Seorang pelanggan di Singapura mengalami kejadian mengejutkan setelah memesan daging cincang Black Angus melalui platform e-commerce Shopee dari supermarket Master Grocer.
Saat memasak daging tersebut, ia menemukan potongan plastik di dalamnya, memicu kekhawatiran dan tuntutan ganti rugi.
Plastik dalam Daging Angus: Kekecewaan Pelanggan dan Respon Supermarket
Pelanggan memesan 500 gram daging cincang Black Angus bersamaan dengan beberapa produk lainnya.
Setelah menemukan plastik dalam daging yang telah dimasaknya, pelanggan langsung menghubungi Master Grocer.
Namun, respon supermarket justru meminta pengembalian daging sebagai prasyarat pengembalian uang.
Supermarket hanya menawarkan pengembalian uang sebesar 7 SGD (sekitar Rp 86.410), jauh dari harapan pelanggan.
Ketidakpuasan Pelanggan atas Kompensasi yang Ditawarkan
Pelanggan merasa kompensasi tersebut tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang dialaminya akibat mengonsumsi daging yang terkontaminasi plastik.
Ia menilai tanggapan supermarket tidak tulus dan hanya berfokus pada kebijakan Shopee, tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan pangan.
Kekecewaan ini mendorong pelanggan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Singapore Food Agency (SFA).
Klarifikasi dan Penyelidikan dari Master Grocer
Pihak Master Grocer menjelaskan kebijakan perusahaan terkait klaim produk, menekankan prosedur pengembalian dana melalui Shopee.
Supermarket menawarkan pengembalian dana penuh jika seluruh pesanan dikembalikan untuk investigasi lebih lanjut.
Mereka mengklaim kesulitan memproses pengembalian dana penuh secara langsung karena transaksi melalui Shopee, dan pelanggan menolak pengembalian sebagian.
Master Grocer menyatakan niat baik mereka, namun tetap berpegang teguh pada prosedur perusahaan.
Investigasi SFA dan Tindakan Hukum
Setelah laporan ke SFA, pelanggan menerima email pemberitahuan hasil investigasi pada 22 Maret.
Investigasi menemukan adanya kelalaian dalam keamanan pangan, dan SFA akan menindak pemegang izin.
Kasus ini berujung pada pengembalian dana penuh kepada pelanggan karena kesalahan terbukti ada pada pihak supermarket.
Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan di supermarket, khususnya dalam penjualan online. Kejadian ini juga mengingatkan kita akan pentingnya melaporkan masalah serupa kepada otoritas terkait untuk melindungi konsumen dan memastikan praktik bisnis yang bertanggung jawab.





