Bersin, reaksi refleks tubuh yang tiba-tiba dan terkadang tak terduga, lebih dari sekadar cara tubuh membersihkan iritasi di hidung atau tenggorokan. Meskipun sering dikaitkan dengan alergi atau flu, bersin ternyata bisa dipicu oleh berbagai faktor yang mungkin mengejutkan Anda. Mari kita telusuri beberapa pemicu bersin yang tidak lazim, dari reaksi terhadap cahaya hingga kenikmatan makan cokelat hitam.
Pemahaman akan pemicu bersin yang beragam ini penting, tidak hanya untuk mengurangi ketidaknyamanan, tetapi juga untuk membantu mengidentifikasi kondisi kesehatan yang mendasarinya. Bersin yang terus-menerus atau disertai gejala lain perlu diperiksakan ke dokter.
1. Lebih dari Sekedar Alergi: Pemicu Bersin yang Tak Terduga
Rinitis alergi seringkali menjadi penyebab bersin yang paling umum, terutama bersin yang intens di pagi hari setelah bangun tidur. Penumpukan alergen selama tidur memicu reaksi ini.
Selain itu, cahaya terang atau sinar matahari juga bisa memicu bersin pada sebagian orang. Kondisi ini, dikenal sebagai refleks bersin fotik atau sindrom ACHOO (Autosomal Dominant Compelling Helio-ophthalmic Outburst Syndrome), bersifat genetik.
Udara dingin juga bisa menjadi pemicu. Embusan udara dingin merangsang saraf trigeminal, yang kemudian memicu refleks bersin.
2. Emosi dan Sensasi: Hubungan Tak Terduga dengan Bersin
Emosi yang kuat, baik itu rasa takut, sedih, gembira, atau frustrasi, dapat memicu perubahan pada selaput hidung. Perubahan ini, baik penyempitan maupun pelebaran, dapat memicu bersin.
Mencabut alis juga bisa menyebabkan bersin. Saraf oftalmik di mata terhubung dengan saraf trigeminal, sehingga stimulasi pada area alis bisa memicu refleks bersin.
Bahkan, beberapa orang melaporkan bersin saat memikirkan atau melakukan aktivitas seksual (“honeymoon rhinitis”). Sistem parasimpatis, yang berperan dalam respons seksual, mungkin terlibat dalam fenomena ini.
3. Makanan dan Minuman: Dari Anggur Merah hingga Cokelat Hitam
Alergi terhadap histamin dalam anggur merah dapat menyebabkan bersin, mata berair, dan hidung meler. Reaksi sistem kekebalan terhadap histamin ini mencoba mengeluarkan zat tersebut dari saluran hidung.
Minuman berkarbonasi juga bisa memicu bersin. Karbon dioksida merangsang reseptor asam lidah, yang mengirimkan sinyal kuat ke otak, memicu respons seperti bersin.
Makan dalam porsi besar (“snatiation”) atau mengonsumsi makanan panas atau pedas (rinitis gustatorik) juga bisa menyebabkan bersin yang tak terkendali. Snatiation diduga bersifat genetik, sementara rinitis gustatorik dipicu oleh saraf hidung yang hipersensitif.
Terakhir, cokelat hitam dengan kadar kakao tinggi (sekitar 70%) juga bisa memicu refleks bersin fotik, mirip dengan reaksi terhadap cahaya terang. Kondisi ini, juga diperkirakan bersifat genetik.
Mandi air panas yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh secara tiba-tiba juga dapat memicu bersin pada sebagian orang. Hal ini karena perubahan suhu mendadak membuat tubuh tidak siap.
Meskipun sebagian besar pemicu bersin ini tidak berbahaya, bersin yang berlebihan atau disertai gejala lain seperti demam, hidung tersumbat parah, atau sesak napas, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memastikan kesehatan Anda tetap terjaga.





