Drama Korea “When Life Gives You Tangerine” yang dibintangi IU dan Park Bo Geum tengah menjadi perbincangan hangat. Salah satu adegan yang menarik perhatian adalah sajian nasi putih dicampur kacang polong.
Adegan tersebut memicu rasa penasaran penonton mengenai kebiasaan makan nasi dengan kacang polong di Korea Selatan. Ternyata, di baliknya tersimpan beberapa fakta menarik yang berkaitan dengan sejarah dan budaya negeri ginseng tersebut.
Budaya Makan Nasi di Korea Selatan dan Hubungannya dengan Jepang
Korea Selatan memiliki budaya makan nasi yang kuat, dipengaruhi erat oleh Jepang. Sekitar tahun 1920-an, kedua negara bekerja sama mengatasi kelangkaan beras.
Setelah Jepang pulih dari krisis beras, Korea justru mengalami kesulitan pasca Perang Dunia II. Jepang kemudian membantu dengan mengimpor jagung, sorgum, kacang-kacangan, dan millet untuk membantu Korea.
Imigrasi dan Ketersediaan Kacang-Kacangan
Sejak abad ke-15, imigran dari Manchuria Selatan telah membawa berbagai kacang-kacangan ke Korea. Bahan makanan ini pun tak asing dan sudah lama menjadi bagian dari masakan Korea.
Ketersediaan kacang-kacangan ini, terutama kacang polong, menjadi kunci penting dalam bertahan hidup selama masa-masa sulit, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.
Nasi Campur Kacang Polong: Makanan Masa Perang
Pada Perang Dunia II, kacang polong melimpah di Korea. Kebanyakan rumah tangga memiliki persediaan kacang-kacangan sendiri.
Keluarga yang ditinggal anggota keluarganya yang berperang harus berhemat dan mencari cara agar tetap bisa makan. Barter menjadi cara umum untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Mencari Solusi di Tengah Krisis
Keterbatasan ekonomi akibat krisis memaksa masyarakat melakukan barter, terutama penduduk pesisir yang menukar hasil laut dengan bahan makanan lainnya. Ini menjadi strategi bertahan hidup di tengah kesulitan.
Campuran nasi dan kacang polong pun menjadi solusi praktis dan terjangkau untuk mengatasi kekurangan pangan saat itu.
Warisan Budaya dan Adaptasi Kuliner
Penggunaan kacang polong dalam masakan Korea Selatan berakar pada masa lalu yang sulit. Ini menjadi bukti adaptasi dan daya tahan masyarakat Korea.
Kini, meski kondisi telah membaik, sajian nasi campur kacang polong tetap menjadi bagian dari sejarah kuliner dan budaya Korea Selatan, mengingatkan akan masa-masa sulit sekaligus ketahanan masyarakatnya.
Lebih dari sekedar sajian makanan dalam drama, nasi campur kacang polong merepresentasikan resiliensi dan kreativitas masyarakat Korea dalam menghadapi tantangan. Sajian sederhana ini menyimpan kisah panjang sejarah dan budaya yang kaya.





