Sebuah restoran di Shanghai, China, menawarkan menu setengah ekor ayam rebus dengan harga fantastis: Rp 1.097.000. Harga selangit ini memicu perbincangan hangat di dunia maya, khususnya setelah seorang influencer membagikan pengalamannya.
Ayam Rebus Rp 1 Juta: Kemewahan di Balik Harga Fantastis
Influencer tersebut memesan menu “three-yellow chicken,” ayam rebus setengah ekor yang ukurannya terbilang kecil. Harga yang tak masuk akal dibandingkan dengan ukurannya membuat banyak orang penasaran.
Pihak restoran menjelaskan harga mahal tersebut disebabkan oleh metode pemeliharaan ayam yang unik dan eksklusif. Ayam-ayam ini tidak diberi pakan biji-bijian biasa.
Pakan dan Musik Klasik: Rahasia Ayam Three-Yellow Chicken
Sebagai pengganti biji-bijian, ayam-ayam ini diberi susu dan sari ekstrak batang bunga matahari serta kepala bunga yang layu. Mereka juga dipelihara dengan diiringi musik selama masa pertumbuhan.
Kombinasi pakan khusus dan musik klasik ini diklaim dapat menghasilkan tekstur daging yang lebih lembut dan cita rasa yang lebih unik. Proses pemeliharaan inilah yang menjadi pembeda utama ayam three-yellow chicken.
Asal Usul dan Popularitas Ayam Three-Yellow Chicken
Ayam three-yellow chicken, atau juga dikenal sebagai ayam kaisar, berasal dari peternakan di provinsi Guangdong, Tiongkok selatan. Nama “three-yellow” merujuk pada warna kuning pada paruh, kulit, dan kakinya.
Ayam ini sangat populer di kalangan koki berbintang Michelin karena teksturnya yang lembut dan cita rasa yang khas. Oleh karena itu, ayam ini umumnya dimasak secara utuh.
Harga ayam ini umumnya mencapai Rp 457.000 per kilogram, dan jika dijual utuh, harganya bisa mencapai Rp 2,3 juta. Hal ini menunjukkan betapa eksklusifnya menu yang ditawarkan restoran tersebut.
Reaksi Netizen: Antara Takjub dan Sarkasme
Unggahan influencer tersebut langsung dibanjiri komentar netizen. Banyak yang memberikan komentar sarkastik dan tidak percaya dengan penjelasan restoran.
Beberapa netizen bahkan bercanda dengan membandingkan harga tersebut dengan ayam-ayam biasa, dan membayangkan berapa harga ayam mereka jika dipelihara dengan metode serupa.
Perdebatan mengenai harga dan metode pemeliharaan ayam ini menunjukkan betapa beragamnya persepsi konsumen terhadap produk makanan mewah. Beberapa orang menganggapnya sepadan dengan kualitas dan keunikannya, sementara yang lain menganggapnya terlalu mahal.
Kesimpulannya, fenomena ayam rebus seharga Rp 1 juta ini bukan hanya sekadar menu makanan, tetapi juga cerminan dari tren kuliner eksklusif dan persepsi konsumen terhadap kemewahan. Harga yang fantastis tersebut memicu diskusi menarik tentang nilai, kualitas, dan pemasaran di industri kuliner.





