Dunia berduka atas kepergian Paus Fransiskus. Pemimpin Gereja Katolik Roma ini meninggal dunia pada Senin, 21 April 2025, dan akan dimakamkan pada Sabtu, 26 April 2025 di Basilika Santo Petrus. Jenazahnya akan disemayamkan selama tiga hari untuk memberikan kesempatan kepada publik memberikan penghormatan terakhir.
Ribuan pelayat diperkirakan akan datang untuk menyampaikan salam perpisahan. Oleh karena itu, langkah-langkah khusus telah diambil untuk menjaga kondisi jenazah Paus Fransiskus agar tetap terhormat.
Proses Pengawetan Jenazah Paus Fransiskus
Untuk mencegah pembusukan, jenazah Paus Fransiskus menjalani proses tanatopraksi. Teknik ini merupakan metode pengawetan modern yang lebih minim invasif dibandingkan pembalsaman tradisional.
Tanatopraksi, menurut Andrea Fantozzi, pendiri Institut Nasional Tanatopraksi Italia (INIT), bertujuan untuk memperlambat proses pembusukan alami. Prosedur ini menggunakan cairan kimia dan harus dilakukan dalam waktu 36 jam setelah kematian.
Prosesnya melibatkan penyuntikan cairan pengawet ke dalam sistem arteri. Kemudian dilakukan desinfeksi menyeluruh, riasan korektif, serta penataan tangan dan wajah untuk memberikan kesan tenang dan damai.
Fantozzi, yang juga dilaporkan mengawasi pembalsaman Paus Benediktus XVI, menolak mengkonfirmasi keterlibatannya dalam proses pengawetan jenazah Paus Fransiskus. Hal ini dikarenakan alasan privasi dan protokol Vatikan.
Vatikan sendiri enggan memberikan komentar terkait proses pengawetan ini. Namun, gambar Paus Fransiskus di dalam peti matinya yang terbuka telah dirilis, memperlihatkan beliau mengenakan jubah kepausan merah, mitra, dan rosario.
Kondisi Terakhir Paus Fransiskus Sebelum Meninggal
Dr. Sergio Alfieri, dokter yang merawat Paus Fransiskus, menceritakan detik-detik sebelum Paus meninggal dunia. Ia mendapat panggilan sekitar pukul 05.30 pagi waktu setempat dan tiba di Vatikan 20 menit kemudian.
Dr. Alfieri sebelumnya menangani Paus Fransiskus di rumah sakit Gemelli, Roma, pada awal 2024. Saat itu, Paus dirawat selama lima minggu karena pneumonia bilateral.
Sesampainya di kediaman Paus, Dr. Alfieri mendapati Paus Fransiskus masih membuka mata. Namun, Paus tidak merespon ketika namanya dipanggil.
Mengingat kondisi kesehatan Paus yang kompleks dan risiko pemindahan, keputusan diambil untuk tidak memindahkan Paus ke rumah sakit. Dua jam kemudian, Paus Fransiskus meninggal dunia akibat stroke.
Menurut Dr. Alfieri, Paus Fransiskus meninggal dengan tenang dan damai di kediamannya.
Pemakaman dan Penghormatan Terakhir
Pemakaman Paus Fransiskus dijadwalkan pada Sabtu, 26 April 2025. Selama tiga hari sebelum pemakaman, publik dapat memberikan penghormatan terakhir di Basilika Santo Petrus.
Peti jenazah Paus akan terbuka untuk umum dari Rabu hingga Jumat malam. Keadaan ini tentu akan menarik ribuan pelayat dari berbagai penjuru dunia untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin spiritual mereka.
Prosedur pengawetan yang dilakukan memastikan kondisi jenazah Paus tetap terjaga dengan baik selama proses pemakaman. Hal ini memungkinkan ribuan pelayat untuk memberikan penghormatan terakhir dengan layak.
Kepergian Paus Fransiskus meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia. Namun, kenangan dan warisan kepemimpinannya akan tetap dikenang sepanjang masa.
Proses pemakaman dan penghormatan terakhir bagi Paus Fransiskus menjadi bukti betapa besarnya pengaruh dan perannya dalam kehidupan umat Katolik global. Semoga kepergiannya membawa kedamaian dan memberi inspirasi bagi generasi mendatang.





