Seorang CEO restoran hotpot terkenal di China, Du Zhongbong, menuai kecaman dan boikot besar-besaran setelah pernyataannya yang kontroversial viral di media sosial.
Pernyataan tersebut dinilai merendahkan dan tidak sensitif terhadap masyarakat berpenghasilan rendah.
CEO Banu Maodu Picu Kontroversi
Du Zhongbong, pendiri jaringan restoran hotpot Banu Maodu, menyatakan bahwa hotpot bukanlah makanan untuk orang miskin.
Ia bahkan menetapkan batasan pendapatan minimal 5.000 Yuan (sekitar Rp 11,4 juta) sebagai syarat untuk menikmati hidangan di restorannya.
Pernyataan yang Memicu Amarah Publik
Pernyataan Du tersebut langsung menuai kecaman luas di media sosial China.
Banyak netizen menganggap pernyataannya sebagai bentuk penghinaan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah dan ketidakpekaan sosial.
Boikot Massal dan Penurunan Omzet
Akibat kontroversi ini, restoran Banu Maodu mengalami boikot massal dari netizen.
Hal ini berdampak langsung pada penurunan omzet yang signifikan di beberapa cabang restoran tersebut.
Klarifikasi yang Tak Membuahkan Hasil
Dua hari setelah pernyataannya viral, Du Zhongbong mencoba melakukan klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf.
Namun, klarifikasinya dianggap bertele-tele dan tidak cukup menenangkan amarah publik yang sudah meluap.
Penjelasan yang Dianggap Berkelit
Du menjelaskan bahwa pernyataannya dilontarkan dalam konteks mendidik anaknya tentang pentingnya menabung dan tidak boros.
Penjelasan ini justru dianggap sebagai pembenaran yang tidak masuk akal dan semakin memperburuk citranya.
Dampak Sosial dan Analisis Media
Insiden ini menimbulkan perdebatan luas tentang aksesibilitas makanan dan kesenjangan ekonomi di China.
Banyak media lokal turut menyoroti pernyataan Du, bahkan mempertanyakan status hotpot sebagai makanan mewah.
Hotpot: Lebih dari Sekadar Makanan Mewah
Oriental Today, misalnya, menekankan asal-usul hotpot sebagai makanan sederhana yang dinikmati pekerja kelas menengah ke bawah.
Media ini menggambarkan hotpot sebagai simbol kebersamaan dan kehangatan, bukan simbol status sosial tertentu.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para pebisnis untuk selalu berhati-hati dalam berbicara dan menjaga etika komunikasi, khususnya di era media sosial yang sangat berpengaruh.
Pernyataan yang tidak sensitif dapat berdampak buruk, bahkan menghancurkan reputasi dan bisnis seseorang.





