Segelas es jeruk nipis seharga Rp 36.000? Kejadian ini menarik perhatian netizen di media sosial, khususnya setelah diunggah di TikTok.
Es Jeruk Nipis Mahal di Bazar Ramadan Malaysia
Seorang netizen di Malaysia membagikan pengalamannya membeli es jeruk nipis seharga RM 10 (sekitar Rp 36.951) di sebuah bazar Ramadan di Jalan Tunku Abdul Rahman, Kuala Lumpur.
Minuman yang disebut ‘limau asam boi’ ini tampak sederhana, bahkan terkesan biasa saja. Tidak ada tambahan seperti jelly atau hiasan lainnya.
Reaksi Netizen dan Harga yang Tidak Transparan
Netizen tersebut merasa kecewa dengan harga yang terbilang mahal untuk segelas es jeruk nipis biasa. Ia bahkan mengaku penjual tidak menyebutkan harga sebelum menuangkan minuman tersebut.
Setelah minuman tertuang, baru penjual menyebutkan harga RM 10. Netizen tersebut terpaksa membayar karena khawatir terjadi konflik.
Kekecewaan ini dituangkannya dalam sebuah video TikTok yang viral, dengan caption “Jual minuman ini bisa naik haji. Harganya Rp 36 Ribu 1 gelas. Ini di penjual di Jalan TAR.”
Tuduhan Penggunaan Air Ledeng dan Laporan ke Pihak Berwenang
Video tersebut memicu berbagai komentar dan reaksi dari netizen lain. Beberapa netizen bahkan menuding pedagang di daerah tersebut menggunakan air ledeng untuk membuat minuman.
Tuduhan ini cukup serius karena berpotensi melanggar peraturan keamanan pangan. Hal ini mendorong beberapa netizen yang memiliki pengalaman serupa untuk melaporkan kejadian ini.
Setidaknya empat aduan pelanggan telah diajukan kepada Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Biaya Hidup Kuala Lumpur (KPDNWPKL), termasuk video terkait es jeruk nipis yang viral.
Dampak dan Implikasi Harga Takjil di Bazar Ramadan
Kejadian ini menyoroti pentingnya transparansi harga dan kualitas makanan dan minuman yang dijual di bazar Ramadan.
Kejadian ini juga menggarisbawahi perlunya pengawasan dan regulasi yang lebih ketat untuk memastikan keamanan dan kepuasan konsumen.
Insiden ini menjadi pengingat bagi para pedagang untuk menjaga etika berdagang dan memastikan harga yang ditawarkan sebanding dengan kualitas produk yang dijual. Konsumen juga diharapkan untuk lebih teliti dan berani bertanya sebelum membeli.
Kejadian ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait, baik penjual maupun pembeli, serta mendorong peningkatan kualitas dan transparansi di bazar Ramadan mendatang.





