Obesitas menjadi masalah kesehatan serius, dikaitkan dengan berbagai penyakit seperti diabetes dan jantung. Namun, pencegahannya bisa dilakukan dengan cara sederhana dan murah, salah satunya dengan makan lebih perlahan.
Makan Perlahan: Strategi Murah dan Efektif Cegah Obesitas
Penelitian dari Fujita Health University, Jepang, menemukan korelasi antara kecepatan makan dan risiko obesitas. Studi ini diterbitkan dalam jurnal *Nutrients* edisi Maret 2025.
Para peneliti, dipimpin Profesor Katsumi Iizuka, meneliti faktor-faktor di luar pilihan makanan yang mempengaruhi obesitas. Mereka memperhatikan kebiasaan makan, termasuk durasi dan cara mengunyah.
Studi Membandingkan Pola Makan Pria dan Wanita
Penelitian melibatkan 33 partisipan sehat berusia 20-65 tahun yang diberi tugas memakan sepotong pizza. Durasi makan, jumlah kunyahan, dan gigitan diukur, juga pengaruh ritme metronom.
Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan antara pria dan wanita. Wanita cenderung makan lebih lambat (rata-rata 87 detik) dibanding pria (63 detik), mengunyah lebih banyak (107 vs 80), dan menggigit lebih sering (4,5 vs 2,1).
Meskipun tempo mengunyah hampir sama, durasi makan lebih panjang berkorelasi dengan jumlah kunyahan dan gigitan, bukan indeks massa tubuh atau tempo makan rata-rata.
Pengaruh Ritme Metronom Terhadap Durasi Makan
Penggunaan metronom lambat (40 ketukan per menit) secara signifikan meningkatkan durasi makan pada partisipan. Ini menunjukkan bahwa pengaturan ritme makan dapat mempengaruhi kebiasaan makan.
Kesimpulannya, memperlambat kecepatan makan terbukti efektif dalam mengurangi risiko obesitas. Metode ini mudah diterapkan dan tanpa biaya tambahan.
Rekomendasi untuk Mencegah Obesitas Melalui Perilaku Makan
Profesor Iizuka menyarankan agar program makan siang sekolah dan program kesehatan lainnya menyertakan edukasi tentang perilaku makan yang tepat. Ini penting untuk pencegahan penyakit terkait obesitas.
Selain menambah jumlah kunyahan dan mengurangi ukuran gigitan, memilih tempat makan yang tenang juga direkomendasikan untuk menciptakan suasana yang mendukung makan perlahan.
Meskipun penelitian ini menggunakan pizza sebagai objek studi, temuan ini memberikan bukti kuat bahwa perilaku makan, di samping nutrisi makanan, berperan penting dalam pencegahan obesitas. Strategi sederhana dan efektif ini patut dipertimbangkan untuk kesehatan yang lebih baik.
Penelitian selanjutnya perlu memperluas jenis makanan yang diteliti untuk memastikan hasil yang lebih komprehensif. Namun, penelitian ini telah memberikan wawasan berharga tentang bagaimana perubahan perilaku makan yang sederhana dapat berkontribusi pada pencegahan obesitas tanpa memerlukan biaya atau usaha yang berlebihan.





