Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan yang mengejutkan di tengah badai ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik terkini. Meskipun konflik Israel-Iran memanas dan The Fed kembali menahan suku bunga, harga Bitcoin tetap relatif stabil di kisaran US$104.670 (sekitar Rp1,71 miliar) per Jumat pukul 14.00 WIB. Stabilitas ini menarik perhatian para analis dan investor, menunjukkan potensi daya tahan aset kripto ini dalam menghadapi berbagai tantangan.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memberikan pandangannya mengenai situasi tersebut. Ia melihat pasar kripto sedang dalam fase konsolidasi yang wajar, menunggu arah baru baik dari kebijakan The Fed maupun perkembangan situasi geopolitik global.
Stabilitas Bitcoin di Tengah Gejolak Global
Menurut Fyqieh, Bitcoin saat ini sedang menguji level support di US$104.000. Volume perdagangan menurun, sementara indikator Average Directional Index (ADX) berada di level 16, menunjukkan belum adanya tren yang kuat.
Indikator Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan posisi netral di angka 45. Semua indikator ini menandakan pasar sedang menunggu kepastian arah baru sebelum melakukan pergerakan signifikan.
Meskipun belum menunjukkan tren kenaikan baru, Fyqieh optimis dengan prospek jangka panjang Bitcoin. Ia melihat potensi penguatan menuju US$110.000 jika The Fed menunjukkan sinyal dovish (longgar) menjelang pertemuan FOMC selanjutnya di bulan Juli.
Sejarah Bitcoin dan Konflik Geopolitik
Ketahanan Bitcoin terhadap konflik bersenjata bukanlah hal baru. Data historis menunjukkan Bitcoin cenderung stabil, bahkan menguat, selama berbagai konflik besar dalam dekade terakhir.
Sebagai contoh, setelah serangan rudal Israel ke Iran pada 13 Juni 2025 (tanggal tersebut kemungkinan salah ketik dalam sumber asli dan perlu diverifikasi), harga Bitcoin sempat terkoreksi namun pulih dengan cepat dalam beberapa hari.
Konflik internal seperti perang Tigray di Ethiopia (2020) atau kudeta Myanmar (2021) juga tidak berdampak signifikan terhadap harga Bitcoin. Hal ini menunjukkan bahwa dampak geopolitik terhadap harga Bitcoin lebih bergantung pada skala dan keterlibatan pasar keuangan global.
Faktor Pendorong dan Risiko Pasar
Kepercayaan investor institusi memainkan peran penting. Sebagai contoh, Strategy, perusahaan milik Michael Saylor, mengakuisisi 10.001 Bitcoin senilai US$1 miliar pada 16 Juni 2025, menunjukkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang aset ini.
Fyqieh menjelaskan bahwa konflik geopolitik dapat meningkatkan ekspektasi inflasi global melalui lonjakan belanja fiskal, gangguan rantai pasokan, dan kenaikan harga komoditas. Dalam jangka panjang, faktor-faktor ini cenderung menguntungkan Bitcoin sebagai aset lindung nilai inflasi.
Namun, Bitcoin tetap sensitif terhadap reaksi awal pasar terhadap konflik bersenjata, dengan kemungkinan tekanan jual sesaat setelah konflik pecah. Tingkat sensitivitas tersebut dipengaruhi oleh seberapa besar keterkaitan konflik tersebut dengan pasar keuangan global.
Adopsi institusional yang meningkat membuat Bitcoin semakin berkorelasi dengan pasar keuangan global. Entitas besar seperti BlackRock, Coinbase, dan pemerintah AS kini menjadi pemegang atau pengelola aset kripto ini.
Hal ini membuat faktor makroekonomi dan geopolitik memiliki pengaruh besar terhadap harga Bitcoin. Namun, ini juga yang membuat Bitcoin menjadi instrumen yang relevan untuk diversifikasi portofolio investasi.
Secara teknikal, Bitcoin menghadapi resistensi di level US$106.500, kemudian zona US$108.800-110.000, dan resistensi kritis di US$112.000. Dukungan terdekat berada di kisaran US$102.000-103.000, dan dukungan jangka panjang di US$93.200 (bertepatan dengan EMA 200 hari).
Dengan kapitalisasi pasar kripto global yang tetap bertahan di US$3,25 triliun dan arus masuk ETF yang masih positif, peluang pemulihan harga Bitcoin tetap terbuka. Pasar kini menantikan arah kebijakan The Fed selanjutnya dan perkembangan dinamika konflik global.
Kesimpulannya, meskipun gejolak global saat ini menciptakan ketidakpastian, Bitcoin menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Ketahanan ini didukung oleh faktor fundamental seperti adopsi institusional yang meningkat dan perannya sebagai aset lindung nilai inflasi. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global untuk mengantisipasi potensi volatilitas harga di masa mendatang.





