Paus Fransiskus, pemimpin spiritual Katolik Roma, meninggal dunia pada 21 April 2025 akibat stroke. Kabar duka ini diumumkan oleh dokter pribadinya, Dr. Sergio Alfieri, yang juga memberikan detail kondisi Paus di saat-saat terakhirnya. Kepergian Paus Fransiskus meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia.
Dr. Alfieri menjelaskan bahwa Paus Fransiskus meninggal dengan tenang di kediamannya di Vatikan. Meskipun sempat membuka mata dan bernapas dengan bantuan oksigen, Paus tak merespons panggilan atau rangsangan apa pun.
Detik-Detik Terakhir Paus Fransiskus
Dr. Alfieri menerima kabar kondisi memburuk Paus pada pukul 05.30 pagi waktu setempat. Ia langsung bergegas menuju kediaman Paus.
Sesampainya di kamar Paus, Dr. Alfieri mendapati mata Paus terbuka. Namun, Paus tidak responsif terhadap upaya komunikasi dan rangsangan.
Kondisi paru-paru Paus bersih dan telah dipasangi oksigen tambahan. Meski demikian, Paus tetap tak menunjukkan respons, bahkan terhadap rangsangan yang menyakitkan.
Keputusan untuk tidak memindahkan Paus ke rumah sakit Gemelli dianggap paling tepat. Risiko pemindahan dinilai terlalu tinggi mengingat kondisinya yang kritis. Dua jam setelah serangan penyakit, Paus Fransiskus dinyatakan meninggal dunia.
Perawatan Intensif dan Perkembangan Penyakit
Paus Fransiskus telah menjalani perawatan intensif selama lima minggu di rumah sakit akibat pneumonia ganda. Kondisi pernapasannya sempat kritis dan membutuhkan perawatan intensif.
Setelah pulang dari rumah sakit pada 23 Maret, Paus menjalani masa pemulihan di Vatikan. Tim medis terus memantau kondisi kesehatannya selama periode istirahat dua bulan yang direncanakan.
Meskipun kondisi pernapasannya membaik berkat terapi fisik, dampak pneumonia meninggalkan bekas luka pada paru-parunya.
Dr. Alfieri terakhir kali bertemu Paus pada Sabtu, 19 April, dan mendapati kondisi Paus dalam keadaan baik. Kunjungan itu tak disangka menjadi pertemuan terakhir mereka.
Kesimpulan Dokter Terhadap Kondisi Paus
Dr. Alfieri menegaskan bahwa Paus Fransiskus meninggal tanpa rasa sakit di kediamannya. Keputusan untuk tidak memindahkan Paus ke rumah sakit dinilai sebagai langkah tepat untuk menghindari risiko tambahan.
Kondisi kesehatan Paus Fransiskus memang telah menunjukkan penurunan, meskipun sempat mengalami perbaikan. Pneumonia yang dideritanya meninggalkan dampak jangka panjang pada paru-parunya.
Kepergian Paus Fransiskus menjadi kehilangan besar bagi umat Katolik dunia. Kenangan akan kepemimpinannya dan dedikasinya akan selalu dikenang. Kisah hidupnya dan pengabdiannya menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.





