Gelaran Formula 1 Grand Prix di Miami, Amerika Serikat, baru saja berakhir. Namun, euforia balapan dibayangi oleh keluhan banyak penonton terkait harga makanan yang terlampau tinggi di sekitar sirkuit.
Kehadiran event internasional seperti Formula 1 memang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian daerah, menarik wisatawan, dan memberikan dampak positif bagi UMKM lokal, khususnya sektor kuliner. Sayangnya, realita di Miami menunjukkan sisi lain dari penyelenggaraan event berskala besar ini.
Harga Makanan Selangit di Sirkuit Formula 1 Miami
Sejumlah laporan, termasuk dari The Sun (4/5), menyoroti harga makanan dan minuman yang tidak masuk akal di sekitar Hard Rock Stadium, lokasi penyelenggaraan Grand Prix. Bukan hanya penonton biasa, bahkan fotografer resmi Formula 1 pun ikut mengeluhkannya.
Kym Ilman, seorang fotografer, mengungkapkan keheranannya terhadap lonjakan harga yang menurutnya jauh di luar batas kewajaran. Ia membandingkan harga tahun ini dengan tiga event Formula 1 sebelumnya di tahun 2025.
Ilman memperlihatkan daftar harga yang mengejutkan. Sebuah pizza dibanderol dengan harga Rp 263.000 hingga Rp 296.000. Seporsi pasta mencapai Rp 411.000, dan pizza keju dijual seharga Rp 362.000.
Harga cumi goreng tepung pun mencapai Rp 378.000 per porsi, dianggap terlalu mahal untuk ukuran porsi yang hanya sebatas camilan. Sandwich kalkun menjadi pilihan yang “paling masuk akal” dengan harga Rp 296.000, sementara sandwich daging mencapai Rp 494.000, dan sandwich keju Rp 230.000.
Lonjakan Harga Minuman yang Tak Kalah Mengkhawatirkan
Bukan hanya makanan, harga minuman pun mengalami kenaikan signifikan. Sebuah kaleng bir lokal dijual hingga Rp 200.000 selama Grand Prix, jauh di atas harga normal yang berkisar antara Rp 74.000 hingga Rp 160.000.
Air mineral ukuran 600 mililiter dipatok seharga hampir Rp 100.000, sementara harga normal untuk air mineral 1 liter berkisar Rp 50.000. Kenaikan harga yang drastis ini menimbulkan keresahan di kalangan penonton.
Dampak Jangka Panjang dan Kontrak Formula 1 hingga 2041
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Hard Rock Stadium telah menandatangani kontrak dengan Formula 1 hingga tahun 2041. Hal ini mengindikasikan potensi kenaikan harga makanan dan minuman yang berkelanjutan di area tersebut.
Laporan dari beberapa individu yang masih berada di sekitar sirkuit dua hari setelah acara mengungkapkan bahwa harga-harga tersebut belum kembali normal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap masyarakat sekitar.
Kesimpulannya, walaupun event Formula 1 diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian, kasus di Miami menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek manajemen harga dan menjaga keseimbangan antara kepentingan penyelenggara, pengunjung, dan masyarakat setempat. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggaraan event serupa di masa mendatang.





