Kehebohan melanda jagat maya menyusul viralnya grup Facebook “Fantasi Sedarah,” yang beranggotakan kurang lebih 40.000 orang. Nama grup tersebut sudah cukup menggambarkan isi percakapan di dalamnya: hubungan seksual sedarah atau inses.
Berbagai pengakuan mengejutkan bertebaran di grup tersebut. Anggota grup berbagi pengalaman melakukan hubungan intim dengan saudara kandung, orang tua, bahkan paman. Fenomena ini telah menarik perhatian pakar seks, dr. Boyke Dian Nugraha, yang menilai situasi ini sebagai darurat.
Bahaya Inses dan Dampaknya yang Mengerikan
dr. Boyke menyatakan keprihatinannya atas semakin maraknya penyimpangan seksual yang dilakukan secara terbuka.
Ia menegaskan bahwa keberadaan grup seperti “Fantasi Sedarah” menunjukkan kondisi yang sudah sangat mengkhawatirkan.
Risiko kesehatan yang ditimbulkan sangat besar, termasuk potensi munculnya predator seksual baru.
Ancaman penyebaran HIV/AIDS, kanker mulut rahim pada wanita, dan berbagai penyakit lainnya juga menjadi perhatian serius.
Bagaimana mungkin kita dapat membangun generasi emas dengan kondisi seperti ini?
Faktor Penyebab dan Peran Lingkungan
Menurut dr. Boyke, beberapa faktor memicu perilaku penyimpangan seksual seperti inses.
Pornografi, trauma masa lalu, dan menjadi korban pelecehan seksual sebelumnya termasuk di antara penyebabnya.
Siklus ini bisa berlanjut, di mana korban suatu hari nanti dapat melakukan hal yang sama kepada orang terdekatnya.
Faktor ekonomi juga memainkan perannya.
Kurangnya privasi di rumah, misalnya dalam keluarga yang tinggal di rumah sempit dan sering berdekatan dengan saudara, dapat meningkatkan risiko terjadinya inses.
Solusi dan Peran Pemerintah
Grup “Fantasi Sedarah” bukanlah satu-satunya yang menampilkan penyimpangan seksual.
Grup serupa yang membahas pedofilia dan sadomasokisme juga bertebaran di internet.
dr. Boyke menekankan pentingnya pembatasan penggunaan gadget pada anak untuk mencegah paparan konten negatif.
Ia menyayangkan minimnya regulasi yang ketat terkait hal ini.
Selain itu, akses terhadap layanan konseling juga masih terbatas.
Banyak yang ragu berkonsultasi karena takut dianggap mengalami gangguan jiwa berat.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil peran yang lebih aktif.
Pemberdayaan psikolog klinis sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk menjadi HRD, tetapi juga untuk pendampingan kasus-kasus seperti ini.
Pendampingan tersebut dapat dilakukan di sekolah atau komunitas masyarakat.
Percakapan dalam grup “Fantasi Sedarah” memperlihatkan betapa dekatnya hubungan dengan orangtua dan anak, justru yang memicu keinginan untuk melakukan hubungan inses.
Ketidakpahaman mengenai batasan dan norma sosial menjadi faktor kunci yang perlu diatasi.
Kesimpulannya, persoalan inses dan penyimpangan seksual lainnya membutuhkan pendekatan multi-sektoral. Pencegahan, edukasi, dan akses layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau merupakan kunci untuk mengatasi masalah serius ini dan melindungi generasi mendatang.





