Lari maraton semakin populer di Indonesia, menarik banyak peserta untuk ikut serta dalam berbagai event. Namun, aktivitas ini juga berisiko menimbulkan cedera.
Pegal, nyeri otot, bahkan cedera serius, merupakan hal yang umum dialami pelari maraton. Memahami jenis cedera dan penanganan yang tepat sangat penting.
Berbagai Jenis Cedera Lari Maraton
Dokter Spesialis Ortopedi Mayapada Hospital Surabaya, Prof. DR. dr. Dwikora Novembri Utomo, SpOT(K), menjelaskan beberapa jenis cedera yang sering dialami pelari.
Cedera paha akibat otot hamstring yang terlalu dipaksa, cedera lutut akibat benturan, dan cedera betis karena kontraksi otot berlebihan, merupakan beberapa contohnya.
Selain itu, sprain akibat gerakan sendi yang berlebihan, strain karena tarikan otot atau tendon, patah tulang, dan dislokasi juga mungkin terjadi.
Penanganan Awal Cedera Menggunakan Metode PRICE
dr. Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin, Sp.OT, dari Mayapada Hospital Surabaya, menyarankan metode PRICE untuk penanganan awal cedera ringan.
PRICE adalah singkatan dari Protection (melindungi cedera dengan bidai atau penyangga), Rest (istirahat dan menghentikan aktivitas fisik), Ice (kompres es selama 15-20 menit setiap 2-3 jam), Compression (kompres dengan perban elastis), dan Elevation (mengangkat bagian yang cedera).
Metode ini efektif untuk cedera ringan dan sebaiknya diterapkan selama 24-36 jam pertama setelah cedera.
Namun, jika nyeri dan pembengkakan semakin parah, muncul benjolan, sendi berbunyi, kesulitan bergerak, atau demam, segera konsultasikan dengan dokter.
Penanganan Cedera Lebih Lanjut: Non-operatif dan Operatif
dr. Petrasama, Sp.OT (K), Spesialis Ortopedi Konsultan Cedera Olahraga Mayapada Hospital Tangerang, menjelaskan penanganan non-operatif.
Penanganan ini meliputi pemberian obat pereda nyeri dan anti-inflamasi, imobilisasi dengan perban elastis atau penyangga ringan, serta fisioterapi dan rehabilitasi.
Fisioterapi dapat berupa pijat olahraga, stimulasi listrik, ultrasound, terapi gelombang kejut, laser, dan latihan penguatan otot.
Beberapa cedera membutuhkan tindakan operatif, seperti arthroscopy. Arthroscopy merupakan teknik minimal invasif untuk diagnosis dan penanganan masalah di dalam sendi.
dr. Sapto Adji Hardjosworo, Sp.OT (K), Spesialis Ortopedi Konsultan Cedera Olahraga Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa arthroscopy meminimalisir nyeri, risiko infeksi, dan mempercepat pemulihan.
Keputusan untuk melakukan operasi didasarkan pada evaluasi dan diagnosis komprehensif.
Dukungan Mayapada Hospital untuk Pemulihan Cedera
Mayapada Hospital Surabaya menyediakan layanan Medical Check Up (MCU) Runner, pemeriksaan VO2 Max, dan EKG untuk peserta Surabaya Medic Air Run 2025.
Mayapada Hospital juga memiliki Sports Injury Treatment and Performance Center (SITPEC), pusat layanan cedera olahraga berstandar internasional.
SITPEC menawarkan layanan pencegahan cedera, screening, peningkatan performa, penanganan cedera, hingga pemulihan, didukung tim dokter multidisiplin dan fasilitas lengkap.
Konsultasi dengan dokter di SITPEC dapat dijadwalkan melalui aplikasi MyCare. Aplikasi ini juga menyediakan berbagai informasi kesehatan dan fitur pemantauan kesehatan.
Aplikasi MyCare dapat diunduh di Google Play Store atau App Store. Pengguna baru mendapatkan reward poin untuk potongan harga pemeriksaan di Mayapada Hospital.
Dengan meningkatnya popularitas lari maraton, kesadaran akan pencegahan dan penanganan cedera juga perlu ditingkatkan. Informasi yang tepat dan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai sangat krusial bagi para pelari untuk memastikan keamanan dan kenyamanan dalam beraktivitas.





