Lebaran di Indonesia dirayakan dengan beragam hidangan unik khas daerah. Di Lampung, misalnya, terdapat ketopat lonan yang berbeda dari ketupat pada umumnya.
Ketopat Lonan: Ketupat Khas Lampung yang Terancam Hilang
Ketopat lonan, atau yang oleh masyarakat Lampung disebut juga ketupat, memiliki keunikan tersendiri. Ia dibungkus bukan dengan janur, melainkan dengan kain belacu.
Proses pembuatannya pun unik. Kain belacu dipotong dan dijahit membentuk kantong. Beras yang telah dicuci dengan tambahan air kapur, lalu dimasukkan setengah bagian ke dalam kantong tersebut.
Kantong kemudian dijahit rapat. Ketopat lonan direbus setengah matang, lalu airnya dibuang dengan cara memukul-mukul kain pembungkus menggunakan punggung sendok.
Setelah itu, ketopat direbus kembali hingga matang. Sayangnya, ketopat lonan kini semakin sulit ditemukan karena kain belacu sebagai pembungkusnya semakin langka.
Mencari Kain Belacu untuk Tradisi
Ketersediaan kain belacu menjadi kendala utama kelestarian ketopat lonan. Minimnya produsen kain belacu membuat bahan baku ini sulit didapatkan.
Cupil: Sajian Lebaran Khas Lampung Berbentuk Unik
Selain ketopat lonan, Lampung juga terkenal dengan cupil, atau yang disebut juga leppot. Cupil dibungkus anyaman daun kelapa, namun bentuknya memanjang dan berbeda dengan ketupat.
Bahan utamanya adalah beras ketan yang dicampur sedikit biji kacang panjang. Bentuknya yang khas menyerupai tanduk kerbau atau ikat kepala perempuan Minangkabau pada salah satu ujungnya.
Proses pembuatan cupil membutuhkan waktu perebusan yang cukup lama, sekitar 11 jam. Api dan jumlah air dalam dandang harus dijaga agar hasilnya sempurna.
Cupil yang matang memiliki tekstur padat dan kenyal. Rasanya tawar, khas beras ketan, dengan tekstur pulen dan kenyal.
Cita Rasa dan Cara Penyajian Cupil
Berbeda dengan ketupat yang biasa disantap dengan opor atau sayur gurih, cupil lebih nikmat dinikmati bersama rendang daging kerbau atau sapi.
Namun, kini banyak pula yang memadukannya dengan rendang daging, ayam, jengkol, pindang ikan, gulai ikan, dan tempoyak. Daerah Tanggamus dan Pesawaran dikenal sebagai penghasil cupil terbesar di Lampung.
Melestarikan Kuliner Tradisional Lampung
Ketopat lonan dan cupil merupakan warisan kuliner yang perlu dilestarikan. Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan mensosialisasikannya kepada generasi muda.
Peningkatan produksi kain belacu juga perlu dilakukan agar ketopat lonan tetap dapat dinikmati. Selain itu, dokumentasi proses pembuatan kedua makanan ini penting untuk menjaga kelangsungannya.
Dengan upaya bersama, ketopat lonan dan cupil dapat tetap menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia dan tetap dihidangkan di meja makan saat Lebaran di Lampung. Keunikan kedua makanan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan kuliner.





