.
Salah satunya adalah penundaan penetapan tarif 50% oleh Presiden Trump atas barang-barang dari Uni Eropa hingga 9 Juli 2025. Risalah FOMC menunjukkan sikap wait-and-see The Fed yang akan mempertimbangkan data ekonomi terkini.
Sentimen konsumen AS tetap di level 52,2, dan Trump juga menangguhkan sementara pengajuan visa pelajar dan pengunjung kategori F, M, dan J. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung wait-and-see.
Sentimen Kunci dan Rekomendasi IPOT Pekan Ini: Perhatian pada Data Global dan Domestik
Pekan ini, pasar akan dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting selama libur panjang. Mahkamah Perdagangan Internasional AS memblokir tarif impor Trump, Trump mempertimbangkan tarif impor sementara, dan Elon Musk mundur dari penasihat senior Gedung Putih.
Ada pula isu pengunduran diri Ray Dalio sebagai penasihat, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Perdagangan hanya berlangsung empat hari (2-6 Juni) karena libur Iduladha.
Sentimen global yang perlu diperhatikan meliputi Indeks S&P Global Manufacturing PMI Mei AS, JOLTs Job Openings Mei AS, Initial Jobless Claims AS, dan Non-Farm Payrolls Mei AS.
Sementara itu, sentimen domestik yang perlu dipantau adalah S&P Global Manufacturing PMI Mei Indonesia, neraca dagang April Indonesia, dan proyeksi disinflasi Indonesia.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan beberapa saham dengan strategi breakout dan Reksa Dana Saham Power Fund Series (PFS) untuk swing trader.
- Buy ANTM (Harga Saat Ini: 3.110, Entry: 3.110, Target Harga: 3.330 (7,07%), Stop Loss: 3.030 (-2,57%), Rasio Risiko-Keuntungan 1:2,8). ANTM masih dalam tren naik kuat dan asing mencatatkan net buy Rp233 miliar pekan lalu.
- Buy on Breakout BRMS (Harga Saat Ini: 360, Entry: 370, Target Harga: 408 (10,27%), Stop Loss: 350 (-5,41%), Rasio Risiko-Keuntungan 1:1,9). BRMS sedang konsolidasi dan indikator teknikal menunjukkan potensi penguatan.
- Buy on Breakout BRIS (Harga Saat Ini: 3.000, Entry: 3.040, Target Harga: 3.350 (10,20%), Stop Loss: 2.870 (-5,59%), Rasio Risiko-Keuntungan 1:1,8). BRIS dalam area konsolidasi kuat dan asing mencatatkan net buy Rp232,7 miliar pekan lalu.
- Buy Reksa Dana Saham Premier ETF Indonesia State-Owned Companies (XISC). IDXBUMN menunjukkan performa menarik dengan golden cross pada EMA 5 dan EMA 50, mengindikasikan tren naik.
Kesimpulannya, pasar saham pekan depan diprediksi akan dinamis, dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik. Keputusan investasi perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan analisis teknikal yang tepat.
Para investor disarankan untuk selalu melakukan riset mendalam dan mempertimbangkan profil risiko sebelum melakukan investasi. Pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan ekonomi dan sentimen pasar sangat penting.





