Belanda tengah menghadapi krisis besar dalam sistem reproduksi medisnya. Lebih dari 80 donor sperma telah terbukti menjadi ayah biologis bagi 25 anak atau lebih, jauh melampaui batas yang diperbolehkan. Hal ini terungkap berkat investigasi NVOG (organisasi ginekologi dan kebidanan nasional Belanda), yang mengungkap pelanggaran aturan donasi sperma selama beberapa dekade.
Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait ribuan anak di Belanda yang mungkin memiliki puluhan saudara tiri tanpa sepengetahuan mereka. Skala permasalahan ini memaksa pemerintah dan lembaga terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan peraturan yang ada.
Pelanggaran Aturan Donasi Sperma di Belanda
Meskipun Belanda telah menetapkan aturan yang membatasi jumlah anak per donor sperma menjadi 12 sejak 2018, aturan ini baru diterapkan sepenuhnya pada April 2024.
Sebelum aturan ini diberlakukan, data donor sperma dikelola per klinik, menyebabkan kurangnya transparansi dan pengawasan. Sejak 2004, daftar nasional donor dan penerima sperma telah dibentuk untuk meningkatkan pengawasan dan mencegah pelanggaran.
Tujuan pembatasan jumlah anak per donor adalah untuk meminimalisir risiko perkawinan sedarah yang tidak disengaja di antara anak-anak yang memiliki ayah biologis yang sama.
Sejarah dan Praktik Donasi Sperma yang Bermasalah
Meskipun batas maksimum anak per donor pernah ditetapkan sebesar 25 sejak tahun 1990-an, pemerintah gagal menegakkan aturan ini karena khawatir hal tersebut akan melanggar privasi para donor.
Larangan donasi sperma anonim pada tahun 2004 seharusnya memperketat pengawasan, namun kenyataannya, beberapa klinik kesuburan tetap melanggar aturan dengan menggunakan sperma dari donor yang sama secara berulang-ulang, melebihi batas yang ditentukan.
Dokumenter Netflix “The Man with 1,000 Kids” menyoroti kasus Jonathan Jacob Meijer, yang diduga menjadi ayah dari sedikitnya 550 anak di seluruh dunia. NVOG kini telah mengidentifikasi setidaknya 85 “donor massal” serupa di Belanda.
Dampak dan Tanggapan atas “Bencana Medis”
NVOG telah meminta maaf atas kegagalan dalam pengawasan dan penegakan aturan donasi sperma. Mereka tengah menyusun daftar nasional retroaktif untuk menelusuri semua donasi dan penerima, memastikan agar sperma dari setiap donor tidak digunakan untuk lebih dari 12 konsepsi.
Ginekolog Marieke Schoonenberg menyatakan bahwa jumlah “donor massal” seharusnya nol. Ia menyesalkan kegagalan sistem yang telah menyebabkan krisis ini.
Ties van der Meer dari Stichting Donorkind, sebuah yayasan yang membantu anak-anak melacak ayah donor mereka, menyebut temuan ini sebagai “bencana medis”.
Ia memperkirakan terdapat sekitar 3.000 anak di Belanda dengan 25 atau lebih saudara tiri. Dampak psikologis dan sosial dari hal ini akan sangat signifikan bagi anak-anak tersebut dan keluarga mereka.
Van der Meer juga menyoroti tantangan praktis yang dihadapi anak-anak ini, khususnya ketika mereka mulai berkencan dan perlu melakukan tes DNA untuk menghindari risiko perkawinan sedarah.
Kepercayaan publik terhadap sistem medis dan pemerintah Belanda terguncang akibat skandal ini. Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah tegas untuk memperbaiki sistem dan mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
Ke depan, transparansi dan akuntabilitas dalam praktik donasi sperma harus ditingkatkan. Pemantauan yang ketat dan penegakan hukum yang tegas sangat penting untuk melindungi hak dan kesejahteraan anak-anak yang lahir dari donasi sperma.





