Kekhawatiran mengenai penyebab autisme pada anak seringkali muncul di tengah masyarakat. Berbagai faktor, mulai dari paparan zat kimia hingga kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, kerap dikaitkan dengan gangguan perkembangan saraf ini.
Namun, berdasarkan keterangan para ahli, beberapa anggapan tersebut perlu diluruskan. Salah satu mitos yang perlu dibantah adalah keterkaitan autisme dengan Bisphenol A (BPA).
Autisme: Gangguan Perkembangan Saraf, Bukan Efek BPA
Mutiara S.Psi, MPsi, Psikolog Klinis dan Lead Psikolog di Klinik Rumah Tumbuh Kembang Anak MS School & Wellbeing Center, menegaskan bahwa autisme tidak berkaitan dengan paparan BPA.
Autisme, menurutnya, merupakan gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder) yang berpusat pada masalah pertumbuhan sistem saraf. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hubungan antara BPA dan autisme.
Pendapat serupa disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K), Dokter spesialis anak dan Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Beliau juga menyatakan hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mengaitkan BPA sebagai penyebab autisme.
Anemia Kehamilan: Faktor Risiko Penting Autisme
Meskipun BPA bukan penyebab autisme, faktor lain seperti anemia pada ibu hamil ternyata memiliki peran signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa anemia pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama, meningkatkan risiko gangguan spektrum autisme (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan Intellectual Disability (ID).
Suplementasi zat besi selama kehamilan penting untuk mencegah anemia. Kekurangan zat besi dapat memengaruhi perkembangan neurologis janin.
Penelitian dalam jurnal JAMA Psychiatry (2019) memperkuat temuan ini, menunjukkan korelasi kuat antara anemia trimester pertama dan peningkatan risiko autisme pada anak.
Penelitian Mendalam: Anemia dan Risiko Gangguan Neurodevelopmental
Sebuah studi besar melibatkan 532.232 subjek usia 6-29 tahun dan 299.768 ibu dengan riwayat medis lengkap selama kehamilan.
Hasilnya menunjukkan 5,8% ibu mengalami anemia selama kehamilan. Anemia pada trimester pertama dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan rendah, keduanya merupakan faktor risiko autisme.
Studi ini juga menemukan bahwa anemia lebih sering terjadi pada ibu dengan kondisi tertentu, seperti obesitas, usia kehamilan di atas 40 tahun, riwayat gangguan jiwa, kehamilan pertama, dan jarak kehamilan lebih dari 5 tahun.
Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya skrining status zat besi dan memastikan asupan zat besi yang cukup bagi wanita usia reproduksi untuk mengurangi risiko anemia dan gangguan perkembangan neurologis pada anak.
Memahami penyebab autisme merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan dan penanganan. Meskipun BPA terbukti tidak terkait, pencegahan anemia melalui asupan zat besi yang cukup selama kehamilan menjadi fokus penting untuk mengurangi risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.
Lebih lanjut, penelitian berkelanjutan dibutuhkan untuk mengungkap faktor-faktor risiko lain dan mekanisme yang mendasari perkembangan autisme.





