Penurunan angka kelahiran menjadi isu global yang mengkhawatirkan. Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat mengalami penurunan drastis, mengancam keberlanjutan populasinya.
Selama ini, angka kesuburan 2,1 anak per wanita dianggap cukup untuk menjaga populasi. Namun, angka kelahiran di beberapa negara jauh di bawah angka tersebut, memicu kekhawatiran akan penurunan populasi yang signifikan di masa depan.
Tingkat Kesuburan Ideal: Lebih Tinggi dari Perkiraan Sebelumnya
Studi terbaru menunjukkan angka 2,1 anak per wanita sebenarnya kurang ideal untuk menjamin keberlanjutan populasi jangka panjang.
Para peneliti berpendapat angka ideal seharusnya mencapai 2,7 anak per wanita. Hal ini mempertimbangkan berbagai faktor yang sebelumnya diabaikan.
Faktor-faktor tersebut meliputi ketidakpastian tingkat fertilitas dan mortalitas, rasio jenis kelamin, kemungkinan beberapa orang tidak memiliki anak, serta fluktuasi acak dalam ukuran keluarga.
“Mempertimbangkan stokastisitas (ketidakpastian) dalam tingkat fertilitas dan mortalitas, dan rasio jenis kelamin, tingkat fertilitas yang lebih tinggi dari tingkat penggantian standar diperlukan untuk memastikan keberlanjutan populasi kita,” jelas Diane Cuaresma, salah satu peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail.
Penyebab Penurunan Angka Kelahiran: Biaya Hidup dan Prioritas Karir
Meningkatnya biaya hidup dan pengasuhan anak menjadi faktor utama penurunan angka kelahiran di berbagai negara.
Kaum muda cenderung menunda pernikahan dan kelahiran anak karena prioritas pada pendidikan tinggi dan karier yang stabil.
Beban finansial yang tinggi untuk membesarkan anak di tengah ekonomi yang menantang membuat banyak pasangan muda memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali, atau hanya memiliki satu anak.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya dukungan pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan fasilitas penitipan anak yang terjangkau dan berkualitas.
Proyeksi Populasi Global: Pertumbuhan Berlanjut, Namun dengan Perlambatan
Meskipun angka kelahiran di beberapa negara mengalami penurunan drastis, populasi global diperkirakan masih akan terus tumbuh.
Proyeksi menunjukkan puncak populasi global akan tercapai pada tahun 2080-an, sekitar 10,3 miliar jiwa.
Setelah mencapai puncaknya, populasi global akan mulai menurun secara bertahap. Pada tahun 2100, diperkirakan populasinya akan berada di angka sekitar 10,2 miliar jiwa.
Joseph Chamie, demografer dan mantan Direktur Divisi Kependudukan PBB, menekankan bahwa meskipun beberapa negara mengalami penurunan populasi, secara global risiko kepunahan masih sangat kecil.
“Ya memang ada beberapa negara yang populasinya menurun, tetapi untuk dunia secara keseluruhan itu tidak terjadi,” ujar Joseph.
Kesimpulannya, penurunan angka kelahiran merupakan tantangan serius bagi beberapa negara maju. Namun, dibutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan kebijakan pemerintah, dukungan sosial, dan perubahan pola pikir masyarakat untuk mengatasi permasalahan ini. Tantangan ini menuntut solusi inovatif dan kolaboratif untuk memastikan keberlanjutan populasi global di masa depan.





