Konsumsi makanan olahan secara berlebihan ternyata berisiko meningkatkan kemungkinan terkena penyakit Parkinson. Sebuah studi terbaru bahkan menunjukkan peningkatan risiko lebih dari dua kali lipat bagi mereka yang mengonsumsi lebih dari satu porsi makanan ultra-processed food (UPF) setiap hari.
Temuan ini berdasarkan analisis data kesehatan dan diet selama bertahun-tahun dari hampir 43.000 peserta Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study di Amerika Serikat. Studi ini memperkuat bukti bahwa pola makan berperan penting dalam perkembangan penyakit Parkinson.
Makanan Olahan dan Risiko Parkinson: Studi Terbaru
Studi yang dipublikasikan di jurnal *Neurology* ini mendefinisikan satu porsi UPF sebagai 8 ons soda (diet atau manis), satu hot dog, sepotong kue kemasan, satu sendok makan saus tomat, satu ons keripik kentang, atau satu kantong kecil keripik (sekitar 1,5 ons).
Dr. Xiang Gao, penulis senior studi dan Dekan Institut Nutrisi di Universitas Fudan, Shanghai, menjelaskan bahwa konsumsi UPF yang tinggi dapat mempercepat munculnya gejala awal Parkinson.
Penelitian ini menemukan korelasi antara konsumsi UPF yang tinggi dan peningkatan gejala awal penyakit Parkinson. Hal ini menggarisbawahi pentingnya pilihan makanan dalam menjaga kesehatan otak.
Mengapa Makanan Olahan Berbahaya Bagi Kesehatan Otak?
Makanan olahan umumnya rendah serat, protein, dan mikronutrien. Sebaliknya, mereka tinggi gula tambahan, garam, dan lemak jenuh atau trans.
Kandungan tersebut dapat mengganggu keseimbangan flora usus, memicu peradangan, meningkatkan radikal bebas, dan bahkan menyebabkan kematian neuron. Semua faktor ini dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit Parkinson.
Zat aditif dalam makanan olahan juga menjadi perhatian. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak spesifik zat aditif terhadap kesehatan otak.
Gejala Awal Parkinson dan Hubungannya dengan Konsumsi UPF
Gejala awal Parkinson sering kali muncul bertahun-tahun sebelum penurunan fungsi motorik yang signifikan. Beberapa gejala awal meliputi nyeri tubuh, sembelit, depresi, perubahan kemampuan mencium atau melihat warna, dan rasa kantuk berlebihan.
Gangguan tidur yang tidak biasa juga menjadi tanda awal yang perlu diwaspadai. Studi ini mengamati tahap prodromal penyakit Parkinson, yaitu tahap sebelum munculnya gejala utama seperti kekakuan otot, gaya berjalan lambat, dan perubahan postur.
Studi menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi sekitar 11 porsi UPF per hari memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi mengalami tiga atau lebih gejala awal Parkinson dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi tiga porsi.
Hasil ini tetap signifikan bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain seperti usia, aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok.
Peneliti menekankan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya pola makan sehat dalam pencegahan penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson. Pencegahan dini sangat krusial karena Parkinson hingga saat ini belum dapat disembuhkan.
Kesimpulannya, penelitian ini memberikan bukti kuat tentang hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dan risiko penyakit Parkinson. Mengurangi konsumsi makanan olahan dan mengadopsi pola makan sehat kaya serat, protein, dan mikronutrien dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan otak dan mengurangi risiko penyakit neurodegeneratif. Perubahan pola makan ini merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih sehat.





